Beritakan Injil Wajib Hukumnya
Beritakan Injil
Wajib Hukumnya
“Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk
memegahkan diri. Sebab itu
adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” (1
Korintus 9:16).
Pada tahun 1862, seorang misionaris Jerman bernama Ludwig Ingwer Nommensen tiba di tanah Batak. Perjalanannya bukan perjalanan yang mudah. Ia menghadapi penolakan, ancaman, bahasa yang berbeda, bahkan kondisi alam yang keras. Namun Nommensen tetap memberitakan Injil Kristus dengan tekun. Ia tinggal bersama masyarakat Batak, belajar bahasa mereka, memahami budaya mereka, dan melayani dengan kasih.
Suatu hari, ketika terjadi wabah penyakit dan banyak orang ketakutan, Nommensen tetap hadir menolong masyarakat. Ia bukan hanya berkhotbah di mimbar, tetapi menunjukkan kasih Kristus dalam tindakan nyata. Dari pelayanan yang sederhana namun setia itu, banyak orang mulai mengenal Yesus Kristus. Hingga hari ini, pengaruh pemberitaan Injil di tanah Batak masih dapat dirasakan.
Rasul Paulus dalam 1 Korintus 9:16 berkata bahwa memberitakan Injil adalah “keharusan.” Kata itu menunjukkan sebuah panggilan yang tidak bisa diabaikan. Paulus tidak melihat penginjilan sebagai pilihan tambahan bagi orang percaya, melainkan tanggung jawab utama. Injil bukan untuk disimpan sendiri seperti file rahasia negara. Injil harus dibagikan karena Injil adalah kabar keselamatan bagi dunia yang sedang binasa.
Banyak orang Kristen berpikir bahwa memberitakan Injil hanya tugas pendeta, penginjil, atau misionaris. Padahal setiap orang percaya dipanggil menjadi saksi Kristus. Tidak semua orang berkhotbah di stadion, tetapi semua orang bisa menjadi terang di tempatnya masing-masing. Dunia saat ini dipenuhi orang yang kehilangan harapan, hidup dalam dosa, ketakutan, dan kehampaan. Karena itu, Injil tetap relevan dan sangat dibutuhkan.
Ada tiga aplikasi praktis yang dapat kita lakukan, yaitu:
Pertama,
mulailah dari keluarga sendiri. Beritakan Injil melalui perkataan dan teladan hidup. Jangan sampai kita aktif melayani di
gereja tetapi keluarga sendiri tidak melihat Kristus dalam hidup kita.
Kedua,
gunakan media sosial untuk memberitakan kebenaran. Di era digital, satu
unggahan rohani dapat menjangkau banyak orang. Gunakan teknologi bukan hanya
untuk hiburan, tetapi juga untuk menjadi alat penginjilan.
Ketiga, miliki keberanian untuk bersaksi. Jangan malu mengakui Kristus di sekolah, kampus, tempat kerja, maupun lingkungan sekitar. Sering kali satu kalimat kesaksian sederhana dapat dipakai Tuhan untuk menyentuh hati seseorang.
Memberitakan Injil memang tidak selalu mudah. Akan ada penolakan, ejekan, bahkan tantangan. Tetapi ingat, keselamatan jiwa jauh lebih berharga daripada kenyamanan pribadi. Paulus berkata, “Celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil.” Biarlah semangat itu juga hidup dalam hati kita hari ini.
Doa:
Tuhan Allah yang penuh kasih, terima kasih untuk Injil keselamatan yang telah menyelamatkan hidup kami. Berikan kami hati yang terbeban bagi jiwa-jiwa yang belum mengenal Engkau. Pakailah hidup kami menjadi alat-Mu untuk memberitakan kebenaran-Mu di mana pun kami berada. Beri kami keberanian, kasih, dan kesetiaan untuk menjadi saksi Kristus sampai akhir hidup kami. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.🙏
.png)
Post a Comment for "Beritakan Injil Wajib Hukumnya"