Iman Kecil, Tapi Hasil Besar ~ “Ia berkata kepada mereka: ‘Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu” (Matius 17:20).
Ada sebuah kisah nyata dari sebuah wilayah terpencil di Afrika Timur pada pertengahan abad ke-20. Di sana, seorang misionaris sederhana melayani jemaat kecil yang hidup dalam keterbatasan besar. Ia bukan tokoh terkenal, tidak memiliki sumber daya melimpah, dan tidak pula dikenal sebagai pengkhotbah ulung. Kehidupan pelayanannya berlangsung sunyi, jauh dari sorotan, namun penuh kesetiaan. Jemaat yang ia layani hanyalah sekelompok kecil penduduk desa yang hidup dari tanah dan hujan.
Suatu
tahun, kemarau panjang melanda daerah itu. Hujan tidak turun berbulan-bulan.
Tanah menjadi keras dan retak, tanaman mati, dan persediaan air semakin
menipis. Orang-orang mulai kehilangan harapan. Sebagian meninggalkan desa,
sebagian lain bertahan dengan kecemasan dan keputusasaan. Dalam situasi seperti
itu, sang misionaris mengajak jemaatnya untuk berdoa meminta hujan. Ajakan itu
terdengar terlalu sederhana, bahkan bagi sebagian orang tampak tidak realistis.
Beberapa jemaat mengakui dengan jujur bahwa iman mereka lemah dan keraguan
mereka besar.
Sang misionaris sendiri tidak menyangkal bahwa imannya pun kecil. Ia tidak merasa memiliki iman seperti nabi-nabi besar dalam Alkitab. Namun ia memegang satu keyakinan yang tidak tergoyahkan: Allah yang ia sembah adalah Allah yang Mahakuasa. Mereka pun berkumpul dan berdoa tanpa kata-kata besar, tanpa retorika indah, hanya doa sederhana yang lahir dari hati yang rapuh. Beberapa hari kemudian, hujan turun dengan deras, memulihkan tanah dan menyelamatkan desa itu. Ketika seseorang bertanya apa rahasia di balik peristiwa itu, sang misionaris menjawab dengan rendah hati, “Iman kami kecil, tetapi Allah kami besar. Dan dari iman kecil itu, Allah menghasilkan sesuatu yang besar.”
Kisah ini dengan jujur menggambarkan pesan yang disampaikan Yesus dalam Matius 17:20. Yesus tidak menuntut iman yang spektakuler, tidak pula mengukur iman dari keberanian lahiriah atau kekuatan psikologis. Ia justru menyingkapkan sebuah kebenaran yang mendalam dan membebaskan: iman yang kecil, ketika diarahkan kepada Allah yang besar, sanggup menghasilkan dampak yang melampaui keterbatasan manusia.
Perkataan Yesus ini muncul dalam konteks kegagalan murid-murid-Nya. Mereka gagal mengusir roh jahat dari seorang anak yang menderita, padahal sebelumnya mereka telah diberi kuasa untuk melakukan hal itu. Kegagalan tersebut menimbulkan kebingungan dan pertanyaan dalam diri mereka. Mengapa kali ini mereka tidak berhasil? Mengapa kuasa yang dulu pernah mereka alami seakan tidak bekerja? Pertanyaan ini membawa mereka kepada Yesus, dan jawaban Yesus sangat jujur: “Karena kamu kurang percaya.”
Namun jawaban Yesus bukanlah bentuk penolakan atau penghukuman. Ia tidak mengatakan bahwa murid-murid itu tidak memiliki iman sama sekali. Ia justru mengarahkan mereka kepada esensi iman yang sejati. Yesus tidak berkata bahwa mereka membutuhkan iman yang besar, melainkan iman sebesar biji sesawi saja sudah cukup. Pernyataan ini membongkar cara berpikir manusia yang sering kali menyamakan iman dengan rasa percaya diri, keberanian, atau kemampuan untuk meyakinkan diri sendiri bahwa segala sesuatu akan berjalan baik.
Biji sesawi adalah simbol sesuatu yang sangat kecil, hampir tidak berarti, dan mudah diabaikan. Namun justru dari sesuatu yang kecil itu, kehidupan dapat bertumbuh dan menghasilkan sesuatu yang besar. Dengan menggunakan gambaran ini, Yesus menegaskan bahwa iman sejati tidak diukur dari ukuran atau intensitas emosionalnya, melainkan dari arah dan objek iman tersebut. Iman Kristen bukan soal seberapa kuat seseorang percaya, tetapi kepada siapa ia percaya.
Dalam kehidupan rohani, banyak orang merasa minder karena menganggap imannya terlalu kecil. Mereka membandingkan diri dengan orang lain yang tampak lebih yakin, lebih berani, dan lebih rohani. Akibatnya, mereka merasa tidak layak datang kepada Tuhan atau ragu melangkah dalam ketaatan. Padahal Alkitab dengan jujur menunjukkan bahwa Allah justru bekerja melalui orang-orang yang imannya tidak sempurna, bahkan sering kali rapuh. Allah tidak menunggu iman manusia menjadi besar untuk mulai bekerja. Ia bekerja melalui iman yang kecil, asalkan iman itu diserahkan sepenuhnya kepada-Nya.
Yesus kemudian berbicara tentang memindahkan gunung. Pernyataan ini sering dipahami secara keliru sebagai janji bahwa manusia dapat melakukan apa saja jika memiliki iman yang cukup. Namun dalam konteks iman Kristen, gunung bukanlah objek kekuasaan manusia, melainkan simbol dari rintangan besar yang terasa mustahil diatasi. Gunung itu bisa berupa masalah hidup, penderitaan yang berkepanjangan, ketakutan yang mendalam, dosa yang terus menghantui, atau situasi yang membuat seseorang merasa tidak berdaya.
Iman tidak menyangkal keberadaan gunung itu. Iman tidak menutup mata terhadap realitas penderitaan. Namun iman memilih untuk percaya bahwa Allah lebih besar daripada gunung tersebut. Ketika iman kecil diserahkan kepada Allah yang besar, maka Allah sendirilah yang bertindak sesuai dengan kehendak-Nya. Hasil yang besar bukanlah buah dari kekuatan iman manusia, melainkan dari kesetiaan dan kuasa Allah.
Sering kali manusia terjebak dalam pemikiran bahwa iman harus selalu tampak kuat dan meyakinkan. Ketika iman terasa lemah, seseorang cenderung merasa gagal secara rohani. Namun Yesus justru membalikkan logika itu. Ia mengajarkan bahwa iman yang kecil tidak membatalkan karya Allah. Yang menjadi persoalan bukanlah kecilnya iman, melainkan ketika iman itu disimpan untuk diri sendiri dan tidak diserahkan kepada Tuhan.
Iman yang kecil, ketika ditaati dan dijalani dalam kehidupan sehari-hari, justru menjadi sarana pertumbuhan rohani. Iman bertumbuh bukan melalui teori atau perasaan, tetapi melalui ketaatan. Setiap doa yang tetap dinaikkan meski belum ada jawaban, setiap langkah yang diambil meski hati gemetar, dan setiap keputusan untuk tetap setia meski tidak dimengerti orang lain, semuanya merupakan wujud iman yang hidup. Dari ketaatan kecil inilah Allah sering kali menghasilkan buah yang besar.
Yesus tidak pernah menuntut murid-murid-Nya untuk menjadi sempurna sebelum mengikuti-Nya. Ia memanggil mereka apa adanya, dengan segala keterbatasan dan keraguan mereka. Demikian pula hari ini, Tuhan tidak menuntut iman yang sempurna dari umat-Nya. Ia mengundang setiap orang untuk datang dengan iman sekecil apa pun, menyerahkannya ke dalam tangan-Nya, dan membiarkan Dia bekerja sesuai dengan rencana-Nya yang sempurna.
Matius 17:20 mengajarkan bahwa hasil besar dalam kehidupan iman bukanlah hasil dari usaha manusia semata, melainkan anugerah Allah yang bekerja melalui iman yang diserahkan. Iman kecil di tangan Allah yang besar bukanlah sesuatu yang remeh, melainkan saluran kuasa ilahi. Ketika iman kecil dipadukan dengan ketaatan dan kepercayaan kepada Allah yang setia, maka hal-hal yang tampak mustahil dapat diubahkan sesuai dengan kehendak-Nya.
Renungan ini mengajak setiap orang percaya untuk tidak meremehkan iman yang dimilikinya. Iman yang kecil bukanlah alasan untuk berhenti berharap, melainkan undangan untuk semakin bersandar kepada Allah. Dalam keterbatasan iman manusia, kemuliaan Allah justru dinyatakan. Dan dari iman yang kecil itu, Allah sanggup menghasilkan hasil yang besar bukan untuk meninggikan manusia, tetapi untuk memuliakan nama-Nya.
Doa Penutup
Tuhan
yang Mahabesar, kami datang kepada-Mu dengan iman yang sering kali kecil dan
rapuh. Kami menyadari bahwa kami tidak selalu kuat, tidak selalu yakin, dan
tidak selalu mengerti jalan-Mu. Namun hari ini kami percaya bahwa Engkau adalah
Allah yang setia dan berkuasa.
Terimalah
iman kami apa adanya, ya Tuhan. Pakailah iman yang kecil ini untuk menyatakan
kehendak-Mu yang besar. Ajari kami untuk terus percaya, taat, dan bersandar
penuh kepada-Mu, hingga melalui hidup kami, nama-Mu dimuliakan. Di dalam
nama Yesus Kristus, kami berdoa dan berharap. Amin.

Post a Comment for " "