Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Keluarga: Muliakan Tuhan Melalui Persembahan

Keluarga: Muliakan Tuhan Melalui Persembahan
“Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya” (Amsal 3:9-10).

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 28-2 Tawarikh 1

Pada abad ke-19, ada sebuah keluarga sederhana di Inggris yang dikenal karena kesetiaan mereka dalam mendukung pelayanan penginjilan dan pendidikan Kristen. Keluarga itu bukan bangsawan besar ataupun pemilik kekayaan luar biasa. Namun, mereka memiliki satu prinsip rohani: “Apa yang kami miliki adalah milik Tuhan.” Setiap kali menerima penghasilan, mereka selalu memisahkan bagian pertama untuk pekerjaan Tuhan. Ketika banyak keluarga hidup untuk menumpuk harta, keluarga ini memilih mendukung penerbitan Alkitab, pelayanan misi, dan bantuan bagi anak-anak miskin.

Suatu ketika, usaha keluarga itu mengalami krisis besar. Banyak orang mengira mereka akan berhenti memberi persembahan. Tetapi kepala keluarga berkata, “Kami tidak akan menghormati Tuhan dengan sisa hidup kami; kami akan menghormati-Nya dengan yang terbaik.” Anehnya, di tengah kesulitan itu, Tuhan membuka jalan baru melalui relasi bisnis yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Kesaksian hidup mereka menjadi inspirasi bagi gereja pada masa itu bahwa persembahan bukan sekadar soal uang, melainkan soal hati yang memuliakan Tuhan.

Amsal 3:9-10 mengajarkan bahwa keluarga Kristen dipanggil untuk memuliakan Tuhan melalui harta dan hasil pertama dari penghasilan. Kata “muliakanlah” menunjukkan tindakan penghormatan dan penyembahan. Artinya, persembahan bukan hanya rutinitas ibadah Minggu, tetapi ekspresi iman bahwa Tuhan adalah sumber segala berkat.

Sering kali manusia modern menjadikan persembahan sebagai “opsi terakhir.” Setelah semua kebutuhan terpenuhi, barulah memberi kepada Tuhan. Padahal Alkitab justru mengajarkan prinsip sulung: Tuhan menerima prioritas, bukan sisa. Tuhan tidak membutuhkan uang manusia, tetapi Tuhan ingin melihat apakah hati keluarga benar-benar percaya kepada-Nya.

Ada tiga aplikasi praktis yang dapat dilakukan keluarga Kristen, yaitu:

Pertama, jadikan memberi sebagai budaya rohani dalam keluarga. Orang tua perlu mengajar anak-anak bahwa memberi kepada Tuhan adalah kehormatan, bukan beban. Anak-anak yang melihat teladan sejak kecil akan belajar hidup tidak dikuasai materialisme. Dompet boleh tipis, tetapi iman jangan ikut “mode hemat.” Tuhan melihat kesetiaan, bukan nominal semata.

Kedua, belajarlah memberi dengan sukacita. Persembahan yang memuliakan Tuhan lahir dari hati yang bersyukur. Jangan memberi dengan terpaksa atau penuh keluhan. Keluarga yang bersyukur akan lebih mudah melihat bahwa setiap nafkah berasal dari pemeliharaan Tuhan.

Ketiga, percayalah pada pemeliharaan Tuhan. Janji dalam Amsal bukan berarti semua orang langsung menjadi kaya raya, tetapi Tuhan sanggup mencukupkan kebutuhan umat-Nya. Tuhan tidak pernah berutang kepada orang yang hidup setia kepada-Nya.

Keluarga yang memuliakan Tuhan melalui persembahan sedang membangun warisan iman yang jauh lebih berharga daripada kekayaan dunia. Sebab harta bisa habis, tetapi hidup yang menghormati Tuhan akan menjadi kesaksian bagi generasi berikutnya.

Doa:
Tuhan Allah yang penuh kasih, ajar kami sebagai keluarga untuk memuliakan Engkau melalui persembahan kami. Bentuk hati yang tidak terikat pada cinta uang, tetapi penuh iman dan ucapan syukur. Biarlah setiap berkat yang kami terima dipakai untuk kemuliaan nama-Mu dan menjadi saluran berkat bagi sesama. Dalam nama TuahnYesus kami berdoa. Amin.

 


Post a Comment for "Keluarga: Muliakan Tuhan Melalui Persembahan"

Translate