Iman Yang Melangkah, Bukan Menunggu
IMAN YANG MELANGKAH, BUKAN MENUNGGU ~ Landasan firman Tuhan untuk tema iman yang melangkah, bukan menunggu diambil dari surat rasul Paulus kepada jemaat di kota Korintus. Demikianlah sabda Tuhan, “Sebab hidup kami ini adalah karena percaya, bukan karena melihat” (2 Korintus 5:7).
Suatu sore, seorang pemuda bernama Andi berdiri di depan papan pengumuman kampus. Tangannya gemetar saat membaca hasil seleksi beasiswa luar negeri. Namanya tidak ada. Dengan wajah tertunduk, ia pulang dan berkata pada ibunya, “Mungkin aku harus menunggu tahun depan. Aku belum cukup pintar.”
Sang
ibu hanya tersenyum dan berkata pelan, “Nak, kalau kamu menunggu sampai merasa
siap, kamu tidak akan pernah melangkah. Iman bukan soal menunggu keadaan ideal,
tapi berani melangkah bersama Tuhan.” Kalimat itu sederhana, tapi menampar
lembut hatinya. Beberapa hari kemudian, Andi kembali mengirim aplikasi ke
program lain dan kali ini, pintu terbuka.
Ayat 2 Korintus 5:7 menegaskan prinsip hidup orang percaya: kita hidup oleh iman, bukan oleh penglihatan. Iman bukan sekadar keyakinan di dalam hati, melainkan keputusan untuk melangkah meski belum melihat hasil akhirnya. Paulus menulis ini dalam konteks kehidupan yang penuh tantangan, penderitaan, dan ketidakpastian. Namun justru di sanalah iman diuji dan dinyatakan. Iman Kristen tidak menuntut jaminan visual sebelum bertindak; iman menuntut ketaatan sebelum kepastian terlihat.
Sering kali kita terjebak dalam “iman yang menunggu.” Kita berkata, “Nanti kalau sudah jelas…”, “Nanti kalau Tuhan kasih tanda…”, atau “Nanti kalau semua aman…”. Padahal, iman yang sejati bergerak ke depan dengan kepercayaan penuh bahwa Tuhan menyertai langkah kita. Seperti Abraham yang melangkah tanpa peta, atau Petrus yang turun dari perahu sebelum air menjadi kokoh, iman selalu mendahului bukti.
Iman yang melangkah bukan iman nekat, tetapi iman yang berakar pada janji Tuhan. Kita melangkah bukan karena merasa kuat, melainkan karena percaya Tuhan setia. Dalam kehidupan sehari-hari, iman ini tampak ketika kita memilih jujur meski berisiko, mengampuni meski hati masih terluka, melayani meski belum diapresiasi, dan setia meski hasil belum terlihat. Di titik-titik itulah iman menjadi hidup bukan teori.
Tuhan tidak memanggil kita untuk menunggu sampai semuanya sempurna. Ia memanggil kita untuk berjalan bersama-Nya hari demi hari. Ketika kita melangkah dalam iman, Tuhan bekerja di sepanjang jalan. Kadang jalannya berliku, kadang kabut turun, tetapi kehadiran-Nya cukup. Iman tidak menghapus ketidakpastian, tetapi iman memberi keberanian untuk maju di tengah ketidakpastian itu.
Hari ini, mungkin Tuhan sedang mengundang kita untuk melangkah bukan menunggu. Melangkah dalam panggilan, dalam ketaatan, dalam pengharapan. Karena hidup oleh iman berarti mempercayakan masa depan kepada Tuhan yang sudah memegangnya sejak awal.
Doa
Tuhan yang setia, ajar kami hidup oleh iman, bukan oleh apa yang kami lihat.
Beri kami keberanian untuk melangkah ketika Engkau memanggil, meski jalan di
depan belum jelas. Teguhkan hati kami untuk percaya bahwa Engkau menyertai
setiap langkah kami. Bentuk iman kami agar nyata dalam ketaatan dan kesetiaan
setiap hari. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin. 🙏

Post a Comment for "Iman Yang Melangkah, Bukan Menunggu"