Melangkah Dengan Iman
Melangkah dengan Iman ~ Landasan firman Tuhan untuk tema melangkah dengan iman, diambil dari surat rasul Paulus kepada jemaat Tuhan yang ada di kota Korintus. Demikianlah firman Tuhan, “Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat” (2 Korintus 5:7).
Beberapa tahun lalu, seorang ayah di sebuah kota kecil di Indonesia harus mengambil keputusan besar. Perusahaannya tempat ia bekerja puluhan tahun tiba-tiba tutup. Tabungan menipis, anak-anak masih sekolah, dan peluang kerja di kota itu hampir tidak ada. Banyak orang menyarankannya untuk “bermain aman”: bertahan dengan pekerjaan serabutan apa pun, meski hatinya terus tertekan. Namun setelah pergumulan panjang dalam doa, ia memutuskan melangkah ke arah yang tidak pasti—pindah kota dan memulai usaha kecil yang sama sekali baru baginya. Ia mengaku takut, ragu, dan sering tidak bisa tidur. Tetapi satu kalimat firman yang terus terngiang di hatinya adalah, “Hidup karena percaya, bukan karena melihat.” Tahun pertama penuh tantangan. Namun perlahan, Tuhan membuka jalan. Usahanya bertumbuh, dan yang lebih penting, imannya diteguhkan. Ia belajar bahwa iman bukan tentang jaminan tanpa risiko, melainkan keberanian untuk taat di tengah ketidakpastian.
Rasul
Paulus menulis 2 Korintus 5:7 dalam konteks kehidupan iman yang realistis. Ia
tidak sedang berbicara kepada jemaat yang hidup nyaman dan aman. Sebaliknya,
Paulus sendiri menjalani hidup yang penuh penderitaan, ancaman, dan
ketidakpastian. Ketika ia berkata bahwa hidup orang percaya adalah hidup karena
iman, bukan karena melihat, ia menegaskan bahwa fondasi hidup Kristen tidak
ditentukan oleh apa yang tampak di depan mata, melainkan oleh kepercayaan
kepada Allah yang setia.
Melangkah dengan iman berarti menjadikan Allah sebagai dasar keputusan, bukan sekadar perhitungan manusia. Melihat sering kali membuat kita berhenti. Kita melihat keterbatasan, kekurangan, dan risiko. Kita melihat usia yang bertambah, kesehatan yang menurun, ekonomi yang tidak stabil, atau pelayanan yang terasa stagnan. Semua itu nyata. Alkitab tidak menutup mata terhadap realitas tersebut. Namun iman mengajak kita melangkah melampaui apa yang terlihat, dengan keyakinan bahwa Tuhan bekerja bahkan ketika kita belum melihat hasilnya.
Iman juga bukan sikap nekat tanpa hikmat. Melangkah dengan iman tidak berarti mengabaikan tanggung jawab atau menolak akal sehat. Justru iman yang sejati selalu lahir dari relasi yang intim dengan Tuhan. Dalam doa, firman, dan penyerahan diri, Tuhan membentuk kepekaan rohani sehingga langkah yang diambil bukan sekadar dorongan emosi, melainkan ketaatan yang sadar. Iman bertanya, “Tuhan, apa kehendak-Mu?” bukan hanya, “Apa yang paling aman bagiku?”
Sering kali Tuhan tidak memberi kita gambaran utuh tentang masa depan. Ia hanya memberi cukup terang untuk satu langkah. Di sinilah iman diuji. Kita ingin kepastian penuh sebelum melangkah, tetapi Tuhan mengundang kita percaya sambil berjalan. Sama seperti Abraham yang dipanggil keluar tanpa tahu ke mana ia akan pergi, kita pun dipanggil untuk taat meski peta hidup belum lengkap. Dalam proses itulah iman bertumbuh—bukan di zona nyaman, melainkan di jalan ketaatan.
Dalam kehidupan sehari-hari, melangkah dengan iman bisa berarti banyak hal yang sederhana namun berat. Memaafkan ketika hati terluka. Tetap jujur ketika kejujuran terasa merugikan. Setia melayani ketika hasil belum terlihat. Mendidik anak dalam nilai kebenaran di tengah arus zaman yang berlawanan. Semua langkah itu mungkin tidak langsung mendatangkan pujian atau hasil instan. Namun setiap langkah iman selalu diperhitungkan oleh Tuhan.
Ketika kita memilih melangkah dengan iman, kita sedang menyatakan bahwa Allah lebih besar daripada ketakutan kita. Kita mengakui bahwa hidup ini bukan semata-mata tentang apa yang bisa kita lihat dan kendalikan, tetapi tentang Allah yang memimpin perjalanan hidup kita. Iman tidak menghilangkan semua ketakutan, tetapi iman memberi keberanian untuk tetap berjalan meski takut itu ada.
Hari ini, mungkin Tuhan tidak meminta kita melakukan hal yang besar dan spektakuler. Ia hanya meminta kita setia pada satu langkah iman: taat pada firman-Nya, percaya pada janji-Nya, dan menyerahkan masa depan ke tangan-Nya. Ketika kita melangkah dengan iman, kita akan menemukan bahwa Tuhan setia menyertai, bahkan di jalan yang awalnya tampak gelap dan tidak pasti.
Doa:
Tuhan yang penuh kasih, Engkau mengetahui setiap pergumulan dan ketakutan dalam
hidup kami. Kami sering ingin melihat kepastian sebelum melangkah, tetapi hari
ini kami mau belajar percaya kepada-Mu. Ajarlah kami melangkah dengan iman,
bukan dengan mengandalkan apa yang kami lihat. Kuatkan hati kami untuk taat,
setia, dan berharap hanya kepada-Mu. Pimpin setiap langkah hidup kami, agar
melalui hidup kami nama-Mu dimuliakan. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa.
Amin.

Post a Comment for "Melangkah Dengan Iman"