Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Doa: Nafas Orang Percaya

Doa: Nafas Orang Percaya ~ Landasan firman Tuhan untuk tema doa: nafas orang percaya, diambil dari surat rasul Paulus kepada jemaat Tuhan yang ada di kota Tesalonika. Demikianlah firman Tuhan, “Tetaplah berdoa” (1 Tesalonika 5:17).

Seorang perawat di ruang ICU pernah membagikan kisah nyata yang menggugah. Ia menceritakan tentang seorang pasien yang tampak stabil secara medis, tetapi tiba-tiba mengalami gangguan pernapasan. Dalam hitungan menit, oksigen menjadi hal paling krusial. Tanpa oksigen, tubuh yang sebelumnya kuat menjadi lemah dan nyaris tak berdaya. Setelah situasi terkendali, sang perawat berkata dengan tenang, “Manusia bisa bertahan tanpa makan beberapa hari, tanpa minum beberapa waktu, tetapi tanpa nafas hanya beberapa menit.” Kalimat itu sederhana, tetapi sangat dalam maknanya.

Rasul Paulus, dalam 1 Tesalonika 5:17, menasihati jemaat dengan perintah yang sangat singkat namun radikal: “Tetaplah berdoa.” Ayat ini tidak berbicara tentang durasi doa, posisi doa, atau kata-kata doa, melainkan tentang sikap hidup. Doa ditempatkan sebagai nafas rohani orang percaya. Sebagaimana nafas tidak dilakukan hanya pada waktu tertentu, demikian pula doa bukan hanya aktivitas sesekali, melainkan ritme hidup yang terus-menerus.

Berdoa tanpa henti bukan berarti kita harus selalu menutup mata dan melipat tangan sepanjang hari. Paulus sedang mengajarkan sebuah kesadaran akan hadirat Allah yang konstan. Doa menjadi dialog batin yang hidup: saat bekerja, saat mengambil keputusan, saat bersukacita, bahkan saat hati lelah dan bingung. Orang percaya yang berdoa adalah orang yang menyadari keterbatasannya dan terus bergantung pada anugerah Tuhan.

Di tengah dunia yang serba cepat, produktif, dan penuh tekanan, doa sering kali terpinggirkan. Kita mudah mengandalkan logika, strategi, dan pengalaman, tetapi lupa bahwa tanpa Tuhan kita tidak dapat berbuat apa-apa. Ketika doa diabaikan, iman pelan-pelan kehilangan “oksigennya”. Akibatnya, kehidupan rohani menjadi sesak, kering, dan kehilangan kepekaan terhadap suara Tuhan.

Doa juga menjaga relasi kita dengan Allah tetap hidup. Relasi tanpa komunikasi akan menjadi dingin, formal, bahkan rapuh. Melalui doa, kita bukan hanya menyampaikan permintaan, tetapi juga membentuk keintiman, kepekaan, dan ketaatan. Dalam doa, Roh Kudus menata ulang hati kita, menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak Allah.

Karena itu, menjadikan doa sebagai nafas berarti menjadikan Allah sebagai pusat kehidupan. Kita belajar memulai hari dengan doa, menjalani hari dengan doa, dan menutup hari dengan doa. Bukan karena kewajiban rohani, tetapi karena tanpa doa, jiwa kita tidak bisa bernafas dengan sehat.

Doa:
Tuhan yang penuh kasih, kami mengakui bahwa sering kali kami menjalani hidup dengan mengandalkan kekuatan sendiri. Ampuni kami ketika doa bukan lagi menjadi nafas hidup kami. Ajarlah kami untuk hidup dalam kesadaran akan hadirat-Mu setiap waktu. Biarlah doa menjadi aliran hidup yang menguatkan iman, menenangkan hati, dan menuntun setiap langkah kami. Kami rindu hidup dekat dengan-Mu, hari ini dan selamanya. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
🙏

Post a Comment for "Doa: Nafas Orang Percaya"

Translate