Gereja atau Bisnis?: Mengupas Dalih Pemimpin Rohani yang Gila Jabatan
Gereja atau Bisnis? Mengupas Dalih Pemimpin Rohani yang Gila Jabatan ~ Landasan firman Tuhan untuk tema gereja atau bisnis? Menugpas dalih pemimpin Rohani yang gila jabatan, diambil dari Injil Matius. Demikianlah sabda firman Tuhan, “Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Matius 16:18).
Esensi Gereja dalam Perspektif Alkitabiah
Esensi gereja tidak terletak pada gedung, organisasi, atau struktur manusia, melainkan dalam kehadiran Kristus sebagai dasar dan kepemimpinan-Nya sebagai Kepala. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa sejumlah pemimpin gereja telah menyimpangkan fokus gereja menjadi arena ambisi pribadi.
Emil Brunner menyatakan, “Gereja adalah
persekutuan orang percaya yang dipanggil untuk memberitakan Injil, bukan tempat
bagi pemenuhan ambisi manusia.” (Brunner, The Misunderstanding of the Church,
1952).
Dalam konteks ini, gereja harus dikembalikan kepada esensi spiritualnya, bukan kepada struktur kekuasaan.
Bagian 1: Penyalahgunaan Jabatan Rohani
“Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu” (Ibrani 13:5). Penyalahgunaan jabatan sering kali bermula dari keinginan akan kekuasaan atau kekayaan.
Beberapa pemimpin menjadikan posisi di gereja sebagai alat untuk memperkaya diri atau meningkatkan status sosial. Jabatan sebagai pelayan Tuhan pun berubah menjadi profesi yang penuh persaingan, mirip dengan dunia bisnis.
Karl Barth menulis, “Jabatan dalam gereja adalah
pelayanan, bukan dominasi; itu adalah anugerah, bukan hak.” (Barth, Church
Dogmatics, 1956).
Dalam terang ini, gereja harus mencegah struktur hierarkis yang memfasilitasi penyalahgunaan kekuasaan oleh individu tertentu.
Bagian 2: Dalih dan Alasan untuk Gila Jabatan
“Tetapi orang yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Matius 20:26). Pemimpin yang gila jabatan sering kali membenarkan tindakan mereka dengan dalih “demi kemuliaan Tuhan” atau “untuk kepentingan gereja”.
Namun, dalih ini kerap menjadi selubung ambisi pribadi. Strategi kampanye seperti dalam politik juga mulai merambah gereja.
Dietrich Bonhoeffer menulis, “Pemimpin yang
sejati adalah mereka yang bersedia kehilangan segala sesuatu demi Kristus,
bukan mereka yang mengumpulkan segala sesuatu demi dirinya.” (Bonhoeffer, Life
Together, 1938).
Gereja harus menjadi tempat pelayanan yang tulus, bukan arena persaingan atau ambisi duniawi.
Bagian 3: Dampak Gila Jabatan bagi Gereja
“Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri, di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat” (Yakobus 3:16). Gila jabatan menciptakan perpecahan, merusak kesatuan tubuh Kristus, dan menimbulkan skandal di kalangan jemaat. Jemaat yang seharusnya bertumbuh dalam iman justru menjadi korban persaingan internal pemimpin.
John Stott menekankan, “Kepemimpinan yang egois
menghancurkan integritas gereja dan melemahkan kesaksian Injil di dunia.”
(Stott, The Cross of Christ, 1986).
Perpecahan dalam tubuh Kristus menjadi bukti nyata dampak buruk ambisi pribadi dalam kepemimpinan gereja.
Bagian 4: Jalan Kembali kepada Kepemimpinan yang Melayani
“Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah” (1 Petrus 5:2). Kepemimpinan gereja harus kembali kepada prinsip pelayanan seperti Kristus, yaitu melayani tanpa pamrih. Para pemimpin harus menjalankan fungsi sebagai pelayan, bukan penguasa.
Richard J. Foster menulis, “Kepemimpinan
spiritual yang sejati selalu bersifat melayani, bukan memerintah.” (Foster, Celebration
of Discipline, 1978).
Gereja harus membangun struktur yang mendukung pelayanan kolektif dan mencegah dominasi individu tertentu.
Bagian 5: Gereja sebagai Rumah Tuhan, Bukan Bisnis
‘Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun” (Markus 11:17). Gereja bukanlah institusi bisnis, melainkan komunitas rohani yang bertujuan membawa manusia kepada Kristus. Fokus gereja harus kembali kepada misi utamanya: pemberitaan Injil, pemuridan, dan pelayanan kepada masyarakat.
N. T. Wright menegaskan, “Gereja harus
mencerminkan kerajaan Allah, bukan kerajaan dunia; tempat di mana kehendak
Allah dilaksanakan, bukan ambisi manusia.” (Wright, Simply Christian, 2006).
Dengan demikian, gereja perlu mengevaluasi kembali visi dan misinya agar tidak tersesat dalam jebakan duniawi.
Pemimpin gereja yang gila jabatan adalah ancaman nyata bagi integritas gereja. Melalui refleksi Alkitab dan pandangan para teolog, jelas bahwa gereja harus kembali ke esensinya sebagai tubuh Kristus. Gereja adalah tempat pelayanan, bukan bisnis. Dengan mempraktikkan kepemimpinan yang melayani, gereja dapat memulihkan perannya sebagai terang dunia.
Post a Comment for "Gereja atau Bisnis?: Mengupas Dalih Pemimpin Rohani yang Gila Jabatan"