Belajar Rendah Hati Di Hadapan Tuhan
Belajar Rendah Hati Di Hadapan Tuhan ~ “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (Mikha 6:8).
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 43-45
Seorang dosen senior pernah menceritakan kisah nyata tentang seorang mahasiswa berprestasi yang hampir selalu menjadi juara kelas. Ia pintar, aktif, dan dikenal luas. Namun menjelang akhir studinya, ia terlibat konflik serius karena merasa pendapatnya selalu paling benar.
Dalam sebuah pertemuan, sang dosen hanya berkata singkat, “Kepintaran tanpa kerendahan hati akan berubah menjadi beban, bukan berkat.” Kalimat itu menampar kesadaran sang mahasiswa. Ia lulus dengan nilai baik, tetapi pelajaran terbesarnya bukan akademik melainkan belajar rendah hati.
Mikha
6:8 menyampaikan pesan iman yang sangat padat namun mendalam. Tuhan tidak
pertama-tama menuntut ritual besar, persembahan mahal, atau tindakan religius
yang spektakuler. Yang Tuhan kehendaki justru sikap hidup: berlaku adil, mencintai
kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan-Nya. Kerendahan hati di sini
bukan sikap minder atau merendahkan diri secara palsu, melainkan kesadaran yang
jujur tentang siapa kita di hadapan Allah yang kudus.
Rendah hati berarti menyadari bahwa hidup ini bukan panggung untuk memamerkan kehebatan diri, tetapi ruang perjumpaan dengan kehendak Allah. Orang yang rendah hati tidak sibuk membela ego, melainkan terbuka untuk dikoreksi. Ia tidak merasa paling benar, tetapi mau belajar. Ia tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam. Dalam konteks iman, kerendahan hati adalah pengakuan bahwa kita sepenuhnya bergantung pada anugerah Tuhan.
Sering kali manusia ingin terlihat benar di hadapan sesama, tetapi lupa untuk benar di hadapan Tuhan. Mikha mengingatkan bahwa relasi dengan Allah tercermin dalam sikap etis dan spiritual sehari-hari. Berlaku adil tanpa kerendahan hati bisa menjadi keras. Kesetiaan tanpa kerendahan hati bisa menjadi kaku. Tetapi ketika keduanya dibingkai oleh kerendahan hati, hidup kita menjadi kesaksian yang hidup.
Belajar rendah hati di hadapan Tuhan juga berarti menyerahkan kontrol hidup kepada-Nya. Kita bekerja, melayani, dan berjuang sebaik mungkin, tetapi tetap mengakui bahwa hasil akhirnya ada di tangan Tuhan. Di situlah iman menjadi dewasa bukan ketika kita merasa hebat, melainkan ketika kita sadar bahwa tanpa Tuhan, kita tidak dapat berbuat apa-apa.
Doa
Tuhan yang penuh kasih, ajarlah kami hidup dengan rendah hati di hadapan-Mu. Lepaskan kami dari kesombongan, ego, dan keinginan untuk selalu dipuji. Bentuklah hati kami agar peka terhadap kehendak-Mu, mau dikoreksi, dan setia berjalan dalam kebenaran-Mu. Kiranya hidup kami menjadi berkat karena kami belajar tunduk dan bergantung sepenuhnya kepada-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.🙏

Post a Comment for "Belajar Rendah Hati Di Hadapan Tuhan"