Mengandalkan Tuhan Sepenuhnya
Mengandalkan Tuhan Sepenuhnya ~ Landasan firman Tuhan untuk tema mengandalkan Tuhan sepenuhnya, diambil dari kitab Amsal. Demikianlah sabda Tuhan, “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu” (Amsal 3:5–6).
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 19-21
Seorang pengusaha muda pernah membagikan kisahnya. Ia sangat terampil menyusun strategi, membaca peluang, dan menghitung risiko. Namun ketika krisis ekonomi datang, semua perhitungannya runtuh. Proyek gagal, keuangan terguncang, dan rasa percaya diri pun hancur. Dalam keputusasaan, ia berkata, “Selama ini aku mengandalkan kepintaranku, bukan Tuhan.”
Ia
mulai berdoa dengan sungguh-sungguh, menyerahkan rencana hidupnya kepada Tuhan.
Perlahan, Tuhan membuka jalan bukan selalu mudah, tetapi jelas. Ia belajar satu
pelajaran mahal namun berharga: mengandalkan Tuhan sepenuhnya jauh lebih aman
daripada mengandalkan diri sendiri.
Amsal 3:5–6 adalah panggilan radikal bagi setiap orang percaya. Ayat ini tidak sekadar mengajak kita percaya kepada Tuhan sebagian, tetapi dengan segenap hati. Artinya, iman bukan aksesori rohani, melainkan fondasi hidup. Banyak orang percaya Tuhan saat keadaan baik, tetapi kembali bersandar pada logika dan kekuatan sendiri ketika menghadapi tekanan.
“Janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri” bukan berarti menolak akal budi. Alkitab tidak anti-pikiran. Namun, ayat ini menegaskan bahwa pengertian manusia terbatas, sementara hikmat Tuhan tak terbatas. Ketika kita menjadikan logika manusia sebagai otoritas tertinggi, kita sedang membatasi karya Tuhan dalam hidup kita.
Kata kunci berikutnya adalah “akuilah Dia dalam segala lakumu.” Ini berarti melibatkan Tuhan secara sadar dalam setiap aspek hidup: keputusan kecil maupun besar, pekerjaan, keluarga, pelayanan, bahkan rencana masa depan. Mengakui Tuhan bukan hanya berdoa saat krisis, tetapi hidup dengan kesadaran bahwa Tuhan hadir dan memimpin setiap langkah.
Janji Tuhan sangat indah: “Ia akan meluruskan jalanmu.” Tuhan tidak selalu memberi jalan pintas, tetapi Ia memberi jalan yang benar. Kadang jalan itu berliku, kadang menuntut kesabaran, tetapi selalu menuju tujuan-Nya yang baik. Jalan yang diluruskan Tuhan adalah jalan yang membawa kita semakin serupa dengan kehendak-Nya.
Renungan ini mengajak kita bercermin: Apakah kita benar-benar mengandalkan Tuhan, atau hanya melibatkan-Nya sebagai “opsi terakhir”? Iman sejati terlihat bukan saat kita punya segalanya, tetapi saat kita bersedia melepaskan kendali dan percaya penuh kepada Tuhan.
Doa
Tuhan
yang penuh hikmat, aku mengakui bahwa sering kali aku lebih percaya pada
pengertianku sendiri daripada kepada-Mu. Ampunilah aku. Ajarlah aku untuk
mengandalkan Engkau dengan segenap hati, mengakui Engkau dalam setiap langkah
hidupku. Pimpinlah jalanku sesuai kehendak-Mu, dan bentuklah hidupku agar
memuliakan nama-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.🙏

Post a Comment for "Mengandalkan Tuhan Sepenuhnya"