Pemimpin Seperti Apa Yang Dibutuhkan Gereja Kini Dan Nanti ? - Khotbah Kristen
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pemimpin Seperti Apa Yang Dibutuhkan Gereja Kini Dan Nanti ?

PEMIMPIN SEPERTI APA YANG DIBUTUHKAN GEREJA KINI DAN NANTI? ~ Di tengah dunia yang berubah makin cepat seperti kereta peluru—mulai dari tantangan digital, pergumulan moral, hingga krisis kepercayaan—gereja membutuhkan pemimpin yang bukan hanya ada di mimbar, tapi hadir di setiap sisi kehidupan umat. Kepemimpinan gerejawi tak lagi soal siapa duduk di kursi paling depan, tetapi siapa yang berani berjalan paling depan membawa gereja memasuki medan baru.

Pertanyaannya: Pemimpin seperti apa yang sesungguhnya dibutuhkan gereja sekarang, dan seperti apa pemimpin yang sanggup membawa gereja tetap relevan di masa depan? Artikel ini akan menggali jawaban itu melalui tiga sorotan utama: kebutuhan saat ini, tuntutan zaman, dan visi masa depan.

Satu, Pemimpin yang dibutuhkan gereja saat ini: mengakar pada Firman & melayani dengan hati

“Tetapi barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Matius 20:26)

Gereja masa kini membutuhkan pemimpin yang berakar kuat pada kebenaran Alkitab sekaligus rendah hati dalam merangkul jemaat. Tantangan dunia modern—gerakan liberalisasi, gaya hidup individualistis, dan teknologi media sosial—menuntut pemimpin yang bukan hanya pandai berkata-kata, tetapi juga rela “turun dari mimbar” dan menyentuh hati jemaat dengan pelayanan konkrit.

John C. Maxwell, pakar kepemimpinan global, pernah berkata, “People don’t care how much you know until they know how much you care” — orang tak peduli seberapa pintar engkau sampai mereka merasakan seberapa peduli engkau. Kutipan ini menyentil gereja hari ini yang kadang dipenuhi tokoh pintar berkotbah, tetapi tak lagi menyapa umatnya yang terluka. Gereja memerlukan pemimpin yang inkarnasional: dekat, hangat, dan siap menggendong domba-dombanya ketika terluka.

Stephen Tong, hamba Tuhan senior bangsa ini, berkata bahwa banyak gereja kehilangan arah karena “pemimpin hanya memimpin struktur, bukan menggembalakan kehidupan”. Ucapan ini menjadi alarm agar kepemimpinan gerejawi kembali berorientasi pada pastoral presence. Dalam dunia yang makin sepi figur teladan, pemimpin gereja harus menjadi role model hidup: disiplin rohani, integritas tanpa kompromi, sederhana, dan transparan dalam mengelola keuangan dan keputusan.

Yakob Tomatala, pakar manajemen gereja Indonesia, mengingatkan, “Gereja membutuhkan pemimpin yang bukan hanya bisa mengelola organisasi, tetapi membentuk karakter Kristus dalam umat.” Dengan kata lain, pemimpin hari ini harus lebih daripada sekadar administrator—ia adalah pendidik iman (faith educator).

Kesimpulan bagian ini: gereja masa kini merindukan pemimpin yang: Berakar pada Firman Tuhan (Bible-based), Berhati gembala (shepherding heart), Menjadi teladan kehidupan yang nyata, Peduli dan hadir dalam pergumulan umat.

Dua, Pemimpin yang mampu menjawab tantangan zaman: inovatif, strategis, dan berani berubah

“Karena dengan tidak berobah-Nya Allah, maka kamu tidak habis lenyap” (Maleakhi 3:6)

Tantangan zaman bergerak dengan ritme disrupsi: teknologi AI, era post-truth, budaya cancel, serta generasi muda yang kritis terhadap otoritas. Gereja membutuhkan pemimpin yang mampu menerjemahkan Injil ke dalam bahasa zaman tanpa mengkompromikan isi kebenarannya.

John C. Maxwell menekankan, “A leader is one who knows the way, goes the way, and shows the way.” Artinya, pemimpin di era ini harus visioner dan tak boleh takut berjalan di jalur baru—termasuk membawa gereja ke dunia digital, melahirkan komunitas daring, dan menjawab isu-isu kontemporer seperti mental health, sex education, dan panggilan misi urban.

Stephen Tong mengkritik keras pemimpin yang “terlalu nyaman di zona liturgi lama dan enggan membuka pintu pembaharuan”. Menurutnya, Injil harus bekerja di jantung kebudayaan, bukan disimpan di menara gading gereja. Karena itu, pemimpin gereja zaman ini mesti memiliki: Pikiran teologis yang mendalam (deep thinking), Keberanian strategis membawa transformasi, Kerendahan hati menghadapi perbedaan generasi.

Yakob Tomatala menambahkan, “Pemimpin gereja yang efektif adalah mereka yang bisa membaca tanda zaman dan membangun strategi misi sesuai konteks kulturalnya.” Ini berarti pemimpin harus mampu bekerja lintas generasi—menerima ide-ide kreatif anak muda tanpa kehilangan kearifan orang tua.

Kesimpulan bagian ini: pemimpin masa kini harus: Berani masuk dalam inovasi (digitalisasi, media, model pelayanan baru), Strategis (leading change dengan perencanaan), Menjaga esensi sekaligus fleksibel terhadap metode, Menjadi jembatan lintas generasi.

Tiga, Pemimpin yang mempersiapkan gereja masa depan: bertumbuh, melipatgandakan, dan meninggalkan warisan

“Apa yang telah engkau dengar dari padaku... percayakanlah kepada orang-orang yang dapat dipercaya yang juga cakap mengajar orang lain” (2 Timotius 2:2)

Gereja masa depan tidak hanya membutuhkan satu pemimpin hebat, melainkan banyak pemimpin baru yang dilahirkan. Di sinilah letak pentingnya legacy leadership. Pemimpin sejati bukan yang pencapaiannya diakui selama ia hidup, tetapi yang warisannya terus hidup setelah ia tiada.

John C. Maxwell menegaskan, “Kepemimpinan sejati diukur bukan dari seberapa banyak pengikutmu, tetapi seberapa banyak pemimpin yang kamu hasilkan.” Maka, gereja perlu pemimpin yang fokus pada mentoring, discipleship, dan succession planning. Pelayanan bukan tentang mempertahankan posisi, melainkan melahirkan generasi baru yang lebih unggul.

Stephen Tong, dalam banyak seminarnya, menyuarakan bahwa gereja harus “mendidik pemuda menjadi pemimpin, bukan hanya pemain musik dan pelayan liturgi.” Artinya, masa depan gereja bergantung pada investasi rohani dan intelektual kepada generasi muda. Banyak gereja gagal karena transisi kepemimpinan berjalan tergesa, tanpa visi jangka panjang.

Yakob Tomatala menambah: “Pemimpin besar meninggalkan budaya organisasi yang membawa gereja ke arah pembelajaran terus-menerus (learning church).” Tidak cukup hanya mengganti orang, gereja perlu budaya: budaya integritas, budaya kerja keras, budaya doa, budaya keilmuan. Budaya itu dibangun oleh pemimpin hari ini untuk gereja masa depan.

Kesimpulan bagian ini: pemimpin masa depan gereja harus: Fokus pada kaderisasi (membentuk pemimpin baru), Menciptakan kultur gereja yang sehat dan bertumbuh, Mewariskan visi dan nilai, bukan sekadar program.

Mari bangkitkan pemimpin relevan, radikal, dan rohani. Menjadi pemimpin gereja di abad ke-21 bukan sekadar kemampuan berkhotbah dan memimpin rapat. Ia ditantang untuk mengakar dalam Firman, paham konteks, berani berinovasi, dan membangun generasi penerus. Gereja membutuhkan pemimpin seperti Musa yang berani menghadapi Firaun, seperti Ezra yang membangun kembali iman umat, seperti Paulus yang menjawab konteks dunia Yunani-Romawi, dan seperti Yesus sendiri—yang menjadi Immanuel: Allah yang menyertai.

Mari gereja mencetak pemimpin yang relevan terhadap realitas, radikal terhadap kebenaran, dan rohani dalam kedalaman. Jika itu terjadi, maka gereja bukan hanya bertahan hari ini, melainkan akan berdiri tegak hingga Yesus datang kembali.

Post a Comment for "Pemimpin Seperti Apa Yang Dibutuhkan Gereja Kini Dan Nanti ?"