Kalau Yesus Datang Hari Ini, Siap Malu atau Siap Dimuliakan? - Khotbah Kristen
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kalau Yesus Datang Hari Ini, Siap Malu atau Siap Dimuliakan?

Kalau Yesus Datang Hari Ini, Siap Malu atau Siap Dimuliakan? ~ Landasan firman Tuhan untuk kalau Yesus datang hari ini, siap malu atau siap dimuliakan? diambil dari kitab Wahyu. Demikianlah sabda Tuhan, “Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin” (Wahyu 1:7).

Bayangkan bila hari ini langit terbuka, sangkakala bergema, dan Kristus turun dalam kemuliaan-Nya: apa respon kita? Nitip senyum penuh sukacita — atau tertunduk malu karena merasa tak layak dijumpai Sang Mempelai Surgawi? Kebenaran penting dari iman Kristen adalah: Yesus pasti datang kembali. Bukan “jika”, tetapi “kapan”. Kedatangan-Nya akan menjadi momen pemisahan antara mereka yang siap dimuliakan dan mereka yang tertinggal dalam penyesalan. Rasul Paulus dengan tegas mengingatkan bahwa “Hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam” (1 Tesalonika 5:2). Karena itu, urgensi kesiapan menjadi sorotan terpenting dalam hidup orang percaya. Materi khotbah ini mengajak jemaat merenungkan, memeriksa, dan menata ulang hidup agar kedatangan Yesus menjadi perjumpaan yang membahagiakan, bukan memalukan.

Satu, Hidup dalam Penantian yang Kudus

“Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan dirinya, sama seperti Dia adalah suci” (1 Yohanes 3:3). Menanti kedatangan Kristus bukan berarti berpangku tangan, melainkan hidup dalam pengudusan aktif. Rasul Yohanes menekankan bahwa pengharapan eskatologis harus mendorong transformasi etis. Orang yang sungguh percaya Kristus akan kembali, akan menjaga kekudusan hidup sebagai bentuk keseriusan iman.

John Stott pernah berkata, “Kekudusan adalah bukti nyata seseorang hidup dalam terang pengharapan surgawi”. Dengan kata lain, kesiapan rohani tak diukur dari seberapa sering kita hadir di gereja, tetapi seberapa serius kita bergumul untuk meninggalkan dosa, membenci kejahatan, dan mencintai kebenaran.

Di tengah budaya kompromi moral dan normalisasi dosa, gereja dipanggil menjadi komunitas yang berbeda. Sebagaimana garam menjaga daging dari kebusukan, orang Kristen menjaga dunia dari kehancuran melalui kesalehannya. Ketika Kristus datang, Ia menuntut bukan popularitas kita di dunia, tetapi kemurnian hati di hadapan-Nya. Sudahkah kita mengambil keputusan radikal menjauh dari dosa? Ataukah selama ini kekristenan kita hanyalah topeng agar diterima lingkungan? Kedatangan Yesus kelak akan menelanjangi semua kemunafikan dan meneguhkan mereka yang sungguh hidup kudus.

Dua, Bersaksi dengan Hidup yang Berdampak

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Matius 5:16). Yesus datang bukan hanya mencari mereka yang suci, tetapi mereka yang berguna. Murid sejati bukan hanya menjaga hidup tetap bersih, tetapi juga menghasilkan buah yang memberkati banyak orang.

John Wesley mengatakan, “Ibadah sejati bukanlah saat kita di dalam gereja, tetapi ketika hidup kita menjadi berkat setelah keluar dari gereja.” Dengan kata lain, setiap orang percaya dipanggil menjadi terang di tengah kegelapan dunia, membawa dampak nyata bagi lingkungan sekitar.

Apakah kehadiran kita sebagai orang Kristen membuat dunia lebih baik? Ataukah kita hanya menjadi “penikmat berkat” tanpa jadi penyalur berkat? Ketika Kristus datang, Ia akan menilai bukan besarnya pelayanan kita, tetapi kesetiaan kita menghasilkan buah roh – kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, dll. (Galatia 5:22–23).

Orang Kristen yang siap dimuliakan adalah mereka yang hidupnya signifikan; menghadirkan Injil bukan hanya dengan kata, tetapi dengan gaya hidup, sehingga tetangga, teman kerja, bahkan musuh sekalipun tidak bisa menyangkal: “Dia pengikut Kristus sejati.”

Sebaliknya, orang yang hidup hanya untuk diri sendiri – meski aktif beragama – akan dibuat malu saat kedatangan Sang Raja. Karena mereka akan menyadari semua pencapaian duniawi tanpa nilai kekekalan hanyalah kesia-siaan belaka.

Tiga, Berjaga dengan Iman yang Bertekun Sampai Akhir

“Barangsiapa bertahan sampai pada kesudahannya, ia akan diselamatkan” (Matius 24:13). Kesiapan sejati bukan hanya soal start yang baik, tetapi finish yang kuat. Banyak orang Kristen antusias di awal, namun mundur perlahan oleh godaan, kenyamanan, atau penderitaan. Yesus mengingatkan supaya kita tetap berjaga-jaga karena Ia datang pada saat yang tidak diduga (Matius 24:42). Hal ini membutuhkan ketekunan iman – terus setia ketika doa belum dijawab, ketika pelayanan tidak dihargai, atau ketika godaan semakin kuat.

Dietrich Bonhoeffer mengatakan, “Ketaatan sejati dibuktikan bukan oleh keberanian sesaat, melainkan oleh kesetiaan yang panjang.” Dalam era last days, iman sering kali diuji. Dunia menawarkan berbagai kenyamanan instan yang mengikis kesetiaan kepada Kristus. Tapi mereka yang tetap teguh, sekalipun jalan penuh air mata, kesendirian, atau pengorbanan, akan menerima mahkota kemuliaan (2 Timotius 4:7–8).

Ketekunan membuktikan kualitas iman yang otentik. Jemaat Tuhan harus terus on fire dalam doa, giat dalam firman, aktif dalam pelayanan, dan tidak mundur walau realita hidup keras. Saat Yesus datang, Ia mencari bukan mereka yang hebat, tetapi mereka yang tetap setia sekalipun tidak dipandang dunia. Mereka itulah yang akan dimuliakan.

Saudara, pertanyaannya bukan apakah Yesus akan datang, tapi apakah kita siap? Bila Ia datang hari ini, apakah kita tersenyum penuh harap atau tertunduk malu penuh sesal? Mari periksa hati:

Adakah kekudusan di hidup kita? Adakah dampak nyata dari iman kita? Adakah ketekunan setia sampai akhir?

Jika belum, masih ada waktu, mumpung Tuhan belum datang. Pakailah detik hidup ini untuk merapikan segala kekacauan rohani, memperbaiki relasi, meninggalkan dosa, dan menyalakan kembali semangat menjadi garam serta terang dunia. Kiranya ketika sangkakala berbunyi dan penghulu malaikat berseru, kita termasuk orang-orang yang bersorak: “Inilah Tuhan yang kita nantikan!” (Yesaya 25:9), bukan orang-orang yang lari bersembunyi karena malu.

Kalau Yesus datang hari ini… kita siap malu atau dimuliakan?
(Diam-diam… jawab dalam hatimu. Lalu hiduplah sesuai jawabannya.)

Post a Comment for "Kalau Yesus Datang Hari Ini, Siap Malu atau Siap Dimuliakan?"