Mengucap Syukur Di Akhir Hari - Khotbah Kristen
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mengucap Syukur Di Akhir Hari

Mengucap syukur di akhir hari ~ Landasan firman Tuhan untuk tema mengucap syukur di akhir hari, diambil dari surat rasul Paulus kepada jemaat Tuhan di kota Korintus. Demikianlah sabda Tuhan, “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” (1 Tesalonika 5:18).

Malam hari sering kali menjadi waktu refleksi. Setelah kita lelah bekerja, menghadapi tantangan, atau menikmati berkat-berkat kecil dalam keseharian, kita sampai pada penghujung hari. Di momen ini, banyak orang mengisi malam dengan kekhawatiran akan hari esok, atau dengan penyesalan atas kesalahan hari ini. Namun, firman Tuhan melalui Rasul Paulus mengajak kita untuk memilih sikap yang berbeda: bersyukur dalam segala hal.

Mengucap syukur bukanlah sekadar reaksi sesaat ketika keadaan baik, tetapi sebuah disposisi rohani—sebuah gaya hidup orang percaya. Malam hari adalah momen terbaik untuk menutup hari dengan syukur, sebab dengan demikian kita belajar melihat tangan Tuhan yang bekerja dalam segala hal, baik yang menyenangkan maupun yang penuh air mata.

Seorang teolog Indonesia, Pdt. Eka Darmaputera, pernah berkata bahwa “syukur adalah bentuk pengakuan iman bahwa hidup ini bukanlah hasil usaha kita semata, tetapi anugerah Allah yang melampaui keterbatasan kita.” Pernyataan ini menegaskan bahwa syukur bukanlah soal perasaan, melainkan soal iman.

Satu, Syukur Bukan Karena Keadaan, Tapi Karena Allah Baik

Firman Tuhan berkata, “Mengucap syukurlah dalam segala hal...” (1 Tes. 5:18). Paulus tidak mengatakan “mengucap syukurlah untuk segala hal,” tetapi “dalam segala hal.” Artinya, syukur kita tidak tergantung pada situasi, melainkan pada siapa Allah itu. Kehidupan manusia memang penuh dinamika. Ada hari-hari penuh sukacita, ada pula hari-hari penuh air mata. Namun, alasan utama kita bersyukur bukanlah situasi, melainkan kebaikan Allah yang tidak berubah.

Mazmur 100:5 menegaskan: “Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.”

John Stott, seorang teolog besar, menulis: “Mengucap syukur adalah pengakuan bahwa Allah tetap memegang kendali, bahkan ketika dunia tampak kacau.” Dalam perspektif ini, orang percaya dipanggil untuk melihat melampaui fakta kehidupan menuju karakter Allah yang setia.

Contoh konkret: mungkin hari ini kita menghadapi sakit, kehilangan pekerjaan, atau konflik keluarga. Namun, di tengah semua itu, Allah tetap baik. Dialah Allah yang menopang, memberi nafas, dan menjanjikan masa depan yang penuh pengharapan (Yeremia 29:11).

Maka di akhir hari, syukur kita bukanlah ucapan yang dipaksakan, tetapi pengakuan iman: “Tuhan, Engkau baik, walau hari ini tidak selalu baik.”

Dua, Bersyukur Menenangkan Hati

Ketika hari hampir berakhir, sering kali hati manusia gelisah. Pikiran dipenuhi dengan agenda esok, kecemasan akan masa depan, bahkan rasa bersalah atas kesalahan yang dilakukan. Namun, sikap syukur mampu menjadi penawar bagi hati yang resah.

Filipi 4:6–7 berkata: “Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”

Syukur dan damai sejahtera berjalan beriringan. Ketika kita belajar bersyukur, fokus kita beralih dari masalah kepada Allah yang lebih besar dari masalah itu. Hasilnya: hati menjadi tenang.

Seorang ahli teologi pastoral, Yakob Tomatala, menuliskan: “Ucapan syukur adalah bentuk pelepasan diri dari cengkeraman kekhawatiran, sebab dengan bersyukur kita menyerahkan kendali hidup sepenuhnya kepada Allah.” Pernyataan ini mengingatkan kita bahwa syukur adalah bentuk terapi rohani yang membebaskan hati dari beban.

Bayangkan seseorang yang sebelum tidur berdoa dengan syukur: “Tuhan, terima kasih untuk nafas hidup, untuk keluarga, untuk makanan hari ini, bahkan untuk masalah yang Kau izinkan, karena aku tahu Kau bekerja di balik semuanya.” Orang seperti ini akan tidur dengan hati yang tenang, bukan dengan gelisah.

Dengan kata lain, syukur adalah bantal rohani yang membuat kita bisa beristirahat dengan damai.

Tiga, Syukur Membuka Pintu Mujizat

Sering kali kita berpikir bahwa mujizat datang karena doa panjang atau usaha keras. Namun, Alkitab menunjukkan bahwa ucapan syukur adalah kunci yang membuka pintu mujizat Allah.

Ketika Yesus memberi makan lima ribu orang, Yohanes 6:11 mencatat: “Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur, lalu membagikan kepada mereka yang duduk di situ.” Mujizat kelimpahan dimulai dengan ucapan syukur atas roti yang sedikit.

Kisah serupa terjadi ketika Paulus dan Silas dipenjara. Kisah Para Rasul 16:25 mencatat: “Kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah...” Respon penuh syukur di tengah penderitaan membuka pintu penjara secara ajaib.

Stephen Tong, seorang pengkhotbah dan teolog Indonesia, pernah berkata: “Mujizat bukanlah hasil sihir, melainkan respons Allah terhadap iman yang hidup. Dan ucapan syukur adalah salah satu bentuk iman yang paling nyata.” Artinya, saat kita bersyukur, kita sedang mendeklarasikan iman bahwa Allah sanggup bekerja di luar logika. Itulah yang membuat syukur menjadi pintu masuk bagi kuasa Allah untuk dinyatakan. Di akhir hari, saat kita mengucap syukur, kita sedang membuka ruang bagi Tuhan untuk melakukan hal-hal besar dalam hidup kita.

Saudara-saudara, mengakhiri hari dengan syukur bukanlah sekadar ritual rohani, melainkan gaya hidup iman. Malam ini, mari kita ingat tiga kebenaran:

Syukur bukan karena keadaan, tapi karena Allah baik. Kondisi bisa berubah, tapi kebaikan Allah kekal. Bersyukur menenangkan hati. Dengan syukur, kita menyerahkan kekhawatiran kepada Allah dan menerima damai sejahtera-Nya. Syukur membuka pintu mujizat. Ucapan syukur memberi ruang bagi kuasa Allah bekerja melampaui logika kita.

Malam hari adalah saat terbaik untuk berkata: “Tuhan, terima kasih. Engkau baik sepanjang hari ini.” Dengan begitu, kita tidur bukan dalam kegelisahan, tetapi dalam damai, dan menyongsong esok hari dengan penuh pengharapan.

Post a Comment for "Mengucap Syukur Di Akhir Hari"