Hentikan Berpartairia Karena Berpartairia Dalang Dari Perpecahan
HENTIKAN BERPARTAIRIA KARENA BERPARTAIRIA DALANG DARI PERPECAHAN ~ Dalam kehidupan sosial dan politik, manusia sering terpecah karena perbedaan pandangan dan kepentingan. Salah satu penyebab utama perpecahan adalah sikap berpartairia, yaitu fanatisme berlebihan terhadap suatu kelompok atau partai tertentu. Dalam konteks kekristenan, perpecahan semacam ini bertentangan dengan prinsip kasih dan kesatuan yang diajarkan dalam Alkitab.
Firman Tuhan dalam 1 Korintus 1:10 mengatakan: “Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir”.
John Calvin, seorang reformator Kristen, menekankan bahwa, “kesatuan dalam Kristus lebih penting daripada perbedaan dalam opini duniawi”. Oleh karena itu, fanatisme sempit dan buta yang berujung pada perpecahan harus dihentikan.
Bagian
1: Berpartairia Merusak Kesatuan Tubuh Kristus
Gereja adalah tubuh Kristus, yang seharusnya hidup dalam kasih dan persatuan. Namun, ketika seseorang terlalu mengutamakan kepentingan diri atau kelompok tertentu, mereka sering mengabaikan nilai-nilai kasih dan persaudaraan dalam Kristus.
Firman Tuhan dalam Efesus 4:3-6 menekankan pentingnya kesatuan: “Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua”.
Dietrich Bonhoeffer, seorang teolog Jerman, mengatakan, “Kesatuan gereja bukanlah hasil usaha manusia, melainkan karya Allah yang harus dijaga”. Sikap berpartairia sering kali memicu perpecahan dalam jemaat, sehingga melawan kehendak Allah untuk kesatuan umat-Nya.
Dampak
Berpartairia terhadap Jemaat
1. Memicu
Permusuhan dan Kebencian: Perbedaan pandangan politik dapat menyebabkan jemaat
saling menyerang dan membenci.
2. Mengalihkan
Fokus dari Kristus: Orang lebih sibuk mendukung partai daripada menjalankan
perintah Kristus untuk mengasihi sesama.
3. Menghambat Pelayanan: Jemaat yang terpecah sulit bekerja sama dalam pelayanan gereja.
Oleh karena itu, setiap orang percaya harus lebih mengutamakan Kristus daripada loyalitas kepada partai politik.
Bagian
2: Berpartairia Mencerminkan Sifat Duniawi
Berpartairia adalah sikap yang didasarkan pada kedagingan dan bukan pada Roh. Alkitab mengingatkan bahwa perselisihan dan perpecahan adalah hasil dari keinginan daging.
Firman Tuhan dalam Galatia 5:19-21 menyebutkan, “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora, dan sebagainya. Terhadap semuanya ini kuperingatkan kamu, seperti yang telah kubuat dahulu, bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah”.
Augustinus dari Hippo pernah berkata, “Ketika manusia lebih mencintai dunia daripada Tuhan, maka perselisihan tak terhindarkan”. Sikap berpartairia memperlihatkan kecenderungan duniawi, yang bertentangan dengan sifat ilahi yang diajarkan Yesus.
Cara
Mengatasi Sikap Berpartairia
1. Menempatkan
Identitas di dalam Kristus: Orang percaya harus lebih setia kepada Kristus
daripada kepada partai.
2. Berdoa
bagi Pemimpin, Bukan Mengidolakan Mereka: Kita diajarkan untuk mendoakan
pemimpin tanpa mengultuskan individu atau partai tertentu.
3. Mengutamakan Kasih daripada Perselisihan: Sebagaimana Yesus mengajarkan kasih kepada sesama, demikian pula kita harus mengutamakan kasih di atas perbedaan kepentingan diri dan kelompoknya.
Dengan menghindari sikap berpartairia, kita dapat lebih mencerminkan karakter Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
Bagian
3: Hidup dalam Kasih dan Kesatuan
Yesus memerintahkan kita untuk hidup dalam kasih, bukan dalam perpecahan. Sebagai orang percaya, kita harus mengutamakan kesatuan dan kasih dalam segala hal.
Firman Tuhan dalam Kolose 3:14-15 berkata, “Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah”.
Billy Graham pernah berkata, “Hanya kasih Kristus yang dapat menyatukan manusia dari berbagai latar belakang”. Oleh karena itu, kita harus lebih mengutamakan kasih daripada kepentingan duniawi.
Langkah
Praktis untuk Mencegah Perpecahan
1. Membangun
Dialog yang Sehat: Menghormati pendapat orang lain dan menghindari debat yang
penuh emosi.
2. Mengutamakan
Kesaksian Hidup Kristen: Menjadi teladan dalam kasih dan persatuan di tengah
masyarakat yang terpecah.
3. Menjaga Keutuhan Jemaat: Mengutamakan kesatuan gereja di atas kepentingan pribadi atau kelompok.
Sikap berpartairia adalah penyebab utama perpecahan, baik dalam masyarakat maupun dalam gereja. Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk hidup dalam kasih dan kesatuan, bukan dalam fanatisme yang membelah tubuh Kristus.
Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa persatuan dalam Kristus lebih penting daripada perbedaan kepentingan diri dan kelompok. Dengan mengutamakan Kristus dalam setiap aspek kehidupan, kita dapat menjadi agen perdamaian di tengah dunia yang terpecah. Sebagaimana Yesus berdoa agar kita menjadi satu, demikian pula kita harus hidup dalam kesatuan dan kasih.
“Aku berdoa supaya mereka semua
menjadi satu, seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau,
agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang
telah mengutus Aku” (Yohanes 17:21).
Mari hentikan berpartairia dan utamakan kesatuan dalam Kristus, karena hanya di dalam Dia kita menemukan damai yang sejati.
Post a Comment for "Hentikan Berpartairia Karena Berpartairia Dalang Dari Perpecahan"