Bangun dan Bersyukur kepada Tuhan
Bangun dan Bersyukur kepada Tuhan ~ Landasan firman Tuhan untuk tema bangun dan bersyukur kepada Tuhan, diambil dari kitab Mazmur 92:2. Demikianlah sabda Tuhan, “Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada TUHAN, dan untuk menyanyikan mazmur bagi nama-Mu, ya Yang Mahatinggi”.
Setiap pagi adalah kesempatan baru yang Tuhan berikan kepada kita. Saat matahari terbit, itu bukan hanya rutinitas alamiah, melainkan tanda kasih setia Tuhan yang tidak pernah berkesudahan. Pemazmur mengajarkan bahwa salah satu respons paling tepat ketika kita membuka mata adalah dengan bersyukur. Bersyukur bukanlah sekadar ucapan singkat, melainkan sikap hati yang membentuk cara kita menjalani hidup di hari baru ini.
Seorang teolog, John Stott, menegaskan: “Syukur adalah tanda nyata dari kehidupan yang dipenuhi Roh Kudus; orang yang bersyukur tidak melihat kekurangan, melainkan memandang anugerah yang terus dicurahkan Allah.” (Stott, The Living Church, 2007). Artinya, syukur adalah gaya hidup, bukan sekadar momen sesaat. Mengapa kita harus bersyukur kepada Tuhan dalam hidup ini?
Bagian I: Karena Mengucap Syukur adalah
Kehendak Allah
1 Tesalonika 5:18 – “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” Syukur bukanlah pilihan tambahan, tetapi perintah Allah. Dalam segala keadaan, baik suka maupun duka, Allah menuntut kita untuk bersyukur. Mengapa? Karena dengan bersyukur, kita belajar melihat hidup dari perspektif Allah, bukan sekadar dari keterbatasan kita.
Yakob Tomatala, seorang teolog Indonesia, menulis: “Ucapan syukur dalam iman Kristen adalah tanda kedewasaan rohani. Orang yang hanya bisa bersyukur ketika diberkati, belum memahami esensi syukur. Tetapi orang yang bisa tetap bersyukur di tengah kesulitan, itulah orang yang telah mengalami kedewasaan iman.” (Teologi Praktis, 2010).
Syukur berarti mengakui bahwa Allah berdaulat. Setiap hari kita bangun bukan karena alarm, tapi karena anugerah Allah. Alarm bisa berbunyi, tapi kalau napas diambil, kita tidak akan bangun. Jadi, setiap pagi ketika kita membuka mata, itu sudah cukup alasan untuk berkata: “Terima kasih, Tuhan!”
Bagian II: Karena Mengucap Syukur Membawa
Kedamaian di Hati Kita
Filipi 4:6–7 – “Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah... akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”
Kekhawatiran adalah pencuri sukacita. Tetapi ketika kita bersyukur, hati kita mengalami ketenangan. Syukur adalah kunci untuk melepaskan beban dan merasakan damai yang melampaui akal.
Stephen Tong pernah menegaskan: “Syukur adalah obat rohani bagi jiwa yang gelisah. Dengan bersyukur, kita menundukkan diri pada kedaulatan Allah, dan di situlah hati kita menemukan damai.” (Ibadah yang Sejati, 2012).
Orang yang tidak bersyukur cenderung mengeluh, dan keluhan hanya menambah beban hidup. Sebaliknya, orang yang bersyukur belajar mengalihkan fokus dari masalah kepada Tuhan yang lebih besar daripada masalah itu.
Contoh praktisnya: ketika kita bangun di pagi hari dan memilih mengucapkan syukur atas napas, kesehatan, keluarga, atau bahkan hal sederhana seperti masih bisa merasakan udara segar, hati kita akan lebih damai dibanding jika kita bangun dengan keluhan tentang pekerjaan, tagihan, atau masalah hidup.
Bagian III: Karena Mengucap Syukur Membuka
Pintu Mujizat Tuhan bagi kita
Yohanes
6:11 – “Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagikannya kepada
mereka yang duduk di situ...”
Ketika Yesus memberi makan lima ribu orang, mujizat itu dimulai dengan ucapan syukur. Ia tidak menunggu roti berlimpah baru bersyukur, tetapi bersyukur atas lima roti dan dua ikan yang ada. Hasilnya? Terjadi kelimpahan.
Billy Graham (dikutip dalam terjemahan Indonesia) berkata: “Syukur mengubah yang sedikit menjadi cukup, yang cukup menjadi berkelimpahan, dan yang berkelimpahan menjadi berkat yang melimpah bagi banyak orang.” (The Secret of Happiness, 2010).
Inilah
rahasia iman: ketika kita bangun dan memilih bersyukur, kita sedang membuka
pintu bagi Tuhan untuk bekerja lebih besar dalam hidup kita. Syukur bukan hanya
sikap hati, tetapi juga magnet mujizat.
Banyak orang ingin mujizat dulu baru bersyukur. Tetapi iman Kristen mengajarkan sebaliknya: bersyukur dulu, baru mujizat akan dinyatakan. Itulah pola kerja Allah yang meneguhkan iman kita.
Kehidupan orang percaya seharusnya dimulai dengan bangun dan bersyukur. Bersyukur bukan sekadar rutinitas, melainkan gaya hidup yang memuliakan Allah dan mengubah hidup kita. Mengucap Syukur adalah kehendak Allah – tanda kedewasaan iman. Mengucap Syukur membawa kedamaian hati – obat bagi jiwa yang gelisah. Mengucap Syukur membuka pintu mujizat – iman yang aktif menghasilkan berkat berlimpah.
Jadi, ketika kita membuka mata di pagi hari, sebelum memegang ponsel, sebelum membaca berita, sebelum mengeluh tentang kesibukan, mari terlebih dahulu berkata: “Terima kasih Tuhan, hari ini adalah anugerah-Mu.”
Post a Comment for "Bangun dan Bersyukur kepada Tuhan"