Para Pendeta, Utamakanlah Hadirat Ilahi Daripada Performa
Para Pendeta, Utamakanlah Hadirat Ilahi Daripada
Performa
Di era pelayanan yang semakin terdigitalisasi, terukur, dan terpapar publik, godaan terbesar bagi para pendeta bukan lagi sekadar kelelahan fisik, melainkan pergeseran orientasi batin. Tanpa disadari, pelayanan dapat berubah dari perjumpaan dengan Allah menjadi pertunjukan di hadapan manusia. Mimbar menjadi panggung, liturgi menjadi skrip, dan keberhasilan pelayanan diukur oleh tepuk tangan, bukan pertobatan; oleh statistik, bukan transformasi.
Tulisan ini mengajak kita—para pendeta dan pelayan Tuhan—untuk kembali menata orientasi: mengutamakan hadirat Ilahi daripada performa. Tulisan ini disajikan dalam tiga bagian utama. Setiap bagian berangkat dari kesaksian Alkitab, diperkaya oleh refleksi teologis, dan dipertegas oleh pandangan teolog Indonesia, agar pembacaan bersifat kontekstual, mendalam, dan membumi.
Bagian I: Hadirat Ilahi sebagai Sumber Otoritas
Pelayanan
“Maka Musa berkata: ‘Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami,
janganlah suruh kami berangkat dari sini.’” (Keluaran 33:15)
Keluaran 33 merupakan momen krusial dalam sejarah Israel. Bangsa itu telah menerima hukum Taurat, memiliki struktur ibadah, bahkan menyandang identitas sebagai umat pilihan. Namun Musa—seorang pemimpin rohani par excellence—menyadari satu hal yang tak tergantikan: tanpa hadirat Allah, semua itu hampa. Ia lebih memilih berhenti di padang gurun daripada melangkah maju tanpa Allah.
Secara teologis, hadirat Allah (Shekinah) bukan sekadar simbol emosional atau pengalaman mistik privat. Hadirat Allah adalah sumber legitimasi, otoritas, dan arah bagi kepemimpinan rohani. Tanpa hadirat-Nya, kepemimpinan berubah menjadi manajemen; khotbah menjadi retorika; dan ibadah menjadi ritual kosong.
Yakob Tomatala menegaskan bahwa kepemimpinan rohani bukan pertama-tama soal kapasitas teknis, melainkan soal kedekatan relasional dengan Allah. Dalam berbagai tulisannya tentang kepemimpinan Kristen, ia menyatakan bahwa pemimpin rohani yang efektif adalah mereka yang “lebih dahulu dipimpin oleh Allah sebelum memimpin manusia.” Pernyataan ini menyentuh inti persoalan: otoritas rohani lahir dari persekutuan, bukan dari posisi.
Dalam konteks pelayanan masa kini, para pendeta kerap terdorong untuk tampil meyakinkan—fasih berbicara, cakap mengelola media sosial, lihai mengemas ibadah. Semua ini tidak salah. Namun bahaya muncul ketika kualitas performa menggantikan kedalaman kehadiran Allah. Otoritas rohani lalu diukur oleh viralitas, bukan oleh keintiman dengan Tuhan.
Alkitab menunjukkan pola yang konsisten: Allah mempercayakan tugas besar kepada mereka yang tinggal lama di hadirat-Nya—Musa di gunung Sinai, Yesaya di bait Allah (Yes. 6), Yesus yang sering menyendiri untuk berdoa (Mrk. 1:35). Pelayanan yang lahir dari hadirat Allah membawa bobot ilahi (divine weight) yang tak dapat direkayasa oleh teknik apa pun.
Maka, pertanyaan mendasar bagi setiap pendeta bukanlah, “Apakah saya tampil baik?” melainkan, “Apakah saya berjalan bersama Allah?” Inilah fondasi pertama: hadirat Ilahi sebagai sumber otoritas pelayanan.
Bagian II : Bahaya Spiritualitas Performa dalam
Pelayanan Gerejawi
“Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari
pada-Ku.” (Matius 15:8)
Yesus mengutip nabi Yesaya untuk menelanjangi sebuah paradoks spiritual: aktivitas religius yang intens dapat berjalan beriringan dengan keterasingan batin dari Allah. Ini bukan kritik terhadap ibadah, melainkan terhadap ibadah yang kehilangan jiwa. Inilah yang dapat disebut sebagai spiritualitas performatif—kesalehan yang tampil megah di luar, namun rapuh di dalam.
Spiritualitas performatif sangat relevan dengan konteks pelayanan modern. Kamera, algoritma, dan ekspektasi jemaat dapat mendorong pendeta untuk terus “on stage”. Tanpa disiplin batin, pendeta berisiko hidup dari apresiasi publik ketimbang perkenanan Allah.
Eka Darmaputera dengan tajam mengkritik kecenderungan gereja yang terjebak dalam formalitas religius. Ia menegaskan bahwa iman Kristen bukanlah soal penampilan moral atau liturgis, melainkan ketaatan eksistensial—hidup yang sungguh-sungguh diarahkan kepada Allah. Ketika iman direduksi menjadi performa, gereja kehilangan daya profetisnya.
Bahaya spiritualitas performa tidak hanya merusak integritas pribadi pendeta, tetapi juga berdampak pastoral. Jemaat belajar dari apa yang mereka lihat. Jika pendeta menghidupi iman sebagai panggung, jemaat akan meniru iman yang dangkal—ramai di ibadah, sepi dalam doa; aktif di program, pasif dalam pertobatan.
Yesus, dalam Khotbah di Bukit, berulang kali memperingatkan tentang praktik keagamaan yang dilakukan “supaya dilihat orang” (Mat. 6:1–6). Ia tidak menolak doa, puasa, atau sedekah—Ia menolak motivasi yang salah. Spiritualitas sejati selalu berakar pada relasi tersembunyi dengan Bapa.
Dalam terang ini, pendeta dipanggil untuk berani melawan arus. Mengurangi kebisingan demi keheningan. Mengutamakan altar pribadi daripada sorotan publik. Sebab pelayanan yang kehilangan keheningan akan kehilangan kepekaan, dan pelayanan yang kehilangan kepekaan akan kehilangan kebenaran.
Bagian III : Kembali ke Spiritualitas Kehadiran:
Dari Mimbar ke Ruang Doa
“Tetapi engkau, apabila engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu,
tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi.” (Matius 6:6)
Yesus mengarahkan murid-murid-Nya kepada pusat spiritualitas Kristen: perjumpaan tersembunyi dengan Allah. Di ruang doa yang sunyi, topeng dilepaskan, reputasi tak lagi relevan, dan manusia berdiri apa adanya di hadapan Sang Kudus. Di sinilah karakter dibentuk dan panggilan dimurnikan.
Stephen Tong secara konsisten menekankan bahwa pelayanan yang besar lahir dari kehidupan doa yang serius. Ia menegaskan bahwa kebangunan rohani tidak pernah dimulai dari strategi panggung, melainkan dari lutut yang tekun. Doa, baginya, bukan pelengkap pelayanan, melainkan napas pelayanan.
Kembali ke spiritualitas kehadiran berarti menata ulang ritme hidup pendeta. Bukan sekadar menambah jam doa, tetapi mengembalikan doa sebagai pusat gravitasi kehidupan. Dari doa, khotbah mendapatkan api; dari keheningan, visi mendapatkan kejernihan; dari hadirat Allah, pelayanan mendapatkan keaslian.
Secara praktis, ini menuntut keberanian untuk berkata “tidak” pada ekspektasi yang berlebihan, dan “ya” pada disiplin rohani yang mungkin tak terlihat orang. Pendeta perlu ruang retret, pembimbing rohani, dan komunitas akuntabilitas—bukan sebagai tanda kelemahan, melainkan sebagai wujud kebijaksanaan.
Gereja pun perlu dididik untuk menghargai kedalaman daripada keramaian. Jemaat perlu melihat bahwa pendetanya bukan hanya komunikator ulung, tetapi penyembah yang setia. Dari sinilah lahir pelayanan yang menyembuhkan, bukan sekadar menghibur; yang membentuk murid, bukan sekadar mengumpulkan massa.
Pelayanan yang
Berkenan, Bukan Sekadar Berkesan
Mengutamakan hadirat Ilahi daripada performa bukanlah ajakan untuk anti-profesionalisme atau anti-kualitas. Ini adalah panggilan untuk menempatkan Allah kembali di pusat pelayanan. Performa boleh memukau, tetapi hanya hadirat Allah yang mengubahkan. Tepuk tangan bisa menghangatkan, tetapi hanya Roh Kudus yang menghidupkan.
Kiranya para pendeta di zaman ini berani memilih jalan yang lebih sunyi namun lebih sejati—jalan yang mungkin kurang gemerlap, tetapi penuh kemuliaan. Sebab pada akhirnya, yang terpenting bukanlah apakah pelayanan kita terlihat berhasil, melainkan apakah pelayanan itu berkenan di hadapan Allah (2 Kor. 5:9).

Post a Comment for "Para Pendeta, Utamakanlah Hadirat Ilahi Daripada Performa"