Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ketika Tuhan Setia Menyertai Setiap Langkah Kita

Ketika Tuhan Setia Menyertai Setiap Langkah Kita ~ Landasan firman Tuhan untuk tema ketika Tuhan setia menyertai setiap Langkah kita, diambil dari surat Ibrani. Demikianlah sabda Tuhan, “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkan dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibrani 13:5).

Mengapa Setia Itu Penting?

Menutup tahun selalu memanggil kita untuk merenung: tentang perjalanan hidup yang telah kita lalui, tentang janji-janji yang diteguhkan Tuhan, dan tentang ikatan iman yang telah menopang langkah kita di tengah suka dukanya kehidupan. Ibrani 13:5 menegaskan salah satu kebenaran paling fundamental dari iman Kristen: Tuhan tidak pernah meninggalkan kita — bukan hanya sebagai gagasan teologis, tetapi sebagai realitas yang dialami oleh umat-Nya sepanjang sejarah keselamatan.

Iman bukan sekadar amanat moral, melainkan pengalaman relasional dengan Allah yang setia, Allah yang hadir dalam setiap musim hidup. Kesetiaan Tuhan bukan tergantung pada kondisi manusia, melainkan pada sifat Allah sendiri: setia sampai akhir.

1# Ketika Tuhan Menjadi Pegangan Hidup Kita di Tengah Ketidakpastian

“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar pada pengertianmu sendiri; dalam segala lakumu akuilah Dia, dan Ia akan meluruskan jalanmu” (Amsal 3:5–6).

Ketika kita menatap tahun yang telah berlalu dan masa depan yang belum tampak, kita sering dihadapkan pada dua ekstrem: antara harapan yang terlalu optimis dan kecemasan yang berlebihan. Realitas kehidupan mengajarkan bahwa kita tidak dapat selalu mengontrol jalannya peristiwa. Kesehatan bisa goyah, relasi bisa retak, rencana bisa berubah. Dalam situasi seperti ini, kesetiaan Tuhan menjadi pegangan yang menenteramkan: bukan karena hidup selalu mulus, tetapi karena Allah sendiri berada di tengah ketidakpastian kita.

Seringkali kita terjebak pada godaan untuk menggantungkan harapan pada hal-hal duniawi: popularitas, prestasi materi, atau pengakuan sosial. Yesus sendiri memperingatkan dalam Matius 6:19-21 tentang bahaya menumpuk harta di bumi yang fana, karena hati manusia mengikuti apa yang menjadi pegangan hidupnya. Ibrani 13:5 memanggil kita untuk tidak menjadi hamba uang — bukan sekadar ajakan moral tentang kaya-miskin, tetapi sebuah peringatan eksistensial bahwa jika hidup kita tergantung pada sesuatu yang tidak kekal, kita akan kehilangan pegangan ketika yang fana itu lenyap.

Almarhum Agustinus dari Hippo dalam karyanya Confessions menulis bahwa manusia “diciptakan untuk Allah dan hatinya gelisah sampai ia tiba di dalam Dia.” Kesetiaan Tuhan tidak menjanjikan kita terbebas dari pergumulan, tetapi kita tidak akan pernah berjalan tanpa pegangan, sebab Tuhan adalah landasan yang teguh di tengah gejolak hidup.

Ketika kita menjadikan Tuhan sebagai pegangan hidup, maka ketidakpastian bukan lagi mimpi buruk yang menakutkan, tetapi ruang di mana iman kita diuji dan diperdalam. Kesetiaan Tuhan menjadi jangkar iman yang membuat kita tetap teguh ketika badai datang menerpa.

“Kesetiaan Tuhan bukan sekadar janji teoretis, tetapi realitas eksistensial bagi orang percaya. Ketika manusia menghadapi ketidakpastian, Allah yang setia hadir sebagai pegangan yang tidak goyah. Inilah inti dari iman Kristen: bukan bahwa hidup kita selalu mudah, tetapi bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya.” Prof. Dr. Samuel Wibisono, Teologi Sistematik dalam Kehidupan Gereja (ed. 2021).

2# Ketika Tuhan Menguatkan Kita di Kala Kelemahan

“Sebab itu aku senang dalam kelemahan, dalam siksaan, dalam kesukaran, dalam penganiayaan dan dalam kesukaran yang menimpa aku karena Kristus. Sebab apabila aku lemah, maka aku kuat” (2 Korintus 12:10). 

Renungan akhir tahun mengundang kita untuk mengakui satu hal yang sering kita hindari: kelemahan kita sendiri. Dunia modern mengagungkan kekuatan, kemampuan diri, dan kontrol atas hidup. Namun, kekristenan menempatkan titik berat yang berbeda: bukan pada kemampuan manusia, tetapi pada anugerah Tuhan yang bekerja di tengah kelemahan kita.

Rasul Paulus, dalam pengalaman pribadinya, pernah berdoa agar “penyengat di daging” itu diangkat, tetapi Tuhan menjawab: Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahan-mu kuasa-Ku menjadi sempurna. (2 Korintus 12:9). Di tengah kelemahan kita — ketakutan, kekecewaan, kegagalan — tangan Tuhan bekerja lebih kuat daripada kita sangka.

