Hati yang Siap Dipakai Tuhan
Hati yang Siap Dipakai Tuhan
Yesaya pasal 6 ayat 8. Beginilah sabda Tuhan, "Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: 'Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?' Maka sahutku: 'Ini aku, utuslah aku!'
Ketika Tuhan memanggil Musa untuk memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir, respons pertamanya bukanlah keberanian, melainkan keraguan. Musa merasa dirinya tidak layak. Ia menganggap dirinya tidak pandai berbicara, tidak memiliki kemampuan sebagai seorang pemimpin, bahkan berkali-kali memohon agar Tuhan memilih orang lain, sebagaimana dicatat dalam Kitab Keluaran pasal 3 sampai pasal 4.
Namun Tuhan tidak melihat kelemahan Musa sebagai alasan untuk membatalkan panggilan-Nya. Sebaliknya, Tuhan melihat hati yang pada akhirnya bersedia taat. Dari seorang gembala yang hidup sederhana di padang Midian, Musa diubah menjadi pemimpin besar yang memimpin jutaan orang Israel keluar dari Mesir. Keberhasilan Musa bukan berasal dari kemampuannya, melainkan dari penyertaan Tuhan yang setia. Kisah ini mengajarkan bahwa Tuhan tidak mencari orang yang paling hebat, tetapi orang yang bersedia dipakai-Nya.
Prinsip yang sama terlihat dalam pengalaman Nabi Yesaya. Dalam penglihatan yang luar biasa, Yesaya melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan mulia. Para serafim berseru, "Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam." Menghadapi kekudusan Tuhan, Yesaya langsung menyadari betapa najis dirinya. Ia berseru, "Celakalah aku!" Kesadaran akan dosa membuatnya merasa tidak layak berdiri di hadapan Tuhan.
Namun, Tuhan tidak berhenti pada penghukuman. Salah satu serafim mengambil bara dari mezbah lalu menyentuh bibir Yesaya sebagai lambang penyucian. Setelah dipulihkan oleh kasih karunia Tuhan, Yesaya mendengar suara Tuhan berkata, "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Tanpa ragu sedikit pun, Yesaya menjawab, "Ini aku, utuslah aku!"
Jawaban Yesaya lahir bukan karena ia merasa sudah sempurna, melainkan karena ia telah mengalami anugerah Tuhan. Orang yang benar-benar mengalami kasih karunia akan memiliki kerinduan untuk melayani Dia. Kesediaan Yesaya menjadi bukti bahwa hati yang telah dipulihkan akan siap diutus ke mana pun Tuhan menghendaki.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang percaya memiliki kerinduan untuk melayani, tetapi sering kali merasa tidak cukup layak. Ada yang berpikir dirinya kurang berbakat, kurang berpendidikan, terlalu muda, terlalu tua, atau memiliki masa lalu yang kelam. Akibatnya, mereka terus menunda untuk melayani sambil menunggu waktu yang dianggap "sempurna."
Padahal Alkitab menunjukkan bahwa Tuhan justru memakai orang-orang biasa untuk mengerjakan perkara-perkara yang luar biasa. Yang dicari Tuhan bukanlah kesempurnaan manusia, melainkan hati yang rendah hati, taat, dan siap dibentuk.
Tuhan juga masih mencari orang-orang yang bersedia berkata, "Ini aku." Panggilan itu mungkin tidak selalu menjadi pendeta, penginjil, atau misionaris. Bisa jadi Tuhan memanggil kita untuk menjadi saksi Kristus di tengah keluarga, menjadi teladan di tempat kerja, menghibur orang yang sedang terluka, melayani di gereja, atau membagikan kasih Kristus kepada mereka yang membutuhkan. Di mana pun Tuhan menempatkan kita, di sanalah ladang pelayanan kita.
Agar memiliki hati yang siap dipakai Tuhan, ada beberapa langkah praktis yang dapat kita lakukan.
Pertama, hiduplah dalam pertobatan setiap hari. Yesaya baru siap diutus setelah mengalami penyucian. Demikian pula, kita perlu menjaga hubungan yang intim dengan Tuhan melalui doa, membaca firman, dan mengakui dosa setiap hari. Hati yang bersih akan lebih peka mendengar suara Tuhan dibandingkan dengan hati yang dipenuhi kompromi dengan dosa.
Kedua, setialah dalam perkara-perkara kecil. Tuhan sering kali mempersiapkan seseorang melalui tanggung jawab yang sederhana sebelum mempercayakan tugas yang lebih besar. Mulailah melayani dengan apa yang ada di tangan kita. Senyum yang tulus, perhatian kepada orang lain, doa bagi sesama, atau kesediaan membantu pelayanan di gereja adalah bentuk-bentuk kesetiaan yang sangat berharga di mata Tuhan. Kesetiaan dalam hal kecil adalah fondasi bagi pelayanan yang lebih besar.
Ketiga, miliki iman yang mengalahkan rasa takut. Banyak kesempatan untuk melayani hilang karena kita lebih mendengarkan rasa takut daripada suara Tuhan. Takut gagal, takut ditolak, atau takut tidak mampu sering kali menghalangi langkah kita. Namun ingatlah, Tuhan tidak pernah mengutus seseorang sendirian. Dia selalu menyertai, memperlengkapi, menguatkan, dan membuka jalan bagi setiap orang yang taat kepada panggilan-Nya. Ketika Tuhan memanggil, Dia juga menyediakan semua yang kita perlukan untuk menyelesaikan tugas tersebut.
Hari ini, pertanyaan Tuhan kepada Yesaya masih bergema bagi setiap orang percaya: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Dunia masih membutuhkan terang Kristus. Banyak orang membutuhkan pengharapan, kasih, dan kabar keselamatan.
Tuhan sedang mencari hati yang rela dipakai, bukan sekadar orang yang memiliki kemampuan luar biasa. Karena itu, jangan menunggu sampai merasa sempurna. Datanglah kepada Tuhan, biarkan Dia membentuk hidupmu, lalu jawablah dengan penuh iman, "Ini aku, utuslah aku!" Ketika kita menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Tuhan, Dia sanggup memakai kehidupan yang sederhana untuk menghasilkan dampak yang kekal bagi kemuliaan nama-Nya.
Doa
Bapa yang Mahakudus, terima kasih karena Engkau tidak memandang kemampuan atau latar belakang kami, tetapi melihat hati yang mau taat kepadamu. Ampunilah kami jika selama ini kami lebih banyak mencari alasan daripada menjawab panggilanmu. Tahirkan hati kami seperti Engkau menyucikan Nabi Yesaya, sehingga kami layak menjadi alat di tanganmu. Berikan kami keberanian untuk melangkah dalam iman, kesetiaan untuk melayani dalam perkara-perkara kecil, dan kerendahan hati untuk selalu mengandalkan kuasamu. Pakailah hidup kami menjadi berkat bagi keluarga, gereja, tempat kerja, dan setiap orang yang Engkau pertemukan dengan kami. Biarlah melalui hidup kami, banyak orang mengenal kasih dan keselamatan di dalam Yesus Kristus. Dengan penuh iman kami berkata kepadamu, "Tuhan, ini kami, utuslah kami." Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.

Post a Comment for "Hati yang Siap Dipakai Tuhan"