Berani Berdiri dalam Kebenaran
Berani Berdiri dalam Kebenaran
“Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi” (Yosua 1:9).
Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 32-34
Ada sebuah kisah yang sangat kuat dalam Injil Yohanes tentang seorang yang berani berdiri dalam kebenaran. Yohanes 9 menceritakan seorang laki-laki yang sejak lahir buta dan kemudian disembuhkan oleh Yesus. Mujizat itu seharusnya menjadi kabar sukacita, tetapi justru menimbulkan tekanan. Orang-orang Farisi mempertanyakan bagaimana ia dapat melihat. Mereka bahkan menolak kesaksiannya dan berusaha merendahkan Yesus yang menyembuhkannya.
Namun, orang yang telah mengalami pertolongan Tuhan itu tidak mundur. Ia tidak memiliki pendidikan teologi yang tinggi dan tidak mempunyai jabatan penting. Tetapi ia memiliki satu hal: pengalaman nyata bersama Tuhan. Dengan berani ia menyatakan bahwa dahulu ia buta, tetapi sekarang dapat melihat. Ketika ditekan, ia tetap mempertahankan kebenaran yang telah dialaminya. Ia berani berdiri meskipun akhirnya ia dikucilkan.
Kisah ini mengajarkan bahwa berdiri dalam kebenaran sering kali membutuhkan keberanian untuk berdiri sendirian. Tidak semua orang akan menyukai kejujuran kita. Tidak semua orang akan menerima prinsip yang kita pegang. Bahkan, terkadang tekanan justru datang dari lingkungan yang seharusnya mendukung kita.
Yosua menerima perintah untuk memimpin Israel setelah Musa meninggal. Tugas itu sangat besar dan penuh risiko. Karena itu Tuhan tidak pertama-tama memberikan jaminan bahwa perjalanan Yosua akan mudah. Tuhan memberikan perintah: “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu.” Keberanian Yosua bukan berasal dari kekuatannya sendiri, tetapi dari keyakinan bahwa Tuhan menyertainya.
1. Berani
mengatakan yang benar meskipun tidak populer. Jangan mengubah kebenaran
hanya supaya diterima manusia. Dalam pekerjaan, pelayanan, keluarga, maupun
kehidupan sosial, tetaplah jujur ketika kejujuran memiliki harga. Integritas
mungkin membuat kita kehilangan keuntungan, tetapi kompromi terhadap kebenaran
dapat membuat kita kehilangan karakter.
2. Jangan
membiarkan tekanan mengalahkan iman. Tekanan dapat membuat
seseorang takut berbicara, takut mengambil keputusan, atau takut mempertahankan
prinsip. Ingatlah bahwa Tuhan berkata, “Janganlah kecut dan tawar hati.” Ketika
tekanan datang, jangan hanya melihat besarnya masalah; lihatlah besarnya Tuhan
yang menyertai kita.
3. Berdirilah karena Tuhan, bukan karena posisi. Jabatan, popularitas, penghargaan, dan penerimaan manusia semuanya dapat berubah. Tetapi Tuhan tetap setia. Karena itu, jangan mempertahankan jabatan dengan mengorbankan kebenaran. Lebih baik kehilangan posisi daripada kehilangan integritas di hadapan Tuhan. Apakah kita sedang berdiri teguh dalam kebenaran, atau sedang berdiri mengikuti apa yang paling aman bagi diri sendiri?
Doa:
Bapa yang penuh kasih, kuatkan dan teguhkan hati kami. Berikan keberanian untuk
berdiri dalam kebenaran meskipun kami menghadapi tekanan, penolakan, atau
kehilangan sesuatu yang berharga. Ajarlah kami untuk tidak takut kepada manusia
lebih daripada takut kepada-Mu. Biarlah hidup kami memiliki integritas dan
menjadi kesaksian tentang Kristus. Sertai kami dalam setiap langkah, sehingga
kami tetap setia kepada-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.🙏

Post a Comment for "Berani Berdiri dalam Kebenaran"