Pentingkah Seorang Bapa Rohani bagi Para Pendeta dan Penginjil ?
Pentingkah Seorang Bapa Rohani bagi Para Pendeta dan Penginjil ? Dalam perjalanan pelayanan, seorang pendeta dan penginjil tidak hanya membutuhkan keterampilan teologis dan pengalaman praktis, tetapi juga bimbingan rohani dari seorang Bapa Rohani. Bapa Rohani adalah seorang mentor atau pembimbing yang memiliki pengalaman lebih dalam kehidupan rohani dan pelayanan.
Alkitab menunjukkan bahwa hubungan antara seorang mentor dan muridnya sangat penting, seperti hubungan Paulus dengan Timotius (2 Timotius 1:2) dan Elia dengan Elisa (2 Raja-raja 2:9-10). Artikel ini akan membahas pentingnya seorang Bapa Rohani dalam tiga aspek utama: pembentukan karakter rohani, penguatan dalam pelayanan, dan perlindungan terhadap penyimpangan doktrinal.
Satu, Pembentukan Karakter Rohani.
Teladan dalam Kekudusan dan Integritas
Seorang Bapa Rohani membantu pendeta dan penginjil dalam pembentukan karakter rohani yang kuat. Seperti Paulus menasihati Timotius: “Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataan, dalam tingkah laku, dalam kasih, dalam kesetiaan dan dalam kesucian” (1 Timotius 4:12).
Karakter seorang pemimpin rohani sangat menentukan keberhasilan
pelayanannya. Tanpa bimbingan yang benar, seorang pendeta dapat mudah terseret
oleh dosa atau ambisi pribadi yang tidak sehat. Dietrich
Bonhoeffer menulis: “Pemuridan sejati adalah kehidupan yang dijalani dalam ketundukan kepada Kristus dan dibimbing oleh mereka yang lebih dewasa dalam iman”. Seorang Bapa Rohani membantu memastikan bahwa seorang hamba Tuhan tetap hidup dalam kesucian dan ketaatan kepada Kristus.
Pengembangan Kebiasaan Rohani
Pembentukan karakter juga mencakup pembiasaan diri dalam doa, membaca
firman Tuhan, dan kehidupan disiplin rohani. Seperti yang dinasihatkan Yesus
kepada murid-murid-Nya: “Berjaga-jagalah dan
berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut,
tetapi daging lemah” (Matius 26:41).
Bapa Rohani berperan dalam menanamkan disiplin rohani, mengingatkan dan mendorong pendeta serta penginjil untuk tetap setia dalam hubungan dengan Tuhan.
Dua, Penguatan dalam Pelayanan
Pendamping dalam Menghadapi Tantangan
Pelayanan sering kali penuh dengan tantangan dan tekanan. Tanpa seseorang yang mendampingi, seorang pendeta bisa merasa kesepian atau bahkan menyerah. Penulis Amsal menyatakan: “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi saudara dalam kesukaran” (Amsal 17:17).
Dalam sejarah gereja, banyak tokoh besar memiliki mentor yang mendukung mereka dalam pelayanan. John Wesley, misalnya, mendapat bimbingan dari Moravian Peter Böhler dalam pertumbuhan imannya.
Peningkatan Kapasitas Pelayanan
Bapa Rohani juga berperan dalam meningkatkan kapasitas pelayanan melalui pembinaan dan koreksi. Seperti yang dilakukan Paulus terhadap Timotius: “Karena itu, hai anakku, jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus. Apa yang telah engkau dengar daripadaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain” (2 Timotius 2:1-2).
Charles Spurgeon menekankan pentingnya mentoring dalam pelayanan: “Mereka yang ingin dipakai oleh Tuhan harus bersedia diajar
dan dibentuk oleh orang-orang yang lebih berpengalaman”.
Seorang Bapa Rohani membantu seorang pendeta dalam mengembangkan kemampuan berkhotbah, membangun jemaat, serta menangani berbagai situasi pastoral.
Tiga, Perlindungan terhadap Penyimpangan Doktrinal
Pengajaran yang Sehat dan Alkitabiah
Salah satu ancaman terbesar dalam pelayanan adalah penyimpangan doktrinal. Seorang Bapa Rohani membantu seorang pendeta atau penginjil untuk tetap berpegang pada ajaran yang benar. Rasul Paulus mengingatkan: “Berpeganglah pada contoh ajaran yang sehat yang telah engkau dengar dari aku dalam iman dan kasih dalam Kristus Yesus” (2 Timotius 1:13). Banyak penyimpangan doktrinal terjadi ketika seorang pemimpin rohani tidak memiliki seorang pembimbing yang dapat memberikan koreksi dan arahan yang benar.
Menghindari Kesombongan dan Penyalahgunaan Wewenang
Tanpa bimbingan, seorang pemimpin rohani bisa jatuh ke dalam kesombongan dan penyalahgunaan wewenang.
Yohanes Calvin menulis: “Pemimpin gereja harus selalu memiliki sikap rendah hati dan bersedia untuk diajar, sebab tidak ada seorang pun yang kebal terhadap kesalahan”. Bapa Rohani membantu seorang pendeta untuk tetap rendah hati dan bertanggung jawab dalam pelayanan.
Berdasarkan uraian di atas, jelas bahwa seorang Bapa Rohani memiliki peran yang sangat penting bagi pendeta dan penginjil dalam tiga aspek utama: pembentukan karakter rohani, penguatan dalam pelayanan, dan perlindungan terhadap penyimpangan doktrinal. Tanpa bimbingan seorang mentor, banyak pendeta dan penginjil dapat kehilangan arah, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam pelayanan.
Oleh karena itu, setiap pendeta dan penginjil sebaiknya memiliki seorang
Bapa Rohani yang dapat membimbing, menasihati, dan menguatkan mereka agar tetap
setia dalam panggilan Tuhan.
Sebagaimana Paulus menasihati Timotius: “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran” (2 Timotius 4:2).
Bimbingan seorang Bapa Rohani bukan hanya mendukung pertumbuhan pribadi seorang pendeta dan penginjil tetapi juga memastikan bahwa mereka tetap berada dalam jalur yang benar dalam melayani Tuhan dan umat-Nya.
Post a Comment for "Pentingkah Seorang Bapa Rohani bagi Para Pendeta dan Penginjil ?"