Apa Yang Tuhan Mau ?
Apa yang Tuhan mau ? ~ Dalam kehidupan iman, banyak orang bertanya: Apa yang Tuhan suka? Apakah Tuhan lebih menginginkan korban bakaran, persembahan, atau ketaatan yang lahir dari hati yang tulus? Dalam Mazmur 40 ayat 7 sampai 9, Daud mengungkapkan suatu kebenaran mendalam tentang apa yang berkenan bagi Tuhan. Melalui renungan ini, kita akan mengeksplorasi apa yang Tuhan kehendaki dari umat-Nya.
Satu, Ketaatan Lebih Berharga dari Korban.
“Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan dan korban sajian, tetapi Engkau telah membuka telingaku; korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau tuntut” (Mazmur 40 ayat 7).
Dalam ayat ini, Daud menyampaikan bahwa Tuhan tidak semata-mata menghendaki korban bakaran dan persembahan, tetapi lebih dari itu, Tuhan menginginkan hati yang terbuka dan taat kepada-Nya. Konsep ini juga ditegaskan dalam 1 Samuel 15 ayat 22, yang menegaskan bahwa "Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan."
John Stott, seorang teolog terkenal, menyatakan bahwa, “ketaatan adalah manifestasi sejati dari iman sejati, karena iman tanpa ketaatan adalah iman yang mati.” Dengan kata lain, ritual tanpa hati yang taat tidaklah berkenan bagi Tuhan.
Sebagai orang percaya, kita harus bertanya pada diri sendiri: apakah kita lebih mementingkan ritual agama dibandingkan dengan hubungan yang sungguh-sungguh dengan Tuhan? Tuhan menginginkan kita menaati firman-Nya dengan segenap hati, bukan hanya melakukan tindakan keagamaan tanpa pemahaman yang benar.
Dua, Menggenapi Kehendak Tuhan dalam Hidup.
“Lalu aku berkata, ‘Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku” (Mazmur 40 ayat 8). Dalam ayat ini, Daud menunjukkan bahwa ia menyadari perannya dalam rencana Tuhan. Kalimat “dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku” menunjukkan bahwa hidupnya selaras dengan kehendak Tuhan. Hal ini mengisyaratkan bahwa kita semua memiliki tujuan yang telah ditetapkan Tuhan, dan tugas kita adalah menemukan serta menjalankan kehendak-Nya.
C.S. Lewis, seorang filsuf dan teolog Kristen, pernah berkata, “Yang paling penting bukanlah apa yang kita inginkan dalam hidup ini, tetapi apa yang Tuhan inginkan untuk kita.” Kehidupan yang sejati adalah ketika kita menemukan dan menggenapi kehendak Tuhan, bukan hanya mencari kesenangan diri sendiri.
Apakah kita hidup untuk memenuhi kehendak Tuhan, atau kita hanya berusaha mengejar ambisi pribadi? Tuhan mengundang kita untuk menyelaraskan hidup kita dengan rencana-Nya, dan itu membutuhkan iman, kesabaran, dan ketaatan.
Tiga, Sukacita dalam Melakukan Kehendak Tuhan.
“Aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku” (Mazmur 40 ayat 9). Ayat ini menyoroti bahwa bukan hanya sekadar menaati Tuhan, tetapi kita juga harus bersukacita dalam menjalankan perintah-Nya. Daud menyatakan bahwa Taurat Tuhan ada dalam hatinya, yang berarti bahwa ia mencintai firman Tuhan dan hidup berdasarkan hukum-Nya.
Dietrich Bonhoeffer, seorang teolog Jerman, menulis, “Ketaatan yang sejati adalah ketika seseorang melakukan kehendak Tuhan dengan sukacita, bukan karena paksaan, tetapi karena kasih.” Sukacita dalam menaati Tuhan adalah bukti dari hati yang benar-benar mencintai-Nya.
Apakah kita melakukan kehendak Tuhan dengan penuh sukacita, atau kita merasa bahwa itu adalah beban? Tuhan ingin kita menemukan sukacita dalam hubungan dengan-Nya dan dalam setiap ketaatan yang kita lakukan.
Mazmur 40 ayat 7 sampai 9 mengajarkan kepada kita tiga hal utama yang Tuhan sukai, yaitu, Satu, Ketaatan lebih berharga daripada ritual keagamaan. Dua, Menjalankan kehendak Tuhan adalah panggilan hidup kita. Tiga, Sukacita dalam melakukan kehendak Tuhan adalah tanda iman yang sejati.
Tuhan tidak menginginkan agama yang kosong atau ibadah yang hanya berupa formalitas. Dia menginginkan hati yang tunduk dan penuh kasih kepada-Nya. Semoga kita semakin bertumbuh dalam iman dan menaati Tuhan dengan penuh sukacita.
Post a Comment for "Apa Yang Tuhan Mau ?"