Dinamika Jiwa Yang Tertekan Berdasarkan Mazmur 42:6
Dinamika Jiwa yang Tertekan Berdasarkan Mazmur 42:6 ~ Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” (Mazmur 42:6).
Mazmur 42 merupakan salah satu mazmur ratapan yang paling eksistensial dalam Kitab Mazmur. Pemazmur—yang dalam tradisi dikaitkan dengan bani Korah—tidak sedang berbicara kepada orang lain, melainkan kepada dirinya sendiri. Ia berdialog dengan jiwanya. Dalam teks Ibrani, kata yang diterjemahkan “tertekan” berasal dari kata שָׁחַח (shachach), yang berarti tertunduk, merendah, atau merosot. Sedangkan kata “gelisah” berasal dari הָמָה (hamah), yang berarti bergejolak, bergemuruh, atau ribut seperti ombak. Dengan demikian, Mazmur 42:6 menghadirkan gambaran jiwa yang tertunduk secara internal dan bergolak secara emosional.
Mazmur ini relevan bagi setiap orang percaya yang pernah mengalami kegelisahan batin, tekanan psikologis, atau bahkan depresi rohani. Namun pemazmur tidak berhenti pada pengakuan ketertekanan; ia mengarahkan jiwanya kepada pengharapan. Di sinilah dinamika itu terjadi—antara kejatuhan dan kebangkitan, antara keputusasaan dan pengharapan, antara kegelapan dan terang ilahi.
1. APA: Hakikat Jiwa yang
Tertekan
Pertanyaan pertama yang diajukan pemazmur adalah: “Mengapa engkau
tertekan, hai jiwaku?” Pertanyaan ini menunjukkan kesadaran reflektif. Ia tidak
menyangkal realitas emosinya, tetapi mengidentifikasinya. Jiwa yang tertekan
bukan sekadar perasaan sedih sesaat, melainkan kondisi batin yang mengalami
kelelahan spiritual, emosional, dan eksistensial.
Dalam antropologi Perjanjian Lama, kata “jiwa” diterjemahkan dari kata נֶפֶשׁ (nephesh), yang menunjuk pada totalitas keberadaan manusia, emosi, kehendak, dan kehidupan batin. Jadi ketika pemazmur berkata jiwanya tertekan, ia tidak berbicara tentang gangguan parsial, tetapi tentang keseluruhan eksistensinya yang terguncang.
Mazmur 42 secara keseluruhan menggambarkan kerinduan mendalam kepada Allah: “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah” (Mzm 42:2). Ironisnya, justru dalam kerinduan kepada Allah, ia mengalami kegelisahan. Ini menunjukkan bahwa orang yang rohani pun dapat mengalami tekanan jiwa.
Secara teologis, jiwa yang tertekan adalah jiwa yang mengalami disorientasi terhadap makna dan kehadiran Allah. Bukan berarti Allah tidak hadir, tetapi pengalaman subjektif manusia merasakan jarak ilahi. Ketertekanan jiwa adalah benturan antara iman objektif dan pengalaman subjektif.
Pemazmur juga menggunakan metafora air yang meluap (Mzm 42:8): “Samudera raya berpanggil-panggilan dengan deru air terjun-Mu.” Air yang deras melambangkan tekanan yang bertubi-tubi. Jiwa yang tertekan sering kali merasa seperti ditelan oleh arus yang tidak terkendali.
Namun menariknya, pemazmur tidak membungkam jiwanya. Ia berdialog
dengannya. Ini menunjukkan bahwa iman bukanlah penyangkalan emosi, melainkan
pengolahan emosi di hadapan Allah. Dalam tradisi spiritualitas biblika,
pengakuan adalah awal pemulihan.
Dengan demikian, jiwa yang tertekan adalah kondisi di mana keseluruhan batin manusia mengalami kelelahan, keguncangan, dan kehilangan orientasi, namun masih memiliki kesadaran untuk mencari Allah.
2. MENGAPA: Penyebab Jiwa
Menjadi Tertekan
Pertanyaan kedua adalah: mengapa jiwa menjadi tertekan?
Dalam konteks Mazmur 42, ada beberapa faktor yang dapat diidentifikasi.
a. Kerinduan yang Tidak Terpenuhi
Pemazmur merindukan Allah, tetapi ia berada jauh dari Bait Allah (Mzm
42:7). Ia mengenang masa lalu ketika ia memimpin rombongan ke rumah Allah
dengan sorak-sorai. Kini ia terasing. Kerinduan yang tidak terpenuhi sering kali menjadi
sumber tekanan jiwa. Dalam kehidupan orang percaya, jarak antara pengalaman
rohani masa lalu dan realitas sekarang dapat menimbulkan krisis iman. Ketika pengalaman spiritual tidak lagi terasa, jiwa
bisa masuk dalam fase kegelapan rohani.
b. Tekanan Eksternal
Mazmur 42:4 menyebut ejekan musuh: “Di mana Allahmu?” Tekanan sosial dan
pertanyaan sinis dapat mengguncang iman seseorang. Dalam konteks modern, tekanan
bisa berupa kegagalan pelayanan, konflik relasi, beban tanggung jawab, atau
tekanan akademik dan sosial. Ketertekanan jiwa sering kali merupakan kombinasi
antara faktor internal dan eksternal. Jiwa bukan ruang steril; ia dipengaruhi oleh situasi hidup.
