Hati Yang Taat Lebih Berharga Dari Segalanya
Hati yang Taat Lebih Berharga dari Segalanya ~ Landasan firman Tuhan untuk tema hati yang taat lebih berharga dari segalanya, diambil dari kitab 1 Samuel. Demikianlah sabda firman Tuhan, “Tetapi Samuel menjawab: ‘Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan, sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba” (1 Samuel 15:22).
Seorang ayah pernah bercerita tentang anaknya yang rajin membantu di rumah. Ia selalu cepat membersihkan kamar, mencuci piring, bahkan membantu adik belajar. Namun ada satu masalah: anak ini sering mengerjakan semua itu dengan caranya sendiri, mengabaikan instruksi sederhana dari ayahnya. Suatu hari, sang ayah hanya meminta satu hal kecil—jangan bermain gawai sebelum belajar selesai. Anak itu tetap membantu banyak hal, tetapi melanggar satu instruksi tersebut. Dengan lembut sang ayah berkata, “Ayah senang kamu rajin, tapi ayah lebih senang kalau kamu mau mendengarkan.” Kalimat itu sederhana, namun mengandung kebenaran yang dalam.
Kebenaran
yang sama ditegaskan dalam 1 Samuel 15:22. Raja Saul melakukan apa yang
menurutnya baik: mempersembahkan korban kepada Tuhan. Dari luar, tindakannya
tampak rohani dan mengesankan. Namun Tuhan menilai lebih dalam dari sekadar
tindakan lahiriah. Saul memilih menuruti suara rakyat dan pertimbangannya
sendiri, bukan perintah Tuhan yang jelas. Di sinilah Samuel menyampaikan pesan
yang tajam sekaligus membebaskan: mendengarkan dan taat kepada Tuhan jauh lebih
berharga daripada persembahan apa pun.
Ketaatan bukanlah soal seberapa sibuk kita dalam aktivitas rohani, melainkan seberapa siap hati kita tunduk pada kehendak Tuhan. Tuhan tidak menolak persembahan, pelayanan, atau ibadah. Namun Ia menolak ketika semua itu menjadi topeng untuk menutupi ketidaktaatan. Dalam kehidupan modern, ini sangat relevan. Kita bisa aktif melayani, rajin mengikuti ibadah, bahkan tampak “saleh” di media sosial, tetapi tetap keras kepala ketika Tuhan menegur kita soal kejujuran, pengampunan, atau kesetiaan dalam hal-hal kecil.
Sering kali kita tergoda untuk mengkompensasi ketidaktaatan dengan hal-hal religius. Kita berpikir, “Asal saya melayani lebih banyak, Tuhan pasti maklum.” Padahal Tuhan tidak sedang mencari aktivitas tambahan, melainkan hati yang mau mendengar. Ketaatan menuntut kerendahan hati—mengakui bahwa kehendak Tuhan lebih bijaksana daripada logika, ambisi, dan agenda pribadi kita. Ketaatan juga menuntut keberanian, karena terkadang menaati Tuhan berarti berjalan melawan arus, bahkan melawan suara mayoritas.
Renungan ini mengajak kita berhenti sejenak dan bercermin dengan jujur. Apakah kita sungguh mendengarkan suara Tuhan, atau hanya melakukan hal-hal rohani yang membuat kita merasa aman? Hati yang taat mungkin tidak selalu terlihat spektakuler dan tidak selalu mendapat tepuk tangan. Namun di mata Tuhan, itulah persembahan yang paling harum. Ketaatan hari ini—sekecil apa pun—membentuk karakter kita dan membuka jalan bagi pekerjaan Tuhan yang lebih besar dalam hidup kita.
Doa:
Tuhan yang penuh kasih, ajar kami untuk lebih peka mendengarkan suara-Mu.
Ampuni kami bila sering mengganti ketaatan dengan rutinitas rohani. Lembutkan
hati kami agar mau tunduk pada kehendak-Mu, baik dalam perkara besar maupun
kecil. Kami rindu menyenangkan hati-Mu, bukan sekadar terlihat benar di hadapan
manusia. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.🙏

Post a Comment for "Hati Yang Taat Lebih Berharga Dari Segalanya"