Religius Tapi Tidak Relasional: Iman atau Sekadar Rutinitas?
Religius Tapi Tidak Relasional: Iman atau Sekadar
Rutinitas?
Fenomena kehidupan beragama pada masa kini menunjukkan sebuah paradoks yang mencolok. Di satu sisi, aktivitas keagamaan semakin semarak: ibadah berlangsung rutin, pelayanan gerejawi terus berjalan, doa dan pembacaan firman dilakukan secara teratur. Namun di sisi lain, tidak sedikit orang percaya yang mengalami kekosongan rohani, kelelahan iman, bahkan kehilangan kepekaan spiritual. Agama dijalani, tetapi Allah terasa jauh. Ibadah dilakukan, tetapi hati tidak disentuh. Inilah gejala iman yang religius tetapi tidak relasional.
Yesus sendiri telah mengingatkan bahwa bahaya terbesar kehidupan beragama bukanlah kurangnya aktivitas rohani, melainkan kehidupan iman yang kehilangan relasi. Relasi dengan Allah tidak dapat direduksi menjadi sekadar rutinitas liturgis atau kewajiban moral. Kekristenan pada hakikatnya bukan sistem ritual, melainkan hubungan hidup antara Allah dan manusia. Oleh sebab itu, refleksi kritis atas religiusitas menjadi kebutuhan mendesak bagi orang percaya di era modern.
Materi ini mengajak kita menelaah secara mendalam tiga hal penting:
(1) membedakan religiusitas eksternal dan relasi iman yang hidup,
(2) mengevaluasi praktik keagamaan secara jujur, dan
(3) menggeser iman dari rutinitas mekanis menuju relasi yang transformatif
dengan Allah.
I. Membedakan Religiusitas Eksternal dan Relasi
Iman yang Hidup
1. Religiusitas sebagai Ekspresi Lahiriah
Religiusitas pada dasarnya tidaklah salah. Ia merupakan ekspresi iman yang tampak secara lahiriah melalui ibadah, doa, puasa, pelayanan, dan berbagai simbol keagamaan. Namun, persoalan muncul ketika religiusitas berhenti pada tataran formal dan tidak berakar pada relasi batiniah dengan Allah. Nabi Yesaya menegur umat Israel dengan keras: “Bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku” (Yesaya 29:13). Yesus mengutip ayat ini untuk mengecam praktik keagamaan orang Farisi yang tampak saleh, tetapi kehilangan keintiman dengan Allah (Matius 15:8–9). Teguran ini menunjukkan bahwa religiusitas eksternal dapat berlangsung tanpa keterlibatan hati.
Stephen Tong menegaskan bahwa religiusitas tanpa relasi akan menghasilkan iman yang kering. Ia menyatakan bahwa ibadah yang sejati tidak diukur dari seberapa sering manusia datang ke gereja, melainkan seberapa dalam manusia hidup di hadapan Allah. Iman yang sejati selalu bersifat personal dan relasional, bukan sekadar struktural dan ritualistik.
2. Relasi Iman sebagai Inti Kekristenan
Relasi iman yang hidup berakar pada pengenalan akan Allah yang personal. Kekristenan bukan sekadar “percaya kepada” doktrin, tetapi “hidup bersama” Allah. Relasi ini mencakup komunikasi dua arah, ketaatan, kepekaan terhadap kehendak Tuhan, dan transformasi hidup.
Yesus berkata: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak” (Yohanes 15:5). Ayat ini menegaskan bahwa kehidupan iman yang sejati hanya mungkin terjadi dalam relasi yang terus-menerus dengan Kristus. Tanpa relasi tersebut, aktivitas rohani kehilangan daya hidupnya.
Dallas Willard, dalam pemikiran yang diterjemahkan luas ke dalam bahasa Indonesia, menekankan bahwa spiritualitas Kristen bukanlah pengelolaan perilaku religius, melainkan pembentukan kehidupan yang hidup di dalam hadirat Allah. Relasi dengan Allah bukan pelengkap iman, tetapi esensinya.
II. Mengevaluasi
Praktik Keagamaan Secara Jujur
1. Bahaya
Rutinitas Tanpa Refleksi
Rutinitas rohani sering kali memberi rasa aman palsu. Seseorang merasa rohaninya baik karena melakukan kewajiban agama, padahal hatinya tidak lagi peka terhadap suara Tuhan. Rutinitas yang tidak disertai refleksi dapat berubah menjadi mekanisme kosong.
