Bagaimana Mengukur Kedewasaan Iman Setiap Orang Percaya ?
Bagaimana Mengukur Kedewasaan Iman Setiap Orang Percaya? ~ Landasan firman Tuhan untuk tema bagaimana mengukur kedewasaan iman setiap orang percaya, diambil dari surat rasul Paulus kepada jemaat Tuhan yang ada di kota Korintus. Demikianlah sabda Tuhan, “Saudara-saudara, janganlah sama seperti kanak-kanak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu!” (1 Korintus 14:20).
Pertanyaan tentang kedewasaan iman sering kali terdengar sederhana, tetapi jawabannya menuntut kejujuran yang dalam. Kedewasaan iman bukan diukur dari lamanya seseorang menjadi Kristen, bukan pula dari seberapa sering ia hadir dalam ibadah atau seberapa fasih ia mengutip ayat Alkitab. Kedewasaan iman terlihat dari bagaimana iman itu membentuk cara hidup sehari-hari, yaitu: cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan. Berikut ini tiga ukuran praktis dan alkitabiah untuk menilai kedewasaan iman setiap orang percaya.
1. Cara Merespons Masalah dan Penderitaan
Iman
yang dewasa tidak kebal terhadap masalah, tetapi memiliki cara pandang yang
berbeda terhadap masalah. Orang yang imannya masih kanak-kanak mudah panik,
cepat mengeluh, bahkan menyalahkan Tuhan saat menghadapi penderitaan.
Sebaliknya, iman yang dewasa belajar melihat penderitaan sebagai ruang pembentukan
karakter dan kepercayaan kepada Allah.
Firman Tuha menegaskan bahwa, “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan” (Yakobus 1:2–3).
Kedewasaan iman tidak menghapus air mata, tetapi memberi makna di balik air mata. Orang percaya yang dewasa tidak hanya bertanya, “Mengapa ini terjadi?”, melainkan “Apa yang Tuhan sedang kerjakan melalui ini?”
2.
Sikap Terhadap Sesama dalam Relasi Sehari-hari
Relasi adalah cermin paling jujur dari kedewasaan iman. Semakin dewasa iman seseorang, semakin tampak dalam sikapnya terhadap orang lain. Ia tidak mudah tersinggung, tidak cepat menghakimi, dan tidak menikmati konflik. Sebaliknya, ia bertumbuh dalam kesabaran, kerendahan hati, dan pengampunan.
Friman Tuhan menegaskan bahwa, “Tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala” (Efesus 4:15).
Kasih bukan sekadar konsep rohani, melainkan praktik iman sehari-hari. Iman yang dewasa tidak sibuk membandingkan diri dengan orang lain, tetapi sibuk mempraktikkan kasih Kristus dalam relasi yang nyata yaitu di keluarga, gereja, dan masyarakat.
3.
Kesetiaan dalam Ketaatan Sehari-hari
Ukuran terakhir dan sering kali paling sulit adalah ketaatan. Iman yang dewasa tidak hanya hidup di ruang ibadah, tetapi konsisten dalam keseharian. Ia tetap jujur saat tidak diawasi, setia saat tidak dihargai, dan taat meski tidak mendapat tepuk tangan.
Firman Tuhan menegaskan bahwa, “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri” (Yakobus 1:22).
Kedewasaan iman diuji bukan ketika kita berkata “amin” di gereja, melainkan ketika kita memilih hidup benar di rumah, tempat kerja, dan bahkan di media sosial.
Mengukur kedewasaan iman bukanlah alat untuk menghakimi orang lain, melainkan undangan untuk mengevaluasi diri sendiri. Tuhan tidak menuntut kesempurnaan, tetapi pertumbuhan. Selama kita terus mau belajar, dibentuk, dan taat kepada firman-Nya, iman kita sedang bertumbuh menuju kedewasaan di dalam Kristus.

Post a Comment for "Bagaimana Mengukur Kedewasaan Iman Setiap Orang Percaya ?"