Keluarga: Bersukacita Dalam Memberi
Keluarga: Bersukacita Dalam Memberi
“Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Korintus 9:7).
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 25-27
Pada abad ke-10, terdapat sebuah kisah dari wilayah Cappadocia di Asia Kecil tentang sebuah keluarga Kristen sederhana yang hidup di tengah musim paceklik panjang. Sang ayah bekerja sebagai pengrajin kayu, sementara istrinya menenun kain untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga. Persediaan makanan mereka sangat terbatas. Namun suatu malam, seorang pengembara tua mengetuk pintu rumah mereka dalam keadaan lapar dan kedinginan.
Anak-anak keluarga itu sebenarnya berharap makanan terakhir di rumah dapat disimpan untuk esok hari. Tetapi sang ibu berkata dengan lembut, “Jika Tuhan memberi kita kesempatan berbagi hari ini, berarti Tuhan juga sanggup memelihara hari esok.” Mereka lalu menyambut pengembara itu dengan sukacita, memberikan roti terakhir dan tempat beristirahat yang hangat.
Keesokan harinya, tetangga-tetangga mereka datang membawa gandum dan minyak sebagai ucapan terima kasih karena keluarga itu selama ini sering membantu orang lain tanpa pamrih. Keluarga itu menangis haru. Mereka menyadari bahwa sukacita memberi tidak pernah membuat hidup menjadi miskin, justru membuka jalan bagi pemeliharaan Tuhan yang ajaib.
Firman Tuhan dalam 2 Korintus 9:7 menegaskan bahwa Allah tidak hanya melihat jumlah pemberian kita, tetapi juga hati di balik pemberian itu. Memberi dengan terpaksa menghasilkan kelelahan rohani, tetapi memberi dengan sukacita menghasilkan damai sejahtera dan rasa cukup di dalam Tuhan. Dalam keluarga Kristen, budaya memberi perlu ditanamkan bukan sebagai beban, melainkan sebagai gaya hidup iman.
Dunia hari ini sering mengajarkan prinsip “simpan sebanyak mungkin untuk diri sendiri.” Tetapi Kerajaan Allah bekerja dengan prinsip yang berbeda: tangan yang terbuka untuk memberi akan dipenuhi oleh kasih karunia Tuhan. Sukacita sejati ternyata bukan ditemukan ketika kita menerima lebih banyak, melainkan ketika kita menjadi saluran berkat bagi orang lain.
Ada tiga aplikasi praktis yang dapat
dilakukan keluarga Kristen, yaitu:
Pertama, biasakan
memberi bersama sebagai keluarga. Libatkan anak-anak ketika memberi
persembahan, membantu orang yang membutuhkan, atau mendukung pelayanan Tuhan.
Dengan demikian, mereka belajar bahwa memberi adalah bagian dari ibadah.
Kedua, memberi
bukan hanya uang, tetapi juga waktu, perhatian, dan kasih. Kadang seseorang
lebih membutuhkan telinga yang mau mendengar daripada sekadar bantuan materi.
Ketiga, belajarlah memberi dengan iman, bukan dengan ketakutan. Tuhan sanggup mencukupkan kebutuhan keluarga yang hidup dalam ketaatan kepada-Nya.
Keluarga yang bersukacita dalam memberi akan menjadi keluarga yang dipenuhi ucapan syukur. Sebab ketika kita memberi dengan hati yang rela, kita sedang mencerminkan karakter Kristus yang terlebih dahulu memberikan hidup-Nya bagi kita.
Doa:
Tuhan Allah yang penuh kasih, ajarlah keluarga kami untuk memiliki hati yang murah dan penuh sukacita dalam memberi. Jauhkan kami dari sikap egois dan cinta uang. Biarlah rumah tangga kami menjadi saluran berkat bagi banyak orang dan memuliakan nama-Mu melalui setiap tindakan kasih yang kami lakukan. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.🙏
.png)
Post a Comment for "Keluarga: Bersukacita Dalam Memberi"