Yesus memberikan peringatan keras kepada jemaat di Laodikia: “Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas… karena engkau suam-suam kuku” (Wahyu 3:15–16). Iman yang suam-suam kuku bukan berarti tidak beriman, melainkan iman yang kehilangan gairah relasional. Jemaat tetap beraktivitas, tetapi tanpa kehangatan kasih kepada Allah.
Menurut Yewangoe, iman Kristen yang tidak direfleksikan secara kritis akan mudah terjebak dalam formalitas. Ia menekankan pentingnya refleksi teologis yang jujur agar iman tidak berubah menjadi tradisi mati yang diwariskan tanpa penghayatan.
2. Kejujuran di Hadapan Allah
Evaluasi iman yang sejati dimulai dari kejujuran di hadapan Allah.
Mazmur 139:23–24 mengungkapkan doa reflektif yang mendalam:
“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku; ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku.” Doa ini bukan doa religius yang indah, melainkan doa yang berani membuka diri di hadapan Allah. Kejujuran rohani menuntut keberanian untuk mengakui kekeringan, kelelahan, bahkan kemunafikan iman.
Dietrich Bonhoeffer, yang banyak karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, menyatakan bahwa iman yang tidak jujur akan menghasilkan kekristenan murahan. Kekristenan sejati menuntut keterbukaan hati dan kesediaan untuk ditegur oleh firman Tuhan.
III. Menggeser Iman dari Rutinitas Mekanis ke
Relasi Transformatif dengan Allah
1. Dari Kewajiban Menuju Kehadiran
Relasi dengan Allah bukan dibangun melalui kewajiban, melainkan melalui kehadiran. Allah tidak terutama mencari aktivitas manusia, tetapi hati yang hadir di hadapan-Nya.
Pemazmur menuliskan: “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang remuk redam tidak akan Kaupandang hina” (Mazmur 51:19). Ayat ini menunjukkan bahwa Allah lebih berkenan pada sikap hati daripada performa religius. Relasi yang transformatif lahir ketika manusia datang kepada Allah dengan kerendahan hati dan ketergantungan penuh.
Menurut Jürgen Moltmann, iman Kristen yang hidup selalu bersifat relasional dan dinamis. Allah tidak dijumpai dalam rutinitas yang kaku, melainkan dalam relasi yang terus diperbarui oleh Roh Kudus. Relasi ini mengubah cara manusia memandang diri, sesama, dan dunia.
2. Transformasi sebagai Buah
Relasi
Relasi iman yang sejati selalu menghasilkan transformasi. Bukan sekadar perubahan perilaku luar, tetapi pembaruan hati, pola pikir, dan orientasi hidup. Rasul Paulus menegaskan: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu” (Roma 12:2). Transformasi bukan hasil usaha religius semata, melainkan buah dari relasi yang intim dengan Allah. Ketika iman berhenti pada rutinitas, transformasi berhenti. Tetapi ketika iman hidup dalam relasi, perubahan menjadi keniscayaan.
Menurut Eka Darmaputera, iman Kristen yang sejati selalu berdampak etis dan sosial. Relasi dengan Allah tidak hanya mengubah hubungan vertikal, tetapi juga relasi horizontal dengan sesama.
Religiusitas tanpa relasi menghasilkan iman yang kering, rapuh, dan mudah goyah. Sebaliknya, relasi iman yang hidup melahirkan kekristenan yang autentik, transformatif, dan relevan. Tuhan tidak memanggil umat-Nya menjadi sekadar pelaku ritual, melainkan menjadi anak-anak yang hidup dalam persekutuan dengan-Nya.
Pertanyaan reflektif yang perlu kita renungkan adalah: Apakah iman kita masih hidup dalam relasi, atau hanya bertahan dalam rutinitas? Kiranya setiap praktik keagamaan yang kita jalani tidak berhenti pada kewajiban, tetapi menjadi jalan perjumpaan yang memperbarui hidup kita di hadapan Allah.

Post a Comment for "Religius Tapi Tidak Relasional: Iman atau Sekadar Rutinitas?"