Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Keluarga Mitra Allah dalam Pelayanan

Keluarga Mitra Allah dalam Pelayanan

“Saudaraku yang kekasih, engkau bertindak sebagai orang percaya dalam segala sesuatu yang engkau lakukan untuk saudara-saudara seimanmu, sekalipun mereka adalah orang-orang asing. Mereka telah bersaksi tentang kasihmu di hadapan jemaat. Baik benar perbuatanmu, jika engkau mengantar mereka dalam perjalanan mereka, seperti yang berkenan kepada Allah” (3 Yohanes 1:5-6).

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 21-24

Seorang pendeta di daerah pedalaman pernah menceritakan kisah tentang sebuah keluarga sederhana yang hidupnya dipakai Tuhan secara luar biasa. Mereka bukan keluarga kaya. Rumah mereka kecil dan penghasilan mereka pas-pasan. Namun, setiap kali ada hamba Tuhan, penginjil, atau mahasiswa pelayanan datang ke kota mereka, keluarga itu selalu membuka pintu rumahnya. Mereka menyediakan tempat tidur, makanan hangat, bahkan uang transport seadanya. Anak-anak mereka ikut membantu melayani tamu dengan sukacita.

Suatu hari seseorang bertanya kepada kepala keluarga itu, “Mengapa Bapak begitu repot melayani orang lain?” Dengan tersenyum ia menjawab, “Kami mungkin tidak bisa berkhotbah ke banyak tempat, tetapi kami bisa menjadi tangan Tuhan yang menopang mereka yang melayani.” Jawaban itu sederhana, tetapi sangat dalam. Mereka memahami bahwa pelayanan bukan hanya berdiri di mimbar, melainkan juga menjadi mitra Allah dengan mendukung pekerjaan-Nya.

Itulah yang dilakukan Gayus dalam Surat 3 Yohanes. Rasul Yohanes memuji kesetiaannya karena ia menerima dan membantu saudara-saudara seiman yang sedang melayani, bahkan orang-orang yang belum ia kenal sebelumnya. Tindakan itu dianggap sebagai perbuatan yang “berkenan kepada Allah.” Artinya, Tuhan melihat dukungan terhadap pelayanan sebagai bagian penting dari pelayanan itu sendiri.

Hari ini banyak orang berpikir pelayanan hanya untuk pendeta, penginjil, atau pemimpin gereja. Padahal setiap orang percaya dipanggil menjadi mitra Allah. Ada yang melayani dengan berkhotbah, ada yang menopang dengan doa, tenaga, perhatian, rumah, bahkan secangkir kopi dan sepiring makanan. Jangan remehkan pelayanan kecil. Di mata Tuhan, kesetiaan kecil bisa berdampak besar bagi Kerajaan Allah. Heaven notices what humans often ignore. Tuhan tidak pernah buta terhadap kasih yang tulus.

Berikut tiga aplikasi praktis yang dapat kita lakukan, yaitu:

Pertama, dukung pelayan Tuhan dengan kasih yang nyata. Belajarlah memperhatikan kebutuhan hamba Tuhan, guru Sekolah Minggu, misionaris, atau siapa pun yang melayani. Dukungan kecil dapat menguatkan mereka untuk tetap setia.

Kedua, jadikan rumah dan keluarga sebagai alat pelayanan. Bukalah hati untuk menolong sesama. Rumah yang dipenuhi kasih dapat menjadi tempat pemulihan dan penguatan bagi banyak orang.

Ketiga, libatkan seluruh anggota keluarga dalam pelayanan. Ajarkan anak-anak untuk memberi, menolong, dan melayani sejak dini. Pelayanan keluarga yang dilakukan bersama akan menjadi kesaksian yang hidup.

Pelayanan bukan tentang siapa yang paling terkenal, tetapi siapa yang paling setia dipakai Tuhan. Ketika kita menolong pekerjaan Tuhan bertumbuh, sebenarnya kita sedang menjadi mitra Allah dalam menghadirkan kasih-Nya di dunia.

Doa:

Tuhan Allah yang penuh kasih, terima kasih karena Engkau memberi kami kesempatan untuk menjadi mitra-Mu dalam pelayanan. Ajarlah kami memiliki hati yang murah, penuh kasih, dan rela menolong pekerjaan-Mu. Pakailah keluarga kami sebagai alat berkat bagi banyak orang. Biarlah setiap tindakan kecil yang kami lakukan membawa kemuliaan bagi nama-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.🙏


Post a Comment for "Keluarga Mitra Allah dalam Pelayanan"

Translate