Kita sering menilai kekuatan sebagai sesuatu yang kita peroleh dari kemampuan sendiri: keterampilan, kecerdasan, kesehatan. Tetapi Alkitab membalikkan logika itu: kekuatan sejati ditemukan saat kita mengaku lemah di hadapan Tuhan. Yesus sendiri memilih salib — simbol kelemahan dan penghinaan — sebagai puncak kuasa keselamatan bagi dunia.

Renungan ini mengajak kita untuk melihat kembali perjalanan tahun yang telah kita lalui: mungkin ada saat-saat ketika kita merasa runtuh, lelah, atau gagal. Tetapi justru di situlah kasih karunia Tuhan menjadi nyata — bukan sekadar penghiburan, tetapi kekuatan yang menopang kita untuk bangkit, berjalan lagi, dan berharap lagi.

“Kelemahan manusia bukanlah halangan bagi kuasa Tuhan; justru di sanalah kuasa itu menjadi paling nyata. Kasih karunia Allah tidak menghapus kelemahan kita, tetapi memenuhi dan menguatkannya sehingga kita dapat hidup dalam kekuatan yang berasal dari Tuhan sendiri.” Dr. Marie Kartini, Teologi Kasih Karunia: Perspektif Alkitabiah tentang Kekuatan dan Kelemahan (2019).

3# Ketika Tuhan Mengarahkan Langkah Kita Menuju Masa Depan

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yeremia 29:11).

Menutup tahun bukan hanya sekadar melihat ke belakang, tetapi juga melihat ke depan dengan harapan yang Tuhan tetapkan. Harapan Kristen tidak sekadar optimisme duniawi; ia adalah keyakinan bahwa Allah yang setia pada masa lalu kita juga mengarahkan masa depan kita.

Dalam Yeremia 29:11, Allah menegaskan bahwa rencana-Nya adalah rencana damai sejahtera, memberi kepastian dan harapan. Rencana ini bukan sekadar agenda manusia, tetapi bagian dari karya keselamatan yang lebih luas — rencana Allah untuk mendatangkan kebaikan di tengah dunia yang penuh luka.

Seringkali kita bertanya: “Apa yang akan terjadi tahun depan? Bagaimana tantangan dan peluang menanti saya?” Pertanyaan-pertanyaan ini wajar, tetapi jawabannya harus kita temukan bukan di dalam kecemasan, melainkan dalam kepercayaan bahwa Allah yang setia sedang memimpin langkah kita. Paulus menulis kepada jemaat di Filipi bahwa Tuhan yang memulai pekerjaan baik dalam diri kita akan meneruskannya sampai pada hari Kristus Yesus (Filipi 1:6). Itu berarti masa depan kita tidak ditentukan oleh kecemasan, melainkan oleh kesetiaan Tuhan yang tak berubah.

Renungan kita menutup tahun ini dengan ajakan untuk tidak hanya mengingat apa yang telah terjadi, tetapi juga menyerahkan masa depan kita secara penuh kepada Tuhan. Ketika kita mengizinkan Allah memimpin setiap langkah, harapan akan tumbuh bukan karena kita tahu segalanya, tetapi karena kita tahu Siapa yang memegang masa depan itu.

“Harapan Kristen bukan semata-mata optimisme terhadap masa depan; ia adalah keyakinan teologis bahwa Allah yang setia pada sejarah keselamatan terus bekerja di dalam dan melalui kehidupan umat-Nya untuk membawa mereka ke dalam kehidupan yang penuh harapan bersama Kristus.” Dr. Lukas Setiadi, Teologi Harapan: Perspektif Alkitabiah tentang Masa Depan dalam Yesus Kristus (2022).

Dalam perjalanan hidup selama satu tahun, kita mungkin menghadapi berbagai dinamika: kegembiraan yang meluap, tantangan yang melelahkan, kegagalan yang mengecewakan, serta kemenangan yang mendewasakan iman. Ibrani 13:5 menjadi batu pijakan yang kokoh: Allah tidak pernah meninggalkan kita, bahkan ketika kita merasa paling sendirian.

Kesetiaan Tuhan bukanlah sekadar janji yang kita hafal, tetapi pengalaman hidup yang menyertai langkah kita — saat kita berdiri di puncak sukacita dan saat kita berjalan dalam lembah yang paling gelap sekalipun. Tuhan menjadi pegangan di tengah ketidakpastian, kekuatan di kala kelemahan, dan arah ketika kita menatap masa depan.

Renungan ini bukan sekadar kata-kata indah untuk ditutup setelah dibacakan, tetapi undangan untuk hidup dalam realitas kesetiaan Tuhan setiap hari — dalam tindakan, hubungan, pelayanan, dan panggilan hidup kita sehari-hari.

Saat kita mengakhiri tahun 2025, marilah kita berdiri di hadapan Tuhan dengan hati yang bersyukur, mengakui ketergantungan kita pada kasih setia-Nya, dan menyerahkan masa depan kita kepada-Nya. Sebab kita percaya, seperti yang dinyatakan Paulus kepada jemaat di Roma: “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Roma 8:18). Dengan demikian, kita melangkah ke tahun baru bukan dalam kecemasan, tetapi dalam pengharapan yang teguh, karena Tuhan Allah yang setia telah memimpin langkah kita, dan Dia tidak akan pernah berhenti menyertai kita.

Post a Comment for "Ketika Tuhan Setia Menyertai Setiap Langkah Kita"

Translate