Sebelum Yesus Berinkarnasi, Manusia Menyembah Siapa?
Sebelum Yesus Berinkarnasi, Manusia Menyembah Siapa? ~ Pertanyaan “sebelum Yesus berinkarnasi, manusia menyembah siapa?” bukanlah pertanyaan sederhana. Di baliknya tersimpan isu kristologis, trinitarian, dan sejarah penyataan Allah. Pertanyaan ini sering muncul dalam dialog teologis lintas iman maupun dalam refleksi iman internal Kekristenan sendiri. Apakah manusia sebelum kelahiran Yesus di Betlehem menyembah Allah yang sama? Jika Yesus adalah Tuhan, di mana Ia berada sebelum inkarnasi? Dan bagaimana memahami pernyataan Yesus: “Sebelum Abraham ada, Aku telah ada” (Yohanes 8:58)?.
Untuk menjawabnya, kita perlu kembali kepada kesaksian Alkitab secara utuh bukan secara parsial dan menelusuri penyataan Allah secara progresif dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru.
1. Allah yang Disembah Manusia Sejak Awal: Allah
Pencipta
Alkitab dibuka dengan deklarasi fundamental iman monoteistik: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” (Kejadian 1:1)
Manusia sejak awal relasinya dengan Allah mengenal Dia sebagai Pencipta, Pemelihara, dan Sumber kehidupan. Adam dan Hawa tidak mengenal Allah sebagai konsep abstrak, melainkan sebagai Pribadi yang berelasi, berbicara, memberi perintah, dan berjalan bersama manusia (Kejadian 3:8). Allah yang disembah manusia pra-inkarnasi adalah YHWH (TUHAN), Allah yang esa, hidup, dan personal. Ia bukan ilah lokal atau tribal, melainkan Tuhan atas seluruh ciptaan.
2. Penyembahan Para Patriark: Allah yang Menyatakan
Diri
Pada masa para patriark (Abraham, Ishak, Yakub), Allah dikenal dengan
berbagai sebutan yang menekankan sifat dan karya-Nya:
El Shaddai – Allah Yang Mahakuasa (Kejadian 17:1). El Elyon – Allah Yang Mahatinggi (Kejadian 14:18–20). YHWH – TUHAN yang mengikat perjanjian. Abraham menyembah Allah yang memanggilnya keluar dari Ur-Kasdim, berjanji memberkati segala bangsa melalui keturunannya (Kejadian 12:1–3). Penyembahan ini bukan penyembahan kepada “allah lain”, melainkan kepada Allah yang sama yang kelak menyatakan diri-Nya secara penuh dalam Kristus. Menariknya, janji kepada Abraham memiliki dimensi kristologis, meskipun belum dipahami sepenuhnya saat itu.
3. Allah dalam Sejarah Israel: TUHAN yang
Menyelamatkan
Dalam peristiwa Keluaran, Allah menyatakan nama-Nya secara eksplisit: “AKU
ADALAH AKU.” (Keluaran 3:14). Nama ini menegaskan eksistensi
Allah yang kekal, mandiri, dan tidak bergantung pada ciptaan.
Israel menyembah Allah yang sama, Allah yang membebaskan, memimpin, dan berdiam
di tengah umat-Nya.
Mazmur, kitab para nabi, dan hukum Taurat seluruhnya berakar pada penyembahan kepada TUHAN yang esa: “Dengarlah, hai Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!” (Ulangan 6:4). Namun, dalam kesatuan Allah ini, Perjanjian Lama menyimpan isyarat-isyarat misterius tentang kompleksitas internal dalam diri Allah.
4. Isyarat Pra-Inkarnasi dalam Perjanjian Lama
Perjanjian Lama tidak menyajikan doktrin Tritunggal secara eksplisit,
tetapi menyediakan fondasi yang kuat: Firman Allah sebagai Pribadi Aktif.
“Dengan firman TUHAN langit telah dijadikan.” (Mazmur 33:6)
Hikmat Allah yang Kekal. “TUHAN telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya.” (Amsal 8:22). Malaikat TUHAN yang berbicara sebagai Allah, menerima penyembahan, dan memiliki otoritas ilahi (Kejadian 16; Keluaran 3). Semua ini mengarah pada realitas bahwa Allah yang esa menyatakan diri-Nya secara personal dan aktif jauh sebelum inkarnasi Kristus.
5. Inkarnasi Bukan Awal Eksistensi Yesus
Perjanjian Baru menegaskan secara eksplisit bahwa Yesus tidak mulai ada saat Ia dilahirkan. “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” (Yohanes 1:1). Yesus adalah Firman kekal yang menjadi manusia (Yohanes 1:14). Inkarnasi bukan penciptaan Yesus, melainkan pengosongan diri-Nya (Filipi 2:6–7).
6. “Sebelum Abraham Ada, Aku Telah Ada”
Pernyataan Yesus dalam Yohanes 8:58 adalah salah satu deklarasi
kristologis paling radikal: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum
Abraham jadi, Aku telah ada.” Yesus tidak berkata “Aku sudah ada”, tetapi
menggunakan bentuk “Aku ada” (ego eimi), istilah yang secara langsung
merujuk pada nama ilahi dalam Keluaran 3:14.
Reaksi orang Yahudi yang hendak melempari Yesus dengan batu menunjukkan bahwa mereka memahami klaim ini sebagai klaim keilahian. Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Allah yang sama yang disembah Abraham.
7. Kesinambungan Objek Penyembahan
Dengan demikian, Alkitab menegaskan satu kebenaran penting: Allah yang disembah manusia sebelum inkarnasi adalah Allah yang sama yang
menyatakan diri dalam Yesus Kristus.
Perbedaannya bukan pada siapa yang disembah, melainkan pada tingkat penyataan: Sebelum inkarnasi: Allah dikenal melalui janji, bayangan, simbol, dan nubuat. Dalam Kristus: Allah dikenal secara penuh dan personal “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.” (Yohanes 14:9).
8. Implikasi
Teologis bagi Iman Kristen
Penyembahan Kristen bersifat historis dan berakar. Iman Kristen bukan agama baru, melainkan penggenapan dari penyataan Allah yang telah berlangsung sejak awal. Kristus adalah pusat sejarah keselamatan. Ia bukan reaksi Allah terhadap dosa, melainkan rencana kekal Allah (1 Petrus 1:20). Yesus adalah Allah yang layak disembah. Karena Ia adalah Allah yang sama yang disembah Abraham, Musa, dan para nabi.
Sebelum Yesus berinkarnasi, manusia menyembah Allah yang esa, TUHAN
pencipta langit dan bumi. Alkitab menegaskan bahwa Yesus Kristus bukanlah
Allah yang berbeda atau baru, melainkan Allah yang sama yang sejak
semula menyatakan diri-Nya kepada umat manusia.
Inkarnasi tidak mengubah identitas Allah, tetapi memperjelas dan
mempersonalisasi-Nya. Dalam Yesus, Allah yang dahulu hanya dapat dikenal
melalui bayangan kini dapat dikenal secara langsung.
Dengan demikian, iman Kristen berdiri di atas fondasi yang kokoh:
Allah yang disembah sejak Kejadian adalah Allah yang hadir dalam Yesus
Kristus, Tuhan yang kekal, yang ada sebelum Abraham, dan yang akan tetap ada
untuk selama-lamanya.
Post a Comment for "Sebelum Yesus Berinkarnasi, Manusia Menyembah Siapa?"