Damai Sejahtera Di Tengah Kekhawatiran - Khotbah Kristen
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Damai Sejahtera Di Tengah Kekhawatiran

Damai Sejahtera di Tengah Kekhawatiran ~ Landasan firman Tuhan untuk tema damai sejahtera di tengah kekhawatiran, diambil dari surat rasul Paulus kepada jemaat di kota Filipi. Demikian sabda Tuhan, “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:7).

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, malam adalah waktu yang diciptakan Allah agar manusia beristirahat, memulihkan tenaga, dan menenangkan jiwa setelah seharian penuh dengan aktivitas. Tetapi, berapa banyak di antara kita yang justru tidak bisa tidur karena gelisah? Ada begitu banyak orang yang tubuhnya lelah, tetapi matanya tetap terbuka karena pikirannya dikuasai oleh kekhawatiran.

Firman Tuhan dalam Filipi 4:7 memberikan janji yang luar biasa: damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiran kita di dalam Kristus Yesus. Damai sejahtera itu bukan hasil usaha manusia, melainkan anugerah dari Allah sendiri.

Malam ini, mari kita renungkan tiga hal penting: (1) Kekhawatiran adalah pencuri tidur, (2) Damai Allah menjaga pikiran kita, dan (3) Serahkan doa, nikmati damai.

Bagian I: Kekhawatiran adalah Pencuri Waktu Tidur Kita

Matius 6:34 – “Sebab itu janganlah kamu khawatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Kekhawatiran adalah beban yang sering kita bawa ke tempat tidur. Alih-alih menutup mata dengan damai, kita justru memutar ulang masalah-masalah di kepala. Itulah sebabnya, kekhawatiran disebut pencuri tidur. Ia mencuri ketenangan malam, mencuri sukacita, bahkan mencuri kesehatan kita.

Seorang ahli teologi, John Stott, pernah menulis bahwa “kekhawatiran adalah bentuk ketidakpercayaan terhadap pemeliharaan Allah; ia menaruh beban masa depan yang belum tentu terjadi ke atas pundak hari ini.” Dengan kata lain, kekhawatiran adalah pembayaran bunga untuk utang yang belum tentu kita miliki.

Kekhawatiran bukan hanya masalah psikologis, tetapi juga rohani. Saat kita khawatir berlebihan, sebenarnya kita sedang meragukan kedaulatan Tuhan. Yesus sendiri menegaskan bahwa kekhawatiran tidak menambah sehasta pun kepada jalan hidup kita (Mat. 6:27).

Ilustrasi: Ada seorang ibu rumah tangga yang selalu khawatir tentang masa depan anak-anaknya. Setiap malam ia sulit tidur karena takut mereka gagal, takut mereka jatuh sakit, atau takut mereka tidak mendapatkan pekerjaan yang baik. Tetapi ketika ia belajar untuk menyerahkan mereka dalam doa, tidurnya mulai pulih. Ia menyadari, kekhawatirannya selama ini tidak pernah menyelesaikan apa pun, justru hanya mencuri kesehatannya.

Malam ini, mari kita jujur: berapa banyak jam tidur kita sudah dicuri oleh kekhawatiran? Allah ingin kita menyerahkan kecemasan itu, karena hanya Dia yang mampu menjaga esok hari.

Bagian II: Tetapi Damai Sejahtera Allah Menjaga Pikiran Kita

Yesaya 26:3 – “Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya.” Damai sejahtera Allah bukan sekadar ketenangan psikologis. Damai ini melampaui segala akal – artinya melampaui penjelasan logis manusia. Di tengah situasi yang seharusnya membuat kita panik, hati kita bisa tetap tenang karena Allah yang menjaganya.

William Barclay, seorang penafsir Perjanjian Baru, mengatakan: “Damai Allah bukan berarti bebas dari masalah, melainkan keadaan hati yang tetap tenang di dalam badai.” Dengan kata lain, damai sejahtera Allah bukan ketiadaan badai, melainkan kehadiran Allah di tengah badai.

Dalam bahasa Yunani, kata “memelihara” di Filipi 4:7 menggunakan istilah “phroureo”, yang berarti “menjaga seperti seorang prajurit menjaga kota.” Artinya, damai sejahtera Allah itu bertindak seperti penjaga yang melindungi hati dan pikiran kita dari serangan kecemasan.

Contoh Alkitab: Paulus sendiri menulis surat Filipi ketika ia berada di penjara. Seharusnya ia penuh kekhawatiran akan masa depannya. Tetapi justru di dalam penjara itulah ia berkata bahwa damai Allah menjaga hati dan pikirannya. Ini bukti bahwa damai sejahtera Allah nyata, bukan teori.

Saat dunia menawarkan obat tidur atau hiburan untuk meredakan kecemasan, Tuhan menawarkan damai sejahtera yang jauh lebih dalam. Damai itu bukan sekadar membuat kita bisa tidur, tetapi juga mengubah cara kita berpikir dan melihat hidup.

Bagian III: Serahkan Hidup Kita Kepada Tuhan Dalam Doa, dan Nikmati Damai-Nya

Filipi 4:6 – “Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Kunci menikmati damai Allah adalah doa. Paulus menghubungkan dua hal: jangan khawatir, tetapi berdoa. Doa bukan sekadar pelarian, melainkan penyerahan. Ketika kita menyerahkan kekhawatiran kepada Allah dalam doa, kita memberi kesempatan kepada Allah untuk bekerja dalam hidup kita.

Andrew Murray, seorang tokoh doa, menulis: “Doa bukanlah usaha kita untuk mengubah pikiran Allah, tetapi cara Allah mengubah hati kita agar selaras dengan kehendak-Nya.” Inilah yang membawa damai: bukan karena masalah langsung hilang, tetapi karena hati kita diselaraskan dengan kehendak Allah.

Doa yang disertai ucapan syukur juga penting. Mengapa? Karena ucapan syukur menegaskan iman kita bahwa Allah sudah bekerja, sekalipun jawabannya belum kita lihat.

Ilustrasi: Seorang pekerja yang kehilangan pekerjaan bisa saja jatuh dalam kekhawatiran. Tetapi ketika ia menyerahkan semuanya dalam doa, mengucap syukur bahwa Allah tidak pernah meninggalkannya, ia bisa merasakan damai di tengah ketidakpastian. Damai itulah yang memampukannya tetap tenang, bahkan sampai akhirnya Tuhan membuka jalan pekerjaan baru baginya.

Malam ini, mari kita belajar untuk berdoa dengan tulus, menyerahkan setiap kecemasan kepada Tuhan. Jangan hanya membawa beban ke dalam doa, lalu mengangkatnya kembali setelah selesai berdoa. Tinggalkan kekhawatiran itu di kaki Yesus, dan biarkan damai sejahtera-Nya memenuhi hati kita.

Saudara-saudara, ketika kita akan beristirahat malam ini, mari kita ingat tiga hal penting: Kekhawatiran adalah pencuri tidur – ia tidak menambah umur, justru merampas damai. Damai Allah menjaga pikiran kita – damai itu seperti prajurit yang menjaga kota, melindungi hati dan pikiran kita dari serangan gelisah. Serahkan doa, nikmati damai – doa dengan ucapan syukur adalah kunci untuk mengalami damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal.

Filipi 4:7 adalah janji yang bisa kita pegang: “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Maka, sebelum kita tidur malam ini, mari kita serahkan semua kekhawatiran kepada Tuhan. Biarkan damai sejahtera-Nya memenuhi hati kita, sehingga kita bisa tidur nyenyak, bangun dengan sukacita, dan menjalani hari esok dengan penuh pengharapan.

Amin.

Post a Comment for "Damai Sejahtera Di Tengah Kekhawatiran"