Bahaya Keputusasaan Hidup Part 1 - Khotbah Kristen
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bahaya Keputusasaan Hidup Part 1

Bahaya keputusasaan hidup ~ Landasan firman Tuhan untuk tema tentang bahaya keputusasaan hidup diambil dari surat rasul Paulus kepada jemaat di Korintus, yaitu dalam 2 Korintus 4:16-18. Ada banyak faktor yang membuat banyak orang mengalami keputusasaan hidup. Misalnya masalah rumah tangga, masalah ekonomi, masalah sakit-penyakit. Pemicu keputusasaan hidup juga beragam. Reaksi terhadap keputusasaan hidup juga beragam.

Suatu penelitian tentang ikan besar dalam aquarium dan ikan kecil dalam kaca. Ikan besar ingin melahap ikan-ikan kecil itu, tetapi karena ikan-ikan kecil itu dalam kaca sulit baginya untuk menaklukkan. Setiap kali ikan besar itu menghampiri mangsanya, setiap kali itu pula ia menabrak dinding kaca pembatas. Namun karena rasa lapar, ikan besar kembali mencoba dan terus mencoba hingga akhirnya ikan besar itu menjadi tawar hati dan berhenti berjuang.

Beberapa jam kemudian, penelitian dilanjutkan. Kotak kaca dibuka dan ikan-ikan kecil dikeluarkan sehingga ikan-ikan kecil bebas berenang. Tidak ada lagi penghalang antara ikan besar dan ikan-ikan kecil. Di luar dugaan, ikan-ikan kecil itu secara leluasa berenang di sekitar ikan besar tanpa ada rasa takut. Tidak hanya itu, ikan-ikan berani mendekat sambil menyentuh sirip, insang atau ekor ikan besar. Anehnya, ikan besar tetap saja diam, padahal ia dapat dengan mudah menyantap ikan-ikan kecil tersebut.


Kesimpulan penelitian rupanya ikan besar tampaknya telah menjadi “tawar hati” sehingga beranggapan semua usaha yang dilakukannya selalu mendatangkan kegagalan.

Tawar hati adalah racun yang sangat membahayakan bagi kelangsungan makhluk hidup. Kita tidak akan lagi bersemangat kalau sudah tawar hati. Pekerjaan dan pelayanan yang dilakukan dengan hati yang tawar, tidak akan menciptakan etos dan hasil kerja yang maksimal. Maraknya kasus bunuh diri atau membunuh orang lain kerap disebabkan faktor tawar hati atau patah hati.

Pertanyaan penting yang harus diajukan ialah: “Bagaimana supaya kita tidak tawar hati dalam mengiring dan melayani Tuhan?” Berdasarkan firman Tuhan dalam 2 Korintus 4:16-18, maka ada beberapa hal penting yang harus kita lakukan, yaitu:

Satu, berorientasi pada kemajuan batiniah – 2 Korintus 4:16.
Rasul Paulus menulis: “Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari”.
Kata “tawar hati” dalam bahasa Yunani menggunakan kata “ouk ekkakoumen”. Kata “ouk ekkakoumen” hendak menegaskan bahwa tindakan untuk tidak tawar hati sebagai fakta yang harus dilakukan secara terus-menerus dalam berbagai situasi dan kondisi. Artinya adalah apapun situasinya dan bagaimanapun kondisi fisik kita yang terus merosot bukanlah alasan bagi kita untuk tawar hati. Mengapa? Karena memang secara alamiah atau natural tubuh kita ini pasti merosot.

Baru-baru inikan lagi heboh di dunia maya khususnya tentang aplikasi faceapp bagaimana wajah dibuat untuk menjadi mudah dan untuk menjadi tua.
Istri saya iseng dia. Foto saya diubah menjadi muda kembali, lalu dia posting ke facebook, ada yang komentar pak gembala kenapa ga pake yang tuaan? Saya balas komennya ga ah karena belum waktunya. Lalu dibalas sama dia setuju...

Selanjutnya istri saya ambil foto kami berdua, lalu dimasukan ke aplikasi faceapp lalu memilih menjadi tua, setelah itu diposting ke facebook. Banyak jemaat komentar...pak gembala jadi bule ya...

Rasul Paulus tegaskan: “Kami tidak tawar hati meskipun manusia lahiriah terus merosot...”. Artinya bahwa kekuatan kita bukan terletak pada fisik, intelektual dan talenta kita. Orang yang berotot kekar, pintar, kaya dan terampil tidak menjamin mereka bisa tahan uji ketika mengalami penderitaan dalam hidup. Data membuktikan bahwa banyak orang kaya, dan pintar yang hidup dalam kesedihan dan kepahitan bahkan tidak sedikit yang mengakhiri hidupnya secara tragis.

Rasul Paulus menegaskan bahwa untuk mengatasi kemerosotan fisik, maka yang harus dilakukan adalah merawat hidup batiniah kita setiap hari. Karena kekuatan manusia batiniah kita lebih dahsyat dibandingkan dengan kekuatan lahiriah kita. Kekuatan kita yang hakiki bersumber  dari dalam diri kita (internal power) dan bukan kekuatan dari luar kita (external power).

Oleh karena itu, mari kita sungguh-sungguh memperhatikan kehidupan batiniah kita. Kita berusaha merawatnya dengan membaca firman Tuhan setiap hari, berdoa kepada Allah senantiasa, memperkuat iman kita dengan bersekutu bersama tubuh Kristus dan selalu mengucap syukur senantiasa kepada Allah Tritunggal.

Bersambung...!

Post a Comment for "Bahaya Keputusasaan Hidup Part 1"