Bagaimana Mengisi Kemerdekaan ?
Bagaimana Mengisi Kemerdekaan ~ Landasan firman Tuhan untuk tema bagaimana mengisi kemerdekaan, diambil dari surat rasul Paulus kepada jemaat di Galatia. Demikianlah sabda Tuhan, “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih” (Galatia 5:13).
Kemerdekaan adalah kata yang begitu memukau—terdengar indah, menggugah semangat, dan sering dikumandangkan dalam berbagai momentum, baik secara nasional maupun pribadi. Namun, Alkitab memberi perspektif lebih mendalam: kemerdekaan bukan sekadar bebas dari belenggu, tetapi terutama tentang bagaimana mengisi kebebasan itu dengan tujuan ilahi.
Rasul Paulus menegaskan kepada jemaat di Galatia bahwa kemerdekaan di dalam Kristus bukanlah tiket untuk hidup sesuka hati, melainkan panggilan untuk hidup dalam kasih dan pelayanan. Di tengah dunia modern yang semakin menuntut kebebasan sebagai hak absolut, gereja perlu kembali menafsirkan makna freedom in Christ supaya tidak tergelincir dalam penyalahgunaan. Dengan demikian, kita bukan hanya merayakan kemerdekaan, tetapi benar-benar menghidupinya dalam realitas sehari-hari demi hormat bagi Kristus.
Satu, Menyadari Sumber Kemerdekaan Sejati
(Galatia 5:1)
“Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” Kemerdekaan yang sejati tidak bersumber dari usaha manusia, pendidikan, ideologi, atau revolusi sosial, melainkan dari karya penebusan Kristus di kayu salib.
Paulus mengingatkan jemaat Galatia agar tidak kembali terikat hukum Taurat sebagai syarat keselamatan. Artinya, kebebasan rohani diberikan Kristus agar manusia terbebas dari dosa, kutuk hukum Taurat, dan maut.
Dr. John Stott menegaskan, “Kemerdekaan Kristen adalah pelepasan dari ikatan dosa, bukan pembenaran untuk hidup dalam dosa.”¹
Dalam konteks modern, banyak orang Kristen masih hidup dilingkari mentalitas “usaha sendiri”—merasa akan semakin diterima Allah jika semakin banyak berbuat. Padahal, inti Injil adalah grace-based freedom. Kemerdekaan bukan sekadar status hukum, tetapi posisi rohani yang membebaskan dari rasa bersalah akibat dosa lama, dari takut dihukum, maupun dari upaya legalistis. Menyadari sumber kemerdekaan berarti hidup dalam syukur dan kerendahan hati, bukan sombong rohani.
Dr. Billy Kristanto mengatakan, “Hidup merdeka dalam Injil berarti sadar bahwa semua berasal dari kasih karunia, sehingga tidak ada alasan untuk bermegah atas diri sendiri.”²
Ketika kita paham sumber kemerdekaan kita adalah Kristus, maka respon logis kita ialah bersandar penuh pada karya-Nya dan menjaga diri agar tidak menggunakan kebebasan tersebut sebagai dalih untuk hidup sembarangan. Seperti kata Paulus, “berdirilah teguh” – artinya jemaat harus mempertahankan Injil sejati dari segala bentuk penyimpangan (baik liberalisme maupun legalisme). Dengan demikian, kita menapaki kemerdekaan dalam atmosfer hormat dan ketaatan.
Dua, Mengisi Kemerdekaan dengan Kasih dan
Pelayanan (Galatia 5:13b)
“…janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” Kemerdekaan dalam perspektif Alkitab tidak bercorak egoistik, melainkan altruistik: mengarahkan manusia untuk aktif melayani. Paulus secara eksplisit menolak ide bahwa kebebasan berarti boleh menuruti keinginan daging. Sebaliknya, kemerdekaan Kristen harus terwujud dalam pelayanan yang lahir dari kasih.
Prof. H.N. Ridderbos menyatakan, “Kebebasan yang dianugerahkan Kristus memampukan umat-Nya menjadi hamba kasih bagi sesama, bukan budak hawa nafsu.”³
Mengisi kemerdekaan berarti menggunakan semua talenta, waktu, dan kesempatan demi membangun sesama. Ini kontras dengan gaya hidup dunia yang menafsirkan kemerdekaan sebagai kebebasan tanpa batas: bebas berkata kasar di media sosial, bebas memenuhi gaya hidup konsumtif, atau bebas memilih standar moral sendiri. Paulus mengingatkan bahwa jenis kebebasan itu justru kembali mengikat manusia dalam perbudakan baru—yaitu dosa.
Ketika kasih menjadi motivasinya, pelayanan tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan ekspresi sukacita seorang yang telah dimerdekakan. Keluarga Allah harus menjadi ruang pelayanan saling membangun. Gereja yang merdeka dalam Kristus memikirkan nasib kaum kecil, melayani mereka yang lemah, dan terlibat dalam misi.
Dr. Stephen Tong berkata, “Pelayanan kasih adalah bukti paling nyata bahwa Injil telah membebaskan hati seseorang.”⁴
Jadi, bagaimana kita mengisi kemerdekaan? Jadilah pelayan. Tidak semua orang dipanggil berkhotbah, tetapi semua orang dipanggil mengasihi. Ketika jemaat saling melayani, gereja menjadi komunitas yang menghidupi kemerdekaan Injil, bukan hanya mengajarkannya.
Tiga, Memelihara Kemerdekaan dengan
Berjalan menurut Roh (Galatia 5:16)
“Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.” Paulus mengingatkan bahwa kemerdekaan dapat rusak bila seseorang kembali diperbudak oleh keinginan daging. Solusinya adalah hidup dipimpin oleh Roh Kudus. Kebebasan Kristen bukanlah kebebasan tanpa kendali, melainkan kebebasan untuk hidup terkendali oleh Roh.
Dr. Charles Ryrie menulis, “Kebebasan rohani tanpa kendali Roh berujung pada kekacauan, tetapi kebebasan yang dipimpin Roh menghasilkan kekudusan.”⁵
Berjalan menurut Roh berarti peka terhadap suara-Nya, taat pada firman, serta membiarkan buah Roh (Gal. 5:22-23) bertumbuh dalam karakter sehari-hari. Jemaat perlu menyadari bahwa pertempuran antara daging dan Roh nyata setiap hari. Kemerdekaan baru bisa dihidupi kalau kita memberi tempat bagi Roh Kudus menguasai pikiran, perkataan, dan tindakan kita.
Dalam praktiknya, memelihara kemerdekaan rohani dapat dimulai dengan disiplin rohani: membaca Alkitab, berdoa, bersekutu, dan melayani. Komunitas rohani pun menjadi penjaga kebebasan kita agar tidak tergelincir pada dosa.
Seorang teolog Indonesia, Pdt. Dr. Eka Darmaputera, pernah berkata, “Tanpa tuntunan Roh, kebebasan adalah pintu ke jurang; tetapi dipimpin Roh, kebebasan menjadi jalan menuju kekudusan.”⁶
Dengan demikian, mengisi kemerdekaan berarti menolak gaya hidup lama yang penuh hawa nafsu dan memilih hidup baru yang menghasilkan buah Roh Kudus. Kebebasan bukan lagi untuk “melakukan apa yang aku mau” tetapi “melakukan apa yang Roh Kudus mau.” Itulah kemerdekaan sejati yang memuliakan Kristus.
Saudaraku, Kristus
telah menebus kita bukan supaya kita menjadi bebas liar, tetapi bebas benar.
Kemerdekaan rohani yang sejati bersumber dari karya penebus Kristus.
Post a Comment for "Bagaimana Mengisi Kemerdekaan ?"