Translate

Natal Dan Orang Majus

Setiap membicarakan tentang natal, maka pembicaraan kita tidak saja seputar natal itu sendiri tetapi ada rangkai dari mata rantai cerita natal yang harus juga perlu kita perhatikan, yaitu orang majus. Tentu kehadiran orang majus di dalam kisah natal bukan terjadi secara kebetulan. Semua telah didesain oleh Allah jauh sebelum peristiwa natal itu sendiri. Karena itu, kita harus melihat kepentingan orang maju di dalam peristiwa natal sebagai sebuah pelajaran teologis dalam konteks penyelamatan Allah bagi dunia ini. Orang-orang majus adalah orang-orang kafir, karena itu mereka percaya benar kepada tahyul. Pandangan mereka terhadap langit dan bumi serta hubungan antara keduanya penuh dengan kekeliruan. Kendati demikian, ada beberapa hal yang dapat kita ambil dari mereka, yaitu:

1. Pandangan yang teliti
Setelah mereka melihat bintang itu, segera mereka tahu bahwa Tuhan mau berfirman kepada mereka, Sering mereka salah mengerti karena sebenarnya hubungan langit dan bumi adalah lain daripada yang mereka perkirakan. Tetapi sekali ini mereka tidak salah perhitungan. Bintang itu sungguh memberitakan kedatangan seorang Raja. Kedatangan seorang Raja ini berkaitan dengan peristiwa natal. Sekali ini betul-betul langit menyatakan apa yang akan terjadi di bumi. Akan tetapi raja itu bukanlah seorang raja biasa. Ia adalah penyelamat semesta alam, di dalam Dia bertemu langit dan bumi, karena Ia mau membebaskan kedua-duanya. Natal menarik perhatian dan membutuhkan ketelitian untuk memahaminya secara baik dan benar.

2. Kerinduan mereka
Dalam peristiwa natal ada bintang sebagai petunjuk arah bagi orang majus. Namun, bintang itu saja tidak cukup membawa orang-orang majus ke Betlehem. Sebenarnya cukuplah kalau mereka memberitahukan yang dilihatnya itu kepada sahabat-sahabatnya yang lain, lalu tinggal di rumah saja. Akan tetapi, Tuhan tidak membiarkan mereka berbuat demikian. Setelah bintang itu tampak kepada mereka, mereka pun berangkat. Dalam pada itu, mereka tidak memikirkan sedikit pun kepentingan mereka. Mereka ingin melihat dan menyembah Raja yang baru lahir itu. Mereka berangkat bukan untuk mendapat hadiah dari sang Raja atau dari Bapa-Nya, sebaliknya mereka mau menyampaikan persembahan kepada Raja itu. Orang majus itu mau mencari Raja untuk hatinya. Itulah yang digerakkan Tuhan pada diri mereka. Natal sesungguhnya bukan saja kerinduan Tuhan untuk menyelamatkan kita, namun natal juga merupakan kerinduan kita untuk bertemu Tuhan dan menyembah Dia sebab Dia Raja kita, Junjungan kita yang mulia, yang kepada-Nya kita persembahkan totalitas hidup kita.


3. Ketekunan mereka
Pandangan yang teliti terhadap segala tanda yang Tuhan berikan, dapat membuat mereka berpikir. Pikiran itupun dapat tergerak, kalau kita menyelidiki pimpinan Tuhan di dunia dan dalam hidup kita. Pun kerinduan kepada seorang Raja dapat menggerakkan kita. Akan tetapi kedua hal itu belumlah sanggup untuk membawa kita kepada Yesus, masih perlu lagi pedoman yang lain. Berangkatlah orang-orang majus itu. Jalan yang mereka tempuh panjang benar, banyak rintangan dan kesulitan yang harus diatasi. Memang tidak ada orang yang akan sampai ke palungan di Betlehem kalau tidak mengalami berbagai kesusahan lebih dahulu.

Pertama, mereka ditimpa berbagai-bagai kesusahan di tengah jalan. Ketika mereka tiba di Yerusalem tidak ada orang yang tahu tentang kelahiran Raja yang baru itu. Khalayak ramai menertawakan mereka. Orang-orang terkemuka, ahli-ahli Taurat tahu bahwa Raja itu akan lahir di Betlehem, namun mereka tidak percaya kepada-Nya. Seorang pun dari antara mereka tidak ada yang ingin turut ke Betlehem. Ketidak-percayaan, olok-olokkan dan hati yang membantu, itulah yang ditemukan orang-orang majus di Yerusalem. Mungkinkah bintang itu menipu mereka? Atau barangkali kerinduan mereka telah menyesatkannya? Pada waktu itu hanya satu petunjuk jalan yang dapat memimpin mereka, yaitu hati yang tekun. Mereka memegang teguh tanda yang nampak pada mereka. Dengan tidak mengindahkan kecewa dan rintangan, mereka terus mencari Raja Sang Bayi Natal yang baru lahir itu, biarpun seluruh dunia harus mereka tempuh dan semua orang menertawakan mereka.

4. Percaya kepada firman Tuhan
Dalam natal, ada firman Tuhan yang disampaikan. Dan satu hal yang didapat oleh orang majus di Yerusalem adalah nubuat nabi Mikha. Nubuat itu berharga benar bagi mereka. Mikha menyebut Betlehem, karena itu mereka segera menuju ke sana. Mereka menyerahkan dirinya kepada pimpinan sabda Tuhan. Sudah lama bintang itu tak tampak lagi kepada mereka. Di tengah dunia yang gelap ini, hanya nubuat Mikhalah yang dapat menuntun mereka. Lalu mereka menuju ke tempat Yesus di bawah pimpina firman Tuhan.

Tak ada orang yang bisa sampai kepada Yesus, kalau tidak dibawah pimpinan firman Tuhan. Betul Tuhan memberikan tanda dan dapat menimbulkan kerinduan dalam hati kita, akan tetapi hanya firman Tuhan saja yang dapat memimpin kita sampai ke palungan Betlehem. Orang-orang majus dari Timur menerima kata-kata firman Tuhan dengan hati yang beriman, lalu mereka menempuh jalan yang ditunjukkan kepada mereka. Sedang mereka menuju ke Betlehem, bintang itu tampak lagi dan memancarkan cahayanya seolah mau mengatakan bahwa kamu berada di jalan yang benar. Sungguh baik kamu percaya kepada firman Tuhan yang dinubuatkan nabi Mikha.

5. Kerendahan hati
Natal selalu identik dengan kerendahan hati. Setiba di kota itu, mereka tetap mengikuti bintang itu dan akhirnya sampailah mereka di tempat di mana Maria dan Sang Bayi Natal yaitu Yesus nama-Nya. Tempat itu bukan istana, bukan rumah yang indah, melainkan kecil, sederhana yaitu kandang dan palungan tempat Yesus dibaringkan. Kamudian mereka melakukan suatu perbuatan yang paling besar dalam hidup mereka yakni menyembah Sang Bayi Natal, Raja di atas segala Raja, yaitu Yesus. Besar kemungkinan mereka sangat kecewa menjumpai seorang Raja yang demikian miskinnya, dan mereka harus mengesampingkan segala tinggi hatinya ketika mereka berlutut di muka Raja itu. Seandainya firman Tuhan tidak begitu tegas dan jelas kepada mereka, tentu mereka sudah berbalik dengan segera. Akan tetapi bukan begitu sikap mereka. Mereka tidak malu masuk ke dalam kandang yang hina itu, tidak malu pula menyembah anak kecil yang tidak mulia. Orang-orang majus itu tidak lagi memandang yang duniawi atau yang lahiriah saja, mereka telah mengerti bahwa kadang-kadang Tuhan memberikan karunia-Nya yang terbesar dalam selubung yang hina. Bagaimana dengan Anda?

Post a Comment for "Natal Dan Orang Majus"