Translate

Puasa Yang Berkenan Dihadapan Tuhan

Puasa yang berkenan dihadapan Tuhan – Puasa merupakan salah satu sarana yang tersedia dan dipraktekkan oleh para tokoh dalam Alkitab baik secara pribadi maupun kolektif dengan umat Allah. Puasa di dalam Alkitab dilakukan karena adanya kebutuhan rohani dari umat Allah. 

Kebutuhan rohani berkaitan dengan relasi umat Allah dengan Allahnya yang tidak harmonis. Di mana umat Allah melakukan hal-hal yang menyimpang dari kehendak Allah, sehingga Allah menghukum mereka dengan berbagai musibah.

Sekarang, marilah kita membuka kembali nubuat itu dalam versinya yang pertama di Yoel 2:28: "Kemudian daripada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan RohKu ke atas semua manusia ..." .

Yang dimaksud Nabi Yoel dengan kata-kata “kemudian dari pada itu” adalah menunjuk kepada sesuatu yang telah dikatakan sebelumnya dalam nubuat tersebut. Dalam ayat-ayat sebelumnya digambarkan suatu keadaan yang kering dan tandus. Seluruh negeri yang diwariskan kepada umat Allah telah menjadi rusak sehingga tak ada tanaman yang berbuah.


1. Tuhan yang memerintahkan.
Dilihat dari perspektif kepentingannya, maka puasa dilakukan oleh para nabi dan umat Allah karena Allah sendiri yang memerintahkannya. Tuhan menyuruh umat-Nya melakukan puasa bersama sebagai obat penawarnya -- "Adakan puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya, kumpulkanlah para tua-tua dan seluruh penduduk negeri ke rumah Tuhan Allahmu dan berteriaklah kepada Tuhan" – Yoel 1:14.

"Kudus" berarti dipisahkan, dikhususkan bagi Tuhan. Karena itu, panggilan Tuhan untuk
berpuasa harus mendapat perhatian yang utama. Yang teristimewa, yang mendapat panggilan itu adalah para tua-tua. Memang yang paling bertanggung jawab dalam hal ini adalah para pemimpin, tetapi seluruh penduduk negeri pun harus ambil bagian, tidak boleh ada pengecualian.

2. Bersatu di dalam roh untuk mengatasi masalah.
Puasa dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab bersama secara rohani untuk berperang melawan musuh dan menyelesaikan masalah yang telah dilakukan. Umat Allah harus bersatu untuk dapat mengatasi kesulitan mereka. Mereka harus berkumpul untuk berpuasa bersama-sama seperti yang dilakukan pada zaman Yosafat, zaman Ezra, maupun zaman Ratu Ester. 

Dalam Yoel 2:1-2, 15-17 seruan itu diulangi kembali: "tetapi sekarang juga demikianlah firman Tuhan, berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis, dan dengan mengaduh (berduka cita terjemahan Inggrisnya)".

Sampai tiga kali dalam ayat-ayat tersebut Tuhan memanggil umat-Nya untuk berpuasa. Kemudian, Tuhan memberi suatu janji: "Kemudian dari pada itu ... Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia". Kemudian, sesudah apa? Roh Allah sudah mulai dicurahkan pada saat ini. 

Cukup banyak tanda yang menunjukkan bahwa "hujan akhir" Tuhan sudah sangat dekat. Tetapi, hingga kini kita baru melihat sebagian kecil saja dari pencurahan besar-besaran yang dinubuatkan oleh Alkitab. Allah masih menunggu sampai kita memenuhi semua persyaratan yang diajukan oleh-Nya. 

Sesungguhnya, kita harus bersatu dalam doa dan puasa bersama-sama untuk mendatangkan "hujan akhir" yang paripurna! Dalam hal ini, keadaan kita sekarang hampir sama seperti yang dialami Nabi Daniel pada permulaan pemerintahan Raja Darius. 

Daniel dengan jelas melihat campur tangan Tuhan dalam percaturan politik pada waktu itu. Ia mengetahui dari Kitab Suci bahwa waktunya telah tiba bagi Tuhan untuk merestorasi umat-Nya. Terdorong oleh kesaksian tersebut, Daniel memberi dirinya untuk berdoa dan berpuasa. Hanya dengan cara demikianlah janji Tuhan akan mencapai penggenapannya yang sempurna.

3. Puasa dilakukan untuk pemulihan.
Sasaran utama yang hendak dicapai Tuhan pada zaman Daniel adalah restorasi. Tuhan bermaksud memulihkan umat-Nya untuk kembali kepada warisan mereka yang telah hilang, akibat ketidaktaatan mereka sendiri. 

Demikian juga sekarang, pencurahan Roh Kudus merupakan sarana yang ditetapkan oleh Tuhan untuk mengadakan pemulihan kembali. Tuhan sendiri yang mengatakannya dalam Yoel 2:25, "Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang ..."

Tiga setengah abad yang lampau,
Gereja mulai mengalami suatu reformasi. Sekarang ini, Tuhan tidak berminat lagi terhadap reformasi atau pembaruan. Yang dikehendaki-Nya adalah restorasi. Tuhan sedang bekerja untuk mengembalikan setiap jengkal tanah warisan yang telah dicuri umat-Nya. 

"Hujan awal" dari Tuhan telah memulai suatu gereja yang benar-benar memenuhi persyaratan kekudusan, kuasa, dan ketertiban. Kini, "hujan akhir" itu akan memulihkan gereja tersebut, sehingga kembali kepada standar-standar yang mulia itu. Hanya pada waktu itulah, tujuan pendirian Gereja di dunia ini akan dapat dicapai oleh gereja itu sendiri. Itulah sasaran yang sedang dituju oleh Tuhan sekarang ini.

Baca juga: CARA HIDUP YANG MENJADI BERKAT

Post a Comment for "Puasa Yang Berkenan Dihadapan Tuhan"