Jika Allah Tahu Manusia Akan Jatuh Ke Dalam Dosa, Mengapa Ia Masih Menciptakannya ?
Jika Allah Tahu Manusia Akan Jatuh Ke Dalam Dosa, Mengapa Ia Masih Menciptakannya ? ~ Relasi antara Allah dan manusia merupakan pusat dari seluruh kisah Alkitab. Sejak halaman pertama Kitab Kejadian hingga penggenapannya dalam Kristus, Alkitab menyingkapkan sebuah drama ilahi: Allah yang Mahakudus menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, manusia yang jatuh ke dalam dosa, dan Allah yang tetap setia mengejar ciptaan-Nya dengan kasih penebusan.
Pertanyaan tentang kejatuhan manusia bukan sekadar problem moral, tetapi juga problem teologis yang menyentuh doktrin tentang kemahatahuan Allah, kehendak bebas manusia, dan tujuan penciptaan itu sendiri. Jika Allah Mahatahu, apakah Ia mengetahui bahwa manusia akan jatuh dalam dosa? Jika Ia tahu, mengapa Ia tetap menciptakan manusia? Dan apa sesungguhnya tujuan Allah menciptakan manusia sejak semula? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak hanya relevan secara akademik, tetapi juga eksistensial bagi iman Kristen.
1. Apakah Allah Tahu bahwa Manusia Akan Jatuh dalam
Dosa?
Alkitab secara konsisten menyatakan bahwa Allah adalah Allah yang Mahatahu. Tidak ada satu pun peristiwa dalam sejarah, termasuk kejatuhan manusia, yang terjadi di luar pengetahuan-Nya. Mazmur 139:1–4 dengan jelas menyatakan bahwa Allah mengenal manusia secara menyeluruh, bahkan sebelum kata-kata terucap di lidah.
Pengetahuan Allah tidak dibatasi oleh waktu; Ia mengetahui awal,
pertengahan, dan akhir sejarah sekaligus. Yesaya 46:9–10 menegaskan bahwa Allah
memberitakan akhir dari awal dan segala sesuatu yang belum terjadi. Dalam
terang doktrin kemahatahuan ini, secara teologis sulit untuk menyangkal bahwa
Allah mengetahui kemungkinan—bahkan kepastian—kejatuhan manusia ke dalam dosa.
Kejadian 2–3 memperlihatkan bahwa Allah memberikan perintah yang jelas kepada manusia tentang pohon pengetahuan yang baik dan jahat. Pemberian perintah ini sendiri mengandung implikasi bahwa ketidaktaatan adalah sebuah kemungkinan nyata. Allah tidak sedang bereksperimen atau bertindak naif; Ia adalah Pencipta yang sadar penuh akan konsekuensi dari kebebasan yang Ia anugerahkan kepada manusia.
Namun, penting untuk ditegaskan bahwa pengetahuan Allah tentang kejatuhan manusia tidak sama dengan penyebab kejatuhan itu sendiri. Yakobus 1:13 menyatakan dengan tegas bahwa Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat dan tidak mencobai siapa pun. Dosa tidak berasal dari Allah, melainkan dari kehendak manusia yang memilih untuk menyimpang dari firman-Nya. Dalam Roma 5:12, Paulus menjelaskan bahwa dosa masuk ke dalam dunia melalui satu orang, dan oleh dosa itu maut, bukan melalui keputusan Allah untuk menciptakan dosa.
Dengan demikian, Allah mengetahui kejatuhan manusia tanpa menjadi pelaku atau penyebab dosa itu. Pengetahuan ilahi tidak meniadakan tanggung jawab manusia. Di sinilah kita melihat ketegangan yang sah dalam teologi Kristen antara kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia—sebuah ketegangan yang tidak untuk disederhanakan, tetapi untuk diakui sebagai misteri iman yang disaksikan oleh Kitab Suci itu sendiri.
2. Jika Allah Tahu Manusia Akan Jatuh dalam Dosa,
Mengapa Allah Tetap Menciptakan Manusia?
Pertanyaan ini sering muncul sebagai keberatan filosofis maupun teologis: mengapa Allah menciptakan manusia jika Ia tahu bahwa penciptaan itu akan berujung pada dosa, penderitaan, dan kematian? Jawaban Alkitab tidak pernah menyatakan bahwa penciptaan manusia adalah sebuah kesalahan ilahi. Sebaliknya, Kejadian 1:31 menegaskan bahwa segala sesuatu yang dijadikan Allah itu “sungguh amat baik.” Kebaikan ini tidak dibatalkan oleh fakta kejatuhan, melainkan menunjukkan maksud Allah yang lebih besar daripada sekadar keadaan manusia yang tidak berdosa.
Salah satu kunci jawabannya terletak pada konsep kasih. Kasih sejati, menurut Alkitab, tidak pernah bersifat paksaan. Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:8), dan Ia menciptakan manusia untuk mengasihi dan dikasihi dalam relasi yang nyata. Relasi semacam ini mensyaratkan kebebasan. Tanpa kebebasan untuk memilih, ketaatan manusia hanyalah mekanis, bukan relasional. Ulangan 30:19 menunjukkan bahwa sejak awal Allah menempatkan pilihan di hadapan manusia: kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk.
Dengan menciptakan manusia yang bebas, Allah membuka kemungkinan ketidaktaatan, tetapi juga membuka kemungkinan kasih yang sejati. Allah tidak menciptakan manusia sebagai robot moral, melainkan sebagai pribadi yang mampu merespons-Nya dengan kesadaran dan tanggung jawab. Risiko dosa bukanlah kegagalan rencana Allah, melainkan konsekuensi dari pemberian kebebasan yang bermakna.
Lebih jauh lagi, Perjanjian Baru menunjukkan bahwa penciptaan manusia tidak dapat dipisahkan dari rencana penebusan Allah. Wahyu 13:8 menyebut Kristus sebagai Anak Domba yang telah disembelih sejak dunia dijadikan. Ini menunjukkan bahwa salib bukanlah “rencana cadangan” Allah, melainkan bagian integral dari rencana kekal-Nya. Roma 8:28–30 menegaskan bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, sesuai dengan rencana-Nya yang kekal.
Allah tetap menciptakan manusia karena Ia bermaksud menyatakan kemuliaan-Nya secara penuh—bukan hanya sebagai Pencipta, tetapi juga sebagai Penebus. Dalam kejatuhan manusia, kasih karunia Allah dinyatakan dengan cara yang tidak mungkin terjadi jika manusia tidak pernah jatuh. Efesus 1:4–7 menegaskan bahwa pemilihan dan penebusan dalam Kristus telah direncanakan sebelum dunia dijadikan, supaya manusia hidup bagi puji-pujian kemuliaan kasih karunia-Nya.
3. Apa Sesungguhnya Tujuan Allah Menciptakan
Manusia?
Tujuan Allah menciptakan manusia tidak pernah direduksi hanya pada keberadaan biologis atau moral semata. Alkitab menyatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:26–27). Ini berarti manusia dipanggil untuk merepresentasikan Allah di dalam ciptaan, hidup dalam relasi dengan-Nya, dan memuliakan-Nya melalui kehidupan yang taat dan bermakna.
Yesaya 43:7 menyatakan bahwa manusia diciptakan untuk kemuliaan Allah. Kemuliaan di sini bukan sekadar pujian verbal, melainkan kehidupan yang mencerminkan karakter Allah—kekudusan, kasih, keadilan, dan kebenaran. Dalam Mazmur 8, pemazmur mengagumi posisi manusia yang dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, serta dipercayakan untuk mengelola ciptaan Allah. Ini menunjukkan bahwa tujuan penciptaan manusia bersifat relasional dan fungsional: manusia hidup di hadapan Allah dan menjalankan mandat-Nya di dunia.
Dalam terang Perjanjian Baru, tujuan penciptaan manusia mencapai kepenuhannya di dalam Kristus. Kolose 1:16 menyatakan bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Kristus bukan hanya Penebus manusia yang jatuh, tetapi juga pusat dari maksud penciptaan itu sendiri. Roma 8:29 menegaskan bahwa tujuan akhir Allah adalah menjadikan manusia serupa dengan gambaran Anak-Nya.
Dengan demikian, tujuan Allah menciptakan manusia adalah agar manusia hidup dalam persekutuan dengan Allah, mencerminkan kemuliaan-Nya, dan akhirnya mengambil bagian dalam pembaruan ciptaan melalui Kristus. Wahyu 21–22 menggambarkan penggenapan tujuan ini: Allah diam bersama manusia, dan manusia menikmati persekutuan yang sempurna dengan Allah tanpa dosa, penderitaan, dan maut.
Kejatuhan manusia tidak membatalkan tujuan Allah, tetapi justru
menegaskan kesetiaan Allah terhadap tujuan-Nya. Dari penciptaan, kejatuhan,
penebusan, hingga pemulihan akhir, Alkitab menyaksikan satu benang merah: Allah
yang setia pada ciptaan-Nya dan pada maksud kasih-Nya. Manusia diciptakan bukan
karena Allah membutuhkan manusia, melainkan karena Allah berkenan membagikan
hidup, kasih, dan kemuliaan-Nya kepada ciptaan yang Ia kasihi.
Post a Comment for "Jika Allah Tahu Manusia Akan Jatuh Ke Dalam Dosa, Mengapa Ia Masih Menciptakannya ?"