Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Persembahan Sebagai Ekspresi Penyembahan

Persembahan sebagai Ekspresi Penyembahan ~ Landasan firman Tuhan untuk tema persembahan sebagai ekspresi penyembahan diambil dari surat rasul Paulu kepada jemaat di kota Filipi, yaitu Filipi pasal 4 ayat 18. Demikianlah sabda tuhan, “Kini aku telah menerima semua yang perlu dari padamu, malah lebih dari pada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah.”

Di sebuah kota kecil, seorang penatua gereja pernah menceritakan kisah tentang seorang ibu sederhana yang setiap Minggu selalu datang paling awal ke gereja. Ia bukan orang kaya. Namun ada satu kebiasaannya yang sangat mengesankan. Sebelum ibadah dimulai, ia selalu duduk tenang beberapa menit, menundukkan kepala, lalu memegang amplop persembahannya dengan kedua tangan sambil berdoa. Suatu hari, seorang pelayan gereja bertanya mengapa ia melakukan hal itu setiap minggu. Ibu tersebut menjawab, “Saya tidak mau memberi dengan hati yang kosong. Saya ingin ketika saya memberi, hati saya juga ikut sujud kepada Tuhan.”

Filipi pasal 4 ayat 18 memberikan gambaran yang sangat indah tentang makna persembahan. Paulus menulis kepada jemaat Filipi bahwa dukungan mereka kepadanya adalah “suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah.” Menariknya, pemberian jemaat kepada Paulus pada dasarnya adalah bantuan praktis untuk kebutuhan pelayanan. Namun Paulus tidak memandangnya hanya sebagai bantuan sosial atau dukungan finansial. Ia melihatnya sebagai persembahan rohani yang naik ke hadapan Allah. Persembahan menjadi ekspresi penyembahan karena di dalamnya ada kasih, iman, pengorbanan, dan pengakuan bahwa Allah adalah sumber segala sesuatu.

Di sinilah kita perlu mengoreksi cara pandang kita. Tidak sedikit orang melihat persembahan hanya sebagai kewajiban gerejawi. Ada yang memberi karena malu jika tidak memberi. Ada yang memberi karena kebiasaan. Ada juga yang memberi sambil menghitung-hitung untung rugi, seolah-olah persembahan adalah transaksi dengan Tuhan. Padahal Alkitab menunjukkan bahwa persembahan yang sejati bukan berpusat pada jumlah, melainkan pada sikap hati. Tuhan tidak pernah terpesona oleh nominal sebesar apa pun jika hati pemberinya jauh dari-Nya. Sebaliknya, persembahan yang kecil tetapi lahir dari kasih dan ketulusan menjadi harum di hadapan Allah.

Persembahan sebagai ekspresi penyembahan berarti kita memberi sebagai respons atas siapa Allah itu dan apa yang telah Ia kerjakan dalam hidup kita. Kita memberi karena kita sadar bahwa hidup, nafas, pekerjaan, keluarga, dan seluruh berkat yang kita nikmati berasal dari tangan Tuhan. Memberi adalah pengakuan bahwa kita hanyalah pengelola, bukan pemilik mutlak. Saat kita memberi, sesungguhnya kita sedang berkata, “Tuhan, semua ini dari-Mu, dan aku mengembalikan sebagian dengan hati yang penuh hormat dan syukur.” Jadi, persembahan bukan pertama-tama soal uang, tetapi soal penyerahan diri. Uang hanyalah simbol dari hati yang terlebih dahulu diserahkan kepada Allah.

Lebih jauh lagi, persembahan juga melatih spiritualitas kita. Memberi menolong kita melawan kelekatan pada materi. Dunia mengajarkan bahwa semakin banyak kita menimbun, semakin aman hidup kita. Namun firman Tuhan mengajar bahwa keamanan sejati bukan terletak pada harta, melainkan pada Allah yang memelihara. Karena itu, saat kita memberi, kita sedang belajar percaya. Kita sedang melatih hati untuk tidak diperbudak oleh uang. Dan itu adalah bentuk penyembahan yang sangat konkret.

Ada tiga aplikasi praktis yang dapat kita lakukan. Pertama, siapkan persembahan dengan doa dan ucapan syukur. Jangan memberi secara tergesa-gesa atau tanpa kesadaran rohani. Persiapkan hati sebelum tangan memberi. Kedua, berilah dengan motivasi yang murni. Jangan memberi untuk dipuji, dilihat orang, atau mencari keuntungan pribadi, tetapi berilah sebagai ungkapan kasih kepada Tuhan. Ketiga, jadikan seluruh hidup sebagai persembahan. Persembahan uang penting, tetapi Tuhan juga menghendaki waktu, tenaga, kesetiaan, dan ketaatan kita sebagai wujud penyembahan setiap hari.

Pada akhirnya, persembahan yang berkenan kepada Allah bukanlah persembahan yang paling besar di mata manusia, melainkan persembahan yang keluar dari hati yang mencintai Tuhan. Ketika kita memberi dengan iman, syukur, dan hormat, persembahan itu menjadi wangi di hadapan-Nya. Dan di situlah memberi berubah dari sekadar rutinitas menjadi penyembahan yang hidup.

Mengakhiri renungan ini, saya mengajak kita untuk berdoa bersama, mari kita berdoa, Tuhan, ajar kami memahami bahwa persembahan bukan sekadar kewajiban, melainkan ekspresi penyembahan kepada-Mu. Bentuk hati kami supaya kami memberi dengan kasih, syukur, dan iman yang tulus. Jauhkan kami dari motivasi yang salah, dan mampukan kami menjadikan seluruh hidup kami sebagai persembahan yang harum dan berkenan di hadapan-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.


Post a Comment for "Persembahan Sebagai Ekspresi Penyembahan"

Translate