Perjumpaan Yang Memulihkan
Perjumpaan
yang memulihkan ~ Landasan firman Tuhan untuk tema
perjumpaan yang memulihkan diambil dari kitab Keluaran 4:1-17. Tujuan dari tema
perjumpaan yang memulihkan yaitu: 1) supaya setiap orang percaya mengerti bahwa
hidupnya hanya bisa dipulihkan melalui perjumpaan pribadi dengan Tuhan Yesus.
2) supaya setiap orang percaya menyadari bahwa perjumpaan yang memulihkan
dengan Tuhan Yesus memotivasinya untuk hidup menjadi berkat bagi orang lain.
Ketika Tuhan melawat secara
pribadi dan memanggil Musa, saat itu Musa adalah pribadi yang terpecah. Sebagai
pembunuh yang melarikan diri, Musa ditekan rasa bersalah, ketakutan dan
ketidakpastian dalam hidupnya. Namun perjumpaan Musa dan Tuhan mengubah segalanya.
Musa mengalami perubahan yang luar bisa menjadi pribadi yang utuh yang dipakai
Tuhan untuk misi Allah yang luar biasa besar.
Bagaimana sebenarnya pribadi
Musa saat itu? Hal ini tergambar dari dua pertanyaan Musa kepada Tuhan, yaitu:
Siapakah aku? (ayat
11)
Sebagai pelarian, Musa telah
kehilangan identitas dirinya sedemikian rupa sehingga pendidikan terbaik yang
ia raih ketika ia dibesarkan putri Firaun di istana sepertinya tidak
berpengaruh apa-apa pada dirinya.
Gambaran seperti ini juga
banyak terlihat pada orang-orang yang memiliki mekanisme hidup sebagai
pelarian, yaitu orang-orang yang takut menghadapi kenyataan hidup dan coba
melupakan hal-hal yang melukai jiwanya.
Jawaban Tuhan atas masalah
pribadi Musa ini adalah: Aku menyertaimu dan memiliki rencana istimewa bagimu.
Keyakinan akan hal inilah yang akan mengubah kita menjadi pribadi yang utuh.
Siapakah Engkau?
(ayat 13)
Musa tidak hanya bingung
tentang siapa dirinya, tetapi ternyata ia juga bingung tentang siapakah Tuhan
itu. Karena Musa tidak sungguh-sungguh mengenal Tuhan maka ia terus-menerus
terpenjara dengan masa lalunya yang jahat, kemanapun ia lari masa lalunya terus
mengejarnya.
Tetapi dengan kelembutan
Tuhan mengenalkan pribadi-Nya yang tidak pernah berubah dan tidak mungkin bisa
dimanipulasi, yaitu: “Aku adalah Aku”. Pribadi yang terpecah akan menjadi pulih
dan utuh ketika ia berjumpa secara pribadi dengan Tuhan (pemulihan roh).
Pribadi Tuhan yang sempurna, tidak pernah berubah dan mengasihinya tanpa syarat
akan memulihkan seseorang.
Ketika seseorang mengalami
kehadiran Tuhan, maka perkataan Tuhan akan membentuk kembali identitasnya
secara benar. Hidupnya tidak lagi dibentuk oleh masa lalunya atau reaksi orang
terhadapnya, tetapi oleh kasih dan penerimaan Tuhan atas dirinya. Inilah yang
terjadi dengan Musa, bagaimana dengan Anda?
Selain bingung dengan
dirinya dan dengan Penciptanya, ciri lain pribadi yang terpecah dapat kita
pelajari lagi dari sosok Musa dari Nats Alkitab kita hari ini.
Apa kata orang
kepadaku
Bagi Musa penilaian dan
reaksi orang lain terhadap dirinya sangatlah penting untuk menilai dirinya
sehingga Musa berkata kepada Tuhan seperti ini: "Bagaimana jika mereka
tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata:
TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?" (ayat 1).
Tuhan kemudian berkata, “Apa
yang di tanganmu itu?” Tuhan mengarahkan Musa untuk mulai menyadari, bahwa ia
punya sesuatu yang bisa diberkati Tuhan, sesuatu untuk melakukan pekerjaan
Allah yang besar. Sesuatu yang di tangan Musa itu adalah tongkat yang setiap
hari dia pegang dan dia pakai untuk bekerja menggembalakan domba.
Ketika kita menilai diri
kita berdasarkan apa kata orang, bagaimana ia menilai dan bereaksi, maka konsep
diri kita akan terbentuk secara negatif. Tetapi Tuhan berkata, bahwa apa yang
ada pada kita saat ini – tidak peduli bagaimana orang lain menilai dan bereaksi
– kalau kita persembahkan kepada Tuhan, Ia bisa memberkatinya dan mengubahnya
menjadi sesuatu yang luar biasa.
Aku tidak pandai
bicara
Pribadi yang terpecah
seperti Musa kecenderungannya hanya melihat sisi negatif dari dirinya, maka ia
kemudian berkata Tuhan: "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulu
pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab aku berat
mulut dan berat lidah.
Tuhan kemudian menegaskan
kepada Musa, bahwa Dialah yang menciptakan lidah. Jadi tidak masalah bagi
Tuhan, entah Musa pandai bicara atau sulit bicara. Ketika Tuhan memilih dan
memanggil seseorang, Tuhan mampu merubah orang itu agar sanggup memenuhi
panggilan-Nya.
Fokus pada kekurangan dan
kelemahan adalah ciri orang yang pribadinya terpecah, Tuhan datang dalam hidup
seseorang untuk mengubah fokus yang salah tersebut sehingga kita bisa melihat,
bahwa di dalam Tuhan, kelemahan justru menjadi kesempatan untuk menikmati kasih
karunia dan kuasa-Nya yang besar.
Post a Comment for "Perjumpaan Yang Memulihkan"