Secara lebih mendalam, jiwa tertekan karena manusia hidup dalam dunia yang telah jatuh dalam dosa. Dalam teologi Alkitab, kondisi manusia pasca-kejatuhan (Kejadian 3) ditandai oleh keterasingan dari Allah, dari sesama, bahkan dari diri sendiri. Tekanan jiwa adalah bagian dari realitas eksistensial manusia berdosa yang merindukan pemulihan.
Namun penting untuk dicatat bahwa ketertekanan bukan selalu tanda kurang iman. Bahkan Yesus berkata, “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya” (Mat 26:38). Dalam bahasa Yunani, kata perilypos menunjukkan kesedihan yang mendalam. Dengan demikian, penderitaan batin tidak identik dengan kegagalan rohani.
Mazmur 42 menunjukkan bahwa ketertekanan bisa dialami oleh orang yang justru sangat mencintai Allah. Kerinduan yang mendalam sering kali membuat luka terasa lebih tajam. Karena itu, penyebab jiwa tertekan dapat dirangkum dalam tiga dimensi: Dimensi spiritual (kerinduan kepada Allah yang terasa jauh), Dimensi sosial (tekanan dan ejekan), Dimensi eksistensial (realitas dunia yang rusak oleh dosa).
3. BAGAIMANA: Jalan
Pemulihan Jiwa yang Tertekan
Puncak Mazmur 42:6 bukanlah keluhan, melainkan perintah kepada diri
sendiri: “Berharaplah kepada Allah!” Kata “berharaplah” berasal dari kata
Ibrani יָחַל (yachal), yang berarti menanti dengan penuh kepercayaan.
Ini bukan harapan pasif, tetapi sikap iman aktif yang memilih untuk percaya
meskipun emosi belum pulih. Pemazmur melakukan tiga langkah penting dalam
pemulihan jiwa.
a. Dialog Internal yang Ditebus oleh Iman
Ia berbicara kepada jiwanya. Dalam psikologi modern, ini disebut
self-talk. Namun dalam Mazmur 42, self-talk itu bersifat teosentris. Ia tidak
berkata, “Tenanglah karena kamu kuat,” tetapi “Berharaplah kepada Allah.”
Pemulihan dimulai ketika narasi batin diubah dari fokus diri kepada
fokus Allah.
b. Mengingat Karya Allah
Ia berkata, “Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya.” Ia mengingat bahwa
Allah adalah “penolongku dan Allahku.” Pengingatan (anamnesis) adalah tindakan
iman yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan melalui kesetiaan Allah. Dalam
tradisi biblika, mengingat bukan sekadar aktivitas mental, melainkan tindakan
spiritual yang menghidupkan kembali pengharapan.
Mazmur 42 tidak langsung menghapus kesedihan, tetapi mengarahkan kepada
masa depan: “Aku akan bersyukur lagi.” Ini adalah bahasa eskatologis—keyakinan
bahwa keadaan sekarang bukanlah akhir.
Dalam terang Perjanjian Baru, pengharapan itu menemukan puncaknya dalam Kristus. Salib menunjukkan bahwa Allah hadir dalam penderitaan, dan kebangkitan menunjukkan bahwa penderitaan bukan kata terakhir. Dengan demikian, pemulihan jiwa terjadi bukan karena situasi berubah seketika, tetapi karena orientasi iman berubah. Jiwa mungkin masih lelah, tetapi sekarang ia memiliki arah.
Mazmur 42:6 mengajarkan bahwa dinamika jiwa yang tertekan adalah
perjalanan antara keluhan dan pengharapan. Jiwa yang tertunduk dapat bangkit
ketika ia diarahkan kembali kepada Allah.
Ketertekanan bukan akhir cerita. Justru dalam dialog dengan jiwa, iman
dimurnikan. Allah tidak menolak jiwa yang gelisah; Ia menyambutnya.
Pada akhirnya, dinamika itu bergerak dari: Pengakuan → Refleksi →
Pengharapan. Tekanan → Dialog → Pemulihan. Kegelapan → Iman → Syukur kembali.
Maka jika hari ini jiwa terasa tertekan dan gelisah, Mazmur 42:6 mengundang kita untuk berbicara kepada diri sendiri dalam terang firman Tuhan: “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku? Berharaplah kepada Allah.” Sebab Allah yang menjadi penolong pemazmur adalah Allah yang sama yang menyertai kita hari ini. Jiwa boleh tertunduk, tetapi pengharapan dalam Allah tidak pernah runtuh.
Post a Comment for "Dinamika Jiwa Yang Tertekan Berdasarkan Mazmur 42:6"