Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Keluarga : Menabur dalam Iman, Menuai Berkat

Keluarga : Menabur dalam Iman, Menuai Berkat

“Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Korintus 9:6-7).

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 17-21

Pada abad ke-19, hiduplah seorang pengusaha Kristen bernama George Müller yang terkenal karena pelayanan panti asuhannya di Inggris. Dalam suatu kesaksian, ada sebuah keluarga sederhana yang tergerak untuk memberi sebagian besar tabungan mereka guna mendukung pelayanan anak-anak yatim yang sedang kekurangan makanan. Secara manusia, keputusan itu terlihat nekat. Setelah memberi, mereka sendiri hanya memiliki sedikit persediaan makanan di rumah. Namun, mereka percaya bahwa Tuhan sanggup memelihara hidup mereka.

Beberapa hari kemudian, secara tidak terduga sang ayah mendapatkan tawaran pekerjaan baru dengan penghasilan yang jauh lebih baik. Tidak lama sesudah itu, keluarga mereka juga menerima bantuan dari seseorang yang bahkan tidak mengetahui kondisi mereka. Mereka menyadari satu hal penting: Tuhan tidak pernah berhutang kepada anak-anak-Nya yang memberi dengan iman.

Firman Tuhan dalam surat Paulus kepada jemaat Korintus mengajarkan prinsip rohani yang sangat dalam: siapa yang menabur banyak akan menuai banyak. Ini bukan sekadar berbicara tentang uang, tetapi tentang hati yang percaya kepada Tuhan. Memberi kepada pekerjaan Tuhan adalah tindakan iman. Dunia berkata, “Simpan supaya aman,” tetapi iman berkata, “Percaya kepada Tuhan yang memelihara.”

Keluarga Kristen dipanggil bukan hanya menjadi penerima berkat, tetapi juga penyalur berkat. Ketika sebuah keluarga belajar memberi untuk pelayanan, penginjilan, gereja, dan orang yang membutuhkan, keluarga itu sedang menabur benih rohani yang akan menghasilkan buah pada waktunya.

Berikut tiga aplikasi praktis yang dapat kita lakukan, yaitu:

Pertama, jadikan memberi sebagai budaya keluarga. Ajarkan anak-anak sejak kecil untuk menyisihkan sebagian berkat bagi pekerjaan Tuhan. Keluarga yang belajar memberi bersama akan belajar percaya bersama.

Kedua, memberi dengan sukacita, bukan keterpaksaan. Tuhan melihat hati, bukan jumlahnya. Persembahan kecil yang diberikan dengan kasih lebih berharga daripada pemberian besar yang penuh keluhan. Jangan memberi sambil “ngedumel level nabi Habakuk.” Tuhan suka hati yang tulus.

Ketiga, percaya bahwa Tuhan adalah sumber pemeliharaan. Sering kali ketakutan membuat orang sulit memberi. Namun, firman Tuhan mengingatkan bahwa Allah sanggup mencukupkan kebutuhan umat-Nya. Apa yang ditabur dalam iman tidak akan sia-sia.

Keluarga yang suka memberi akan mengalami sukacita rohani, damai sejahtera, dan pemeliharaan Tuhan yang ajaib. Berkat terbesar bukan hanya materi, tetapi melihat Tuhan yang nyata bekerja dalam kehidupan keluarga.

Doa:

Tuhan Allah yang penuh kasih, ajar kami menjadi keluarga yang murah hati dan setia mendukung pekerjaan-Mu. Lepaskan kami dari hati yang takut dan egois. Berikan kami iman untuk percaya bahwa Engkau adalah sumber segala berkat. Pakailah keluarga kami menjadi saluran kasih dan pertolongan bagi banyak orang. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.🙏

Post a Comment for "Keluarga : Menabur dalam Iman, Menuai Berkat"

Translate