Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kristus Sebagai Pengantara Yang Hidup

Kristus Sebagai Pengantara yang Hidup
“Sebab itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka” (Ibrani 7:25).

Dalam sejarah bangsa Israel, terdapat satu peristiwa yang sangat kuat menggambarkan peran seorang mediator, yaitu ketika bangsa itu jatuh ke dalam dosa penyembahan anak lembu emas (Keluaran 32). Pada saat itu, Israel baru saja menerima hukum Tuhan di Gunung Sinai, tetapi dengan cepat mereka berbalik dari kesetiaan. Mereka membentuk patung lembu emas dan menyembahnya, suatu tindakan yang secara langsung melanggar perintah Allah.

Murka Tuhan menyala terhadap mereka. Dalam keadilan-Nya, Tuhan berhak menghukum bangsa itu. Namun, di tengah situasi yang genting tersebut, Musa berdiri sebagai seorang perantara. Ia naik menghadap Tuhan dan memohon belas kasihan bagi umat yang berdosa itu. Dengan penuh keberanian dan kasih, Musa berkata, “Ampunilah kiranya dosa mereka itu! Tetapi jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kau tulis” (Kel. 32:32).

Di sini kita melihat sebuah gambaran mendalam tentang seorang mediator: seseorang yang berdiri di antara Allah yang kudus dan manusia yang berdosa, membawa permohonan pengampunan. Musa tidak hanya berbicara; ia mengidentifikasikan dirinya dengan umat itu. Ia rela menanggung risiko demi keselamatan mereka.

Namun, meskipun Musa dipakai Tuhan secara luar biasa, ia tetap seorang manusia yang terbatas. Ia tidak dapat menjadi pengantara yang sempurna. Ia tidak dapat menghapus dosa umat itu dengan dirinya sendiri. Ia hanya menjadi bayangan dari sesuatu yang lebih besar, seorang mediator yang sejati yang akan datang. Di sinilah kita memahami keagungan Kristus sebagaimana dinyatakan dalam Ibrani 7:25. Penulis Ibrani menegaskan bahwa Yesus bukan hanya seorang imam, tetapi Imam Besar yang sempurna. Ia bukan hanya pernah menjadi pengantara, tetapi Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara bagi kita.

Frasa “hidup senantiasa” memiliki makna teologis yang sangat dalam. Ini menunjuk pada kebangkitan dan keberlanjutan pelayanan Kristus. Ia tidak mati lagi. Ia tidak digantikan. Ia tidak berhenti bekerja. Berbeda dengan imam-imam dalam Perjanjian Lama yang harus digantikan karena kematian, Yesus memiliki imamat yang kekal (unchangeable priesthood).

Sebagai Pengantara yang hidup, Kristus melakukan tiga hal penting. Pertama, Ia membawa kita kepada Allah. Dalam kondisi manusia yang berdosa, tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada Allah dengan kekuatannya sendiri. Dosa menciptakan jurang yang tidak dapat dijembatani oleh usaha manusia. Namun, melalui Kristus, jalan itu terbuka. Ia menjadi “jalan” yang menghubungkan manusia dengan Allah (Yoh. 14:6).

Kedua, Ia menjamin keselamatan kita secara sempurna. Ibrani 7:25 menggunakan frasa “menyelamatkan dengan sempurna.” Dalam bahasa Yunani, kata ini (panteles) mengandung arti “sepenuhnya,” “sampai tuntas,” bahkan “sampai selama-lamanya.” Artinya, keselamatan dalam Kristus tidak bersifat parsial atau sementara. Ia mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Ketiga, Ia terus-menerus berdoa syafaat bagi kita. Ini adalah aspek yang sering kali kurang disadari. Kristus bukan hanya mati bagi kita, tetapi juga terus membela kita di hadapan Bapa. Ketika kita jatuh, ketika iman kita lemah, ketika kita bergumul dengan dosa, Kristus hadir sebagai Pembela (advocate) yang menyatakan bahwa kita adalah milik-Nya.

Dalam kerangka teologi sistematis, ini berkaitan dengan doktrin intercession of Christ. Para teolog seperti John Owen menekankan bahwa pelayanan syafaat Kristus adalah kelanjutan dari karya penebusan-Nya. Jika salib adalah dasar keselamatan, maka syafaat Kristus adalah jaminan keberlangsungan keselamatan itu.

Bagi kehidupan orang percaya, kebenaran ini memiliki implikasi yang sangat praktis dan eksistensial. Kita tidak hidup dalam ketidakpastian rohani. Kita tidak bergantung pada performa spiritual kita sendiri. Kita hidup dalam anugerah yang dijamin oleh Kristus yang hidup. Namun demikian, kebenaran ini bukan alasan untuk hidup sembarangan. Justru sebaliknya, kesadaran bahwa kita memiliki Pengantara yang hidup seharusnya mendorong kita untuk hidup dalam kekudusan dan ketaatan. Kasih karunia tidak meniadakan tanggung jawab, tetapi memperkuatnya.

Aplikasi Praktis

1. Datang kepada Allah dengan keberanian iman
Banyak orang percaya masih hidup dalam rasa takut dan rasa tidak layak. Mereka merasa harus “cukup baik” terlebih dahulu sebelum datang kepada Tuhan. Namun, Ibrani 7:25 mengajarkan bahwa kita datang kepada Allah melalui Kristus, bukan melalui kebaikan kita sendiri. Karena itu, datanglah dengan keyakinan. Doa bukan lagi tempat penghakiman, tetapi tempat perjumpaan dengan kasih karunia.

2. Hidup dalam jaminan keselamatan, bukan kecemasan rohani
Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, orang percaya memiliki kepastian yang kokoh. Keselamatan kita tidak bergantung pada kestabilan emosi atau konsistensi perilaku kita, tetapi pada Kristus yang tidak pernah berubah. Ini tidak berarti kita mengabaikan pertumbuhan rohani, tetapi kita bertumbuh dari posisi aman, bukan dari rasa takut.

3. Menjadi pendoa syafaat bagi sesama
Jika Kristus adalah Pengantara kita, maka kita dipanggil untuk meneladani hati-Nya. Dunia ini membutuhkan orang-orang yang berdiri dalam doa bagi orang lain, bagi keluarga, gereja, bangsa, bahkan bagi mereka yang tersesat. Menjadi pendoa syafaat berarti mengambil bagian dalam karya Kristus. Ini adalah panggilan yang mulia sekaligus mendalam.

Penutup Reflektif

Jika Musa hanya bisa berdiri sementara sebagai mediator, Kristus berdiri untuk selamanya. Jika Musa hanya bisa memohon, Kristus menjamin. Jika Musa terbatas oleh kematian, Kristus hidup kekal.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi: “Apakah ada Pengantara bagi kita?” Tetapi: “Apakah kita sungguh-sungguh datang kepada Allah melalui Dia?” Karena pada akhirnya, keselamatan bukan hanya tentang mengetahui Kristus sebagai Pengantara, tetapi juga tentang mengalami Dia secara pribadi dalam kehidupan sehari-hari.

Doa

Tuhan Yesus Kristus, Engkau adalah Pengantara yang hidup, yang tidak pernah berhenti membela dan mengasihi kami. Terima kasih karena melalui Engkau kami dapat datang kepada Bapa dengan penuh keberanian. Ampuni kami jika sering kali kami ragu, takut, atau mengandalkan kekuatan kami sendiri.

Ajarlah kami untuk hidup dalam iman yang teguh, bersandar sepenuhnya pada karya-Mu yang sempurna. Tolong kami untuk hidup dalam kekudusan, sebagai respons atas kasih karunia-Mu. Bangkitkan dalam hati kami kerinduan untuk menjadi pendoa syafaat bagi sesama, sebagaimana Engkau telah menjadi Pengantara bagi kami. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa dan mengucap syukur. Amin.

 

Post a Comment for "Kristus Sebagai Pengantara Yang Hidup"

